Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 123 Karma Itu Ada


Mendengar pertanyaan dari Adjie, Nadine dibuat bingung sendiri. Dia tidak mungkin memilih salah satu dari mereka berdua. Apalagi jika harus melepaskan keduanya. Baginya, tidak mungkin jika harus melepaskan salah satu ATM berjalannya.


"Mas, kesehatan aku sedang tidak baik. Aku hanya butuh dukungan dari orang-orang yang menyayangi aku," ucap Nadine sendu.


Adjie dan Dion yang melihat wajah melas Nadine, menjadi tidak tega jika harus menekan Nadine untuk memilih salah satu dari mereka. Akhirnya kedua orang dewasa itu memilih mengalah dan tidak mempermasalahkan soal mereka yang sudah diduakan oleh Nadine.


"Sudahlah, jangan banyak pikiran! Kamu fokuskan dengan kesehatan kamu. Soal ini, kita bisa membicarakannya nanti," ucap Dion.


"Oke kalau begitu, Om Dion jaga saja Nadine. Aku masih banyak pekerjaan." Adjie memilih pergi dari ruang perawatan Nadine.


Cih! Kamu pikir hanya kamu saja yang bisa bermain-main. Daripada aku harus berbagi dengan lelaki lain, lebih baik aku memilih artis pendatang baru yang lebih fresh. Mereka pasti tidak akan menolak dengan pesonaku, batin Adjie.


Nadine hanya melihat punggung kokoh itu dengan nanar. Lelaki yang telah mampu membuatnya mengkhianati pernikahannya, kini berlalu pergi meninggalkan dia.


Aku harap Om Dion bisa memenuhi semua keinginan aku. Meskipun Adjie memilih pergi, batin Nadine.


...***...


Beberapa hari kemudian, Dave dan Sevia datang menjenguk Nyonya Elisa. Meskipun awalnya Dave merasa enggan untuk berkunjung ke rumah tahanan, tetapi Sevia selalu mengingatkan suaminya, seburuk apapun orang tua kita, tetapi mereka yang sudah menjadi perantara kita terlahir ke dunia ini.


"Nenek, bagaimana keadaannya?" tanya Sevia saat mereka sudah berada di rumah tahanan khusus wanita.


"Nenek baik. Terima kasih sudah berkunjung ke sini," ucap Elisa. "Dave bagaimanapun urusan perusahaan? Apa Dion berulah?" lanjutnya.


"Tidak, Nek. Dia tidak pernah datang ke perusahaan lagi setelah hari itu," jawab Dave.


"Terima kasih, telah menyingkirkan parasit. Dave, tidak apa kalau kamu tidak ingin memiliki perusahaan itu.Tapi nenek minta, tolong jangan sampai perusahaan itu bangkrut. Nenek membangunnya karena untuk mengenang mamamu." Elisa menghela napas sejenak. "Nenek selalu merasa kalau mama kamu masih hidup setiap kali melihat papan nama perusahaan itu," lanjutnya.


"Baik, Nek. Aku akan mempertimbangkannya," ucap Dave. "Maaf, Nek! Aku tidak bisa lama. Ada meeting di kantor pusat setelah jam makan siang."


"Iya tidak apa. Baik-baik ya, Dave!"


Setelah Sevia dan Dave berpamitan, mereka pun langsung pulang menuju ke rumah yang ada di Jakarta. Devanya dan Bi Lina menunggunya di sana. Begitupun dengan Rani dan Harry yang pulang ke rumahnya.


Melihat Dave yang sepertinya sedang banyak pikiran, Sevia pun mencoba untuk menghibur suaminya. Dia sengaja mengajak Dave untuk makan siang di mall, 'hitung-hitung kencan ala anak muda,' pikirnya.


"Dave, kita ke makan di mall dulu yuk! Aku ingin jalan-jalan," ajak Sevia.


"Via, aku ada meeting loh jam satu siang. Kenapa mengajak jalan-jalan jam segini," tanya Dave heran.


"Ini masih jam sebelas, Dave. Kita masih bisa main sambil main selama satu jam. Udah lama kita tidak jalan berdua," ucap Sevia.


"Baiklah, tapi kalau nanti aku telat, kamu harus ikut ke kantor pusat dan menemani aku meeting."


"Apa Dave? Kamu mengajak aku ke kantor pusat? Tentu saja aku mau, aku penasaran seperti apa kantor pusat AP. Pabriknya saja keren banget apalagi kantor pusatnya." Sevia langsung sumringah mendapat ancaman dari suaminya.


Aku pikir dia akan menolak ternyata malah senang. Sudahlah! Sekali-kali mengajak istri mungkin tidak akan jadi masalah, batin Dave.


Apa Dave tidak akan merasa malu membawa aku ke sana. Pasti di kantor pusat, ceweknya cantik-cantik seksih bahenol, sedangkan aku? Apa aku tidak akan malu-maluin ikut Dave ke sana? batin Sevia.


Lamunan keduanya buyar saat mobil sudah terparkir rapi di parkiran mall. Sevia dan Dave pun bergegas untuk turun dari mobil. Dave langsung menggenggam tangan Sevia saat keduanya sudah sama-sama keluar dari mobil.


"Kalau anak muda berkencan, mereka saling menggenggam tangan. Ayo kita kencan dadakan!"


"Dave, antar aku beli kado dulu. Besok Rani ulang tahun, aku ingin memberinya pesta kejutan."


"Baiklah, kita kasih perhiasan saja. Bukankah perempuan sangat suka perhiasan?"


"Boleh, Dave. Kamu ternyata pengertian sekali," puji Sevia.


"Via, kenapa kamu baru sadar kalau aku pengertian. Bukankah sudah lama aku memang pengertian?"


"Tunggu Dave, tunggu!" Sevia langsung menghentikan langkahnya di depan sebuah toko elektronik. Dia melihat berita infotainment yang ada di salah satu televisi yang dipajang di sana.


"Lihat, Dave! Bukankah itu Nadine? Dia dibatalkan kontraknya oleh Sun Film. Padahal dia kan pemeran utama di film terbarunya itu," cerocos Sevia.


"Via, kamu suka nonton filmnya Nadine?" tanya Dave heran.


"Aku hanya mencari tahu, hal apa yang Harry sukai dari Nadine. Agar Rani bisa mengikutinya dan membuat Harry tidak bisa berpaling dari Rani," jelas Sevia.


"Via, kalau seperti itu bukannya membuat Harry melupakan Nadine tapi semakin melihat Nadine dari sosok Rani. Apa Rani tau apa yang kamu lakukan?"


"Tidak, aku hanya memberitahu apa saja yang harus dia lakukan agar Harry bisa tergila-gila padanya."


Pantas saja, Harry semakin lengket dengan Rani. Aku harap Harry melihat Rani karena memang dia mulai mencintai Rani bukan karena melihat sosok Nadine dari diri Rani, batin Dave.


Saat sampai di food court, Dave dan Sevia pun mencari tempat di pinggir jendela besar agar bisa melihat jalanan dari atas mall. Mereka makan begitu lahap dengan sesekali saling menyuapi. Sampai akhirnya, mata Dave tanpa sengaja melihat Adjie sedang bersama dengan seorang gadis cantik.


Bukankah itu Adjie? Sutradara yang dikatakan oleh Harry menjadi pacarnya Nadine? Sepertinya seorang playboy akan tetap menjadi playboy. Setelah dia menghancurkan pernikahan Harry dan Nadine, sekarang dia bersama dengan gadis lain. Nadine, selamat kamu sudah dicampakkan.


Dave tersenyum miring saat mengingat Nadine. Apalagi saat dia teringat dengan apa yang Harry katakan tentang Nadine. Entah kenapa dia merasa sangat puas saat tahu Nadine dikhianati oleh Adjie.


"Dave, kamu kenapa? Aku merasa takut kamu tersenyum seperti itu," tanya Sevia.


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Sepertinya memang benar kata orang kalau karma itu ada."


"Maksud kamu, Dave?


"Kamu lihat saja, sebentar lagi akan ada pertunjukan di sini. Aku sudah mengirim foto dan video adegan syuting seorang sutradara."


"Sutradara? Maksud kamu? Memang ada sutradara di sini?"


"Ada, makanlah! Agar tidak keseleo saat melihatnya."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...


Sambil nunggu Brondong update, kepoin juga yuk karya Author keren satu ini