Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 53 Berdamai Dengan Keadaan


Lain Davin lain Devanya. Gadis cantik itu sedang sibuk memilih gaun untuk menghadiri anniversary perusahaan e-commerce milik Orion. Dadanya terus berdebar setiap kali membayangkan pertemuannya dengan Orion. Sungguh, Devanya sangat merindukan laki-laki yang mampu membuat hidupnya seperti rollercoaster.


"Deva, sudah siap belum?" tanya Diandra dengan dress selutut yang semakin membuatnya nampak cantik dan imut-imut.


"Sedikit lagi. Bagaimana, apa aku sudah terlihat cantik?" tanya Devanya.


"Kamu selalu cantik bule Cikarang, sampai kedua pangeran Keluarga Putra memperebutkannya" ucap Diandra.


"Kenapa aku dibilang bule Cikarang? Aku kan orang sini asli," kesal Devanya.


Entah kenapa, dia merasa tidak suka jika ada orang memanggilnya bule. Apalagi membahas soal bola matanya yang berwarna biru. Padahal, banyak orang yang mengaguminya.


"Iya deh iya. Ayo berangkat! Kamu tunggu saja di mobil, aku pamit dulu sama mama." suruh Diandra.


"Siap adik ipar," goda Devanya yang sukses membuat Diandra membulatkan bola matanya. Dia khawatir kalau Devanya tahu tentang rencananya dengan Davin.


Setelah sampai di ruang tengah, kedua sahabat itu berpisah. Devanya yang langsung ke depan menemui kedua adiknya, sedangkan Diandra berbelok menuju ke kamar Rani. Saat sampai di kamar Rani, nampak wanita yang sangat dicintainya itu sedang latihan menggerakkan kakinya sendiri.


"Mah, Dian berangkat dulu. Mama baik-baik di rumah ya, Om dan Tante Via belum kembali dari liburannya," ucap Diandra.


"Iya, sayang. Mama mau langsung tidur saja. Kamu jangan pulang terlalu larut ya," pesan Rani.


"Iya, Mah." Diandra pun langsung mencium tangan mamanya sebelum dia pergi dari sana.


Saat sampai di depan rumah, terlihat Devan yang sedang menyender di kap mobil. Davin sedang mengobrol dengan Devanya. Diandra pun segera menghampiri tiga orang bersaudara itu.


"Aku duduk di mana?" tanya Diandra.


"Sini saja sama aku. Hari ini kita jadi tuan putrinya sedangkan mereka para pengawal setia," ucap Devanya dengan tersenyum lebar.


"Bang Ano kho gak jemput calon istrinya?" tanya Devan.


"Orion juga kenapa gak jemput?" Davin pun ikut bertanya.


"Apa mereka sudah bosan sama kakak sehingga mencari perempuan lain agar tidak rebutan?" tebak Devan.


"Sotoy kamu, doain kayak gitu." semprot Davin.


"Mungkin benar apa yang kamu bilang, Van. Kakak serakah jadi kehilangan dua-duanya." Wajah Devanya berubah jadi sendu.


"Nggaklah! Jangan dengerin omongan mereka. Bang Ano mungkin sibuk. Kamu tahu sendiri kalau dia work holic. Kalau Ion pasti dia sibuk menyambut tamu penting," ucap Diandra menenangkan.


Mungkin benar apa yang Diandra katakan, tapi aku merasa apa yang dikatakan oleh Devan juga ada benarnya. Siap-siap hati jika kamu harus jadi orang yang terbuang, batin Devanya.


Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia tidak berani membawa mobil dengan kecepatan tinggi saat bersama dengan kakak perempuannya. Devan khawatir jiwa liar Devanya bangkit dari mati surinya.


"Beneran di sini, Van?" tanya Devanya memastikan saat mobil Devan sudah memasuki parkiran sebuah hotel bintang lima.


"Kakak, baca undangannya gak sih?" tanya Devan.


"Baca, tapi gak baca tempatnya di mana." Devanya langsung cengengesan dengan kebodohannya sendiri.


"Kak Vanya tuh, matanya aja yang mirip papa tapi kepintarannya gak ngikut papa," ledek Devan.


"Jangan gitu sama kakak sendiri. Kasian kan Kak Deva. Karena fokus menurunkan mata dan kulit papa sampai kelupaan pintarnya papa gak diturunin," timpal Davin.


"Kalian sama saja, kenapa harus punya adik modelan begini." Devanya langsung cemberut mendapat ledekan dari adik-adiknya.


Memang benar apa yang dikatakan kedua adiknya. Hanya dia yang tidak begitu mahir dalam bidang IT. Meskipun wajah dan matanya memang sangat mirip denagn Dave.


"Davin, ngomong yang bener. Aku gak suka kamu ledekin sahabat aku. Cepat minta maaf!" suruh Diandra.


"Maaf ya Kakak cantik!" Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Davin langsung menurut dengan apa yang dikatakan oleh Diandra.


"Iya!" ketus Devanya.


Mungkin ini yang Ion rasakan saat melihat aku bersama dengan Bang Ano. Hubungan kita memang tidak ada harapan tapi saat melihatmu bersama dengan gadis lain, hatiku terasa terbakar, batin Devanya.


"Hai Bro, selamat ya! Semoga usahanya makin maju," ucap Devan saat mereka memberikan ucapan selamat pada Orion.


"Thanks, Bro. Ayo nikmati pestanya!" sahut Orion.


"Selamat ya Ion. Semoga makin sukses," ucap Diandra.


"Thanks Dian."


"Selamat Bro, sukses selalu." Davin pun tidak ketinggalan memberikan selamat pada Orion.


Saat giliran Devanya yang akan memberinya selamat, Orion memandang lekat gadis yang dicintainya itu. Sesaat mereka saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sampai akhirnya, Devanya memutuskan pandangannya saat melihat gadis yang ada di samping Orion menggoyang-goyangkan tangan pemuda tampan itu.


Devanya menghela napas pelan sebelum dia berbicara dengan Orion. "Selamat ya Ion. Sukses selalu."


"Makasih!" Orion langsung menarik Devanya ke dalam pelukannya lalu berbisik, "I Miss you."


"Ion lepasin!" suruh gadis yang bersama dengan Orion.


"Luna, kenalin ini semua sahabat aku." Orion langsung memperkenalkan Devanya dan yang lainnya pada gadis yang sedari tadi bergelayut di tangannya.


"Hai, aku Luna calon tunangan Orion. Semoga kita bisa berteman baik," ucap Luna dengan tersenyum manis. Namun saat dia bertatapan dengan Devanya, gadis cantik itu langsung mendelik.


"Hai Luna, aku Devan."


"Davin."


"Aku Diandra."


"Dev ...."


"Aku sudah tahu nama kamu," potong Luna dengan ketus.


"Luna, jaga sikap!" sentak Orion.


"Apaan sih Ion? Udah nyakitin kamu juga, masih saja dibela," ketus Luna.


"Maaf, aku ke sana dulu!" pamit Devanya.


Gadis bermata biru itu langsung pergi meninggalkan adik dan sahabatnya. Dia menghampiri Icha, yang ternyata sudah datang dari tadi bersama dengan Al, Zee dan Malvin. Sementara Orion hanya menatap kepergian gadis cantik yang mampu memporak porandakan hatinya.


"Nenek, sudah lama di sini?" tanya Devanya dengan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. Bergantian dengan Al, Zee dan Malvin.


"Lumayan, sama siapa ke sini?" tanya Icha celingukan.


"Biasa, Nek. Bocil rese," jawab Devanya. "Tante apa kabar?" lanjutnya.


"Alhamdulillah, baik. Vanya apa kabar juga?" Zee pun balik bertanya pada Devanya.


"Alhamdulillah, baik juga Tan."


"Selamat ya atas pertunangan kamu dengan Ano. Tante pikir, kamu mau jadi menantu Tante tapi ternyata bukan jodohnya." Zee tersenyum manis pada putri saudara angkatnya itu.


Sementara Devanya hanya tersenyum meskipun hatinya terasa perih. Cinta itu ternyata masih ada untuk laki-laki yang menyebalkan tetapi selalu dia rindukan. Entah apa yang akan terjadi esok hari, dia hanya terus berusaha untuk berdamai dengan keadaan.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih....