
Seperti yang sudah dijanjikan oleh Reina, kini Sevia dan sahabatnya sang makan di angkringan dengan Adam yang menjadi bodyguard mereka. Nampak Adam yang terus menerus mencuri pandang pada Sevia. Entah kenapa, dia merasa senang saat melihat Sevia dan adiknya terus bercanda.
Kayaknya senang ya kalau punya istri klop banget sama saudara kita, batin Adam.
Melihat kakaknya yang bengong melihat Sevia, membuat Reina langsung menepuk tangan Adam. Sampai si empu tangan terperanjat kaget. Namun, Reina justru mentertawakan apa yang kakaknya lakukan.
"Bang, kita ke sini untuk makan. Ini malah bengong, Sevia memang manis tapi dia sudah ada yang punya," tegur Reina.
"Sok tahu kamu, Dek!" Adam menoyor kepala adiknya pelan.
"Ikh, Bang Adam kekerasan dalam persaudaraan nih," gerutu Reina seraya mengusap kepalanya.
"Enak ya Rei punya Kakak, ada teman untuk berbagi dan berdebat." Sevia tersenyum melihat keakraban Reina dan kakaknya. Sejujurnya dia merasa iri karena tidak memiliki saudara kandung.
"Enak sih, Via. Aku bisa minta uang ke Bang Adam sama Kak Melati," ucap Reina.
"Aku juga pengen punya kakak, tapi sayang aku anak tunggal," ucap Sevia sendu.
"Ya udah, Via. Kamu jadi kakak ipar aku saja biar punya Kakak sekaligus adik ipar karena Bang Adam anak tengah. Lagian Bang Adam masih jomblo, dia gak laku di pulau kecil." Reina mencibir kakaknya yang betah menjomblo setelah ditinggal nikah sang kekasih karena dijodohkan oleh orang tuanya.
"Itu tidak mungkin, Rei. Aku sudah menikah!" sahut Sevia.
Degh!
Hati Adam seperti dihantam batu besar Dia merasa sesak dan nyeri. Adam tidak menyangka gadis di depannya ternyata sudah menikah. Dia pun hanya tersenyum hambar untuk menutupi kekecewaannya.
"Rei sudah malam, sepertinya aku harus pulang. Besok aku harus kerja pagi," ucap Sevia lagi memecah keheningan kakak beradik itu.
"Ya sudah, yuk Bang kita juga pulang!" ajak Reina pada kakaknya.
"Kalian tunggu saja di parkiran, Kakak ke kasir dulu." Adam langsung beranjak menuju kasir untuk membayar semua pesanannya.
Sementara Sevia dan Reina langsung menuju parkiran seperti apa yang dikatakan oleh Adam. Namun, sepertinya dia sedang kurang beruntung karena harus berpapasan dengan Ines dan teman-temannya.
"Wow, ternyata ketemu dengan istri simpanan bule. Pasti lobang sumurnya sudah longgar, guys. Kasihan sekali, nanti kalau sudah ditinggalkan gak bakal laku sama cowok pribumi karena punya dia sudah gak seret lagi." hina Ines dengan cekikikan bersama teman-temannya.
"Gak papa, namanya juga sudah sudah dipake pastilah longgar sedikit. Asal jangan satu lobang ramu-rame saja, nanti pusing nentuin siapa bapaknya," sindir Sevia.
"Kurang ajar kamu! Maksud kamu apa nuduh aku kayak gitu?" Ines menjadi emosi karena merasa tersindir dengan apa yang dikatakan oleh Sevia
"Aku gak maksud apa-apa. Lagian kamu gak perlu marah kalau memang kamu tidak merasa seperti itu," ucap Sevia dengan santainya. Berbeda dengan Ines yang seperti kebakaran jenggot
"Belagu banget anak kampung, dasar anak penjudi!" umpat Ines.
Plak
Satu tamparan sukses mendarat di pipi mulus Ines. Meskipun sebenarnya dia tidak ingin berbuat kasar pada mantan sahabatnya, tetapi dia tidak terima Ines membawa bapaknya dalam permasalahan mereka.
"Aku selama ini diam, meskipun kamu dengan terang-terangan merebut kekasihku. Aku pikir kamu sahabatku, tapi ternyata hanya musuh dalam selimut." Sevia sangat geram dengan apa yang dikatakan oleh mantan sahabatnya.
"Mbak, jangan buat keributan di tempat umum! Kalau tidak mau saya laporkan ke polisi karena sudah mengganggu," ancam Adam.
"Siapa kamu? Jangan ikut campur deh!" Ines bertambah geram karena niatnya untuk membalas Sevia tidak terwujud.
"Dek, ajak temanmu masuk ke mobil!" suruh Adam seraya membuka kunci mobil dengan remote.
Tanpa bicara lagi, Reina langsung masuk ke dalam mobil bersama dengan Sevia. Dia kaget dengan apa yang dilihatnya. Reina tidak menyangka kalau Sevia akan berani menampar perempuan yang tadi menghinanya.
"Pecundang kamu Sevia! Dasar anak kampung tidak tahu diuntung! Jadi istri simpanan saja belagu!" maki Ines saat melihat Sevia masuk ke dalam mobil bersama temannya.
Tidak ingin meladeni perempuan yang menurut Adam merepotkan, dia pun segera naik ke dalam mobil. Untung saja tukang parkir segera datang sehingga dia menyuruh Ines untuk menyingkir agar tidak menghalangi jalan mobil.
Sevia bungkam selama perjalanan menuju ke apartemennya. Reina pun merasa sungkan untuk menanyakan kebenaran dari ucapan Ines. Namun, rasa penasaran Adam, membuat pria tampan itu bibirnya terasa gatal ingin bertanya.
"Sevia, maaf kalau aku ikut campur! Apa kamu menikah dengan Mr. Dave?" tanya Adam dengan melihat Sevia dari spion mobil.
"Iya, Bang!" jawab Sevia yang kepalang tanggung karena rahasianya sudah dibeberkan oleh Ines.
"Yang waktu itu jemput kamu?" tanya Reina memastikan.
"Iya, Rei! Dia suamiku," jawab Sevia dengan menundukkan kepalanya.
"Wah Bang, suaminya Via ganteng banget. Dia pernah menjemput ke kampus ya, Via. Anak-anak sampai pada bergosip karena mengira bule tampan itu mahasiswa baru," terang Reina yang berusaha memecah kecanggungan.
Tidak berapa lama kemudian, mobil Adam sudah sampai di depan apartemen Dave. Sevia pun langsung berpamitan dan mengucapkan terima kasih atas traktirannya. Dengan langkah gontai, dia pun berjalan menuju apartemennya. Namun, saat baru sampai di lobby, dia dikagetkan dengan kehadiran Dave yang sudah berdiri di depannya dengan tangan dimasukan ke dalam saku celananya.
"Dave," lirih Sevia.
"Sudah jam sepuluh malam baru sampai ke apartemen. Apa makan malamnya enak?" tangan Dave dengan terus menelisik raut wajah istrinya yang terlihat sendu.
"Maaf, tadi Reina mengajak aku untuk makan malam bersama kakaknya," ucap Sevia.
"Apa dia mencoba menjodohkannya kamu dengan kakaknya?" tanya Dave seakan seorang detektif yang sedang interogasi.
"Tidak! Dave aku lelah. Bisakah kita ke kamar dulu?" Sevia langsung berlalu pergi. Hatinya benar-benar merasa tidak karuan dengan semua yang dikatakan oleh Ines.
Dia kenapa? Bukannya senang melihat aku pulang cepat. Ini malah seperti orang sedih. Apa dia tidak mengharapkan kedatangan aku? Atau sebenarnya dia berencana untuk bermain dengan lelaki lain di belakang aku? Jangan harap Sevia! Kamu hanya milikku dan aku tidak akan melepaskan kamu, batin Dave.
Dave terus bergelut dengan pikirannya seraya menyusul istrinya yang sudah berlalu menuju ke lift. Saat sudah bisa menyusul Sevia yang sedang menunggu pintu lift terbuka, Dave pun merangkul pundak istrinya.
"Kamu kenapa, Via? Apa kamu marah karena Kattie ikut ke acara nikahan Harry? Kamu tenang saja, sekarang dia sedang bersenang-senang dengan Bram."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...