Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 153 Pulang Ke Tanah Air


Kini kondisi sudah membaik, wajahnya pun sudah terlihat segar kembali tidak seperti saat baru lahiran. Hari ini Dave dan Sevia bertolak pulang ke tanah air setelah selama empat puluh hari berada di timur tengah.


Kirana dan Kinara seolah enggan berpisah, mereka duduk di kursi yang sama sedangkan Tuan Hamish di kursi yang lain. Sementara Dave dan Sevia terus mengawasi bayi kembarnya.


Setelah mengudara selama sembilan jam, akhirnya jet pribadi milik Tuan Hamish mendarat dengan sukses. Pria paruh baya itu merasa lega karena akhirnya dia bisa kembali ke kehidupannya yang semula.


Syukurlah, Kakak ipar ingin tinggal bersama putrinya, jadi aku ada waktu untuk berdua dengan istriku. Selama dia tinggal bersama, Kirana seolah lupa dengan kewajibannya. Dia terlalu sibuk dengan kakaknya, batin Tuan Hamish.


"Sayang, ayo kita turun!" ajak Kirana pada suaminya yang sedang bengong seraya menatap ke luar jendela.


"Sudah sampai, ya?" tanya Tuan Hamish.


"Iya, lihat Sevia dan yang lainnya sudah turun!" kata Kirana.


Tuan Hamish pun segera mengikuti istrinya untuk turun diikuti oleh Kinara dari belakang. Namun, saat mereka baru melongokkan kepalanya ke luar, Tuan Hamish begitu kaget saat melihat penyambutan yang meriah.


Tidak berbeda dengan Tuan Hamish, Dave pun sempat kaget saat sahabatnya menyambut kedatangan mereka. Apalagi nampak Rani dan Pak Rudi membawa kalung yang terbuat dari untaian uang kertas.


"Selamat datang, Dave dan Kak Via!" seru Zee, Elzio, Kejora, Edelweis, Barra dan Arfaaz.


Zee pun langsung memberikan sebuah buket bunga pada Sevia, yang langsung disambut senyuman yang merekah oleh Sevia. "Terima kasih, Zee."


"Terima kasih sudah menyambut aku," ucap Dave.


"Selamat datang kembali, Dave." Harry langsung memeluk sahabatnya


"Selamat datang kembali, Via!" Rani langsung memakai kalung uang pada Sevia. Langsung disusul dengan Pak Rudi yang ikut mengalungkan kalung uang yang dibawanya.


"Makasih Rani, Bapak!" Sevia nampak berkaca-kaca mendapat penyambutan dari bapaknya. Hatinya sangat bahagia, karena mendapat perhatian dari Pak Rudi.


"Nenek," ucap Sevia kemudian lalu memeluk neneknya.


"Alhamdulillah, Via sudah sehat lagi. Nenek sangat khawatir saat tahu kami melahirkan di pesawat. Jadinya Nenek maksa ingin ikut bapakmu saat dia pamit ingin menengok keadaan kamu dan anak-anak," ucap Nenek Salamah.


"Iya, Nek. Alhamdulillah sekarang Via sudah baikan," Sevia pun tersenyum manis pada wanita yang sudah terlihat renta. Seorang wanita yang sangat berjasa dalam hidupnya.


"Pak, kenapa hanya Sevia? Aku gak dikasih?" tanya Dave yang berada di samping istrinya.


"Uangmu sudah banyak, mana mungkin mau uang receh dua ribuan," jawab Pak Rudi enteng.


"Apa??? Hanya uang dua ribuan?" tanya Dave kaget.


Dia pun langsung melihat dengan dekat kalung uang dari Pak Rudi. Benar saja, mertuanya itu hanya mengalungkan uang kertas dua ribuan untuk menyambut kedatangan putrinya. Dave pun hanya menggelengkan kepala dengan kelakuan mertuanya.


Saat mertua dan menantu saling melempar senyum kecut, sudut mata Rudi menangkap sosok orang yang selalu di rindukannya. Dia diam mematung melihat Kinara sedang turun dari pesawat. Hatinya bergemuruh hebat, ingin sekali ia menghampirinya.


Namun, saat melihat ada seorang pria yang juga turun menyusul Kinara, hati Rudi terasa terkoyak. Perih rasanya saat mengetahui orang yang dicintainya sudah memiliki lelaki lain di hidupnya. Rudi pun langsung membalikkan badan dan segera beranjak pergi menyusul Dave dan Sevia yang sudah melangkah pergi.


Aku dan Kinara hanya masa lalu, meskipun benar aku masih mencintainya, tetapi kita sama-sama sudah memiliki pasangan, batin Rudi.


Kinara yang tadi sempat melihat keberadaan Rudi, hanya bisa melihat punggung kokoh yang dulu tidak pernah lelah untuk mencari uang demi mencukupi semua kebutuhannya. Namun, semua itu hanya kenangan masa lalu yang tidak akan terulang lagi.


...***...


Sebagai ungkapan rasa syukur atas kesembuhan Sevia dan kelahiran kedua putranya, Dave pun mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumahnya yang ada di ibu kota. Icha dan Dewi dengan semangat merancang pesta keluarga itu. Meskipun sederhana tetapi cukup membuat mereka merasa semakin dekat satu sama lain.


Setelah tadi mendengarkan ceramah dari ustadz yang diundangnya, serta membagikan bingkisan beserta angpau pada anak yatim, kini semua keluarga besar Dave berkumpul di ruang tengah.


Mereka saling berbagi cerita dan pengalaman satu sama lain dengan diselingi oleh canda dan tawa. Kebahagiaan itu sangat kontras dengan apa yang Rudi rasakan saat ini. Dia pun beranjak pergi menuju arah kolam renang dan duduk sendiri. Kinara yang menyadari kepergian Rudi, dia pun langsung mengikutinya.


"Rudi, apa kabar? Aku senang kamu baik-baik saja," tanya Kinara.


"Aku baik, aku juga senang ternyata kamu masih hidup." Rudi melirik sekilas ke arah Kinara yang sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk.


"Iya, Tuhan memberi aku kesempatan untuk hidup agar aku bisa menebus kesalahanku pada Sevia. "Terima kasih, kamu telah menjaganya selama ini." Kinara tidak melepaskan pandangannya dari air kolam renang yang tampak tenang.


"Sudah menjadi kewajiban aku untuk menjaga putriku sendiri. Nara, apa kamu tidak memiliki anak dari pernikahan kamu dengan lelaki itu?" tanya Rudi.


"Aku tidak pernah menikah dengan siapapun selain dengan kamu," jawab Kinara dengan nada getir.


"Maksud kamu? Bukankah waktu itu kamu akan menikah dengan mantan pacar kamu itu, yang seorang konglomerat? Tapi ternyata, kamu menikah dengan pria timur tengah," tanya Rudi.


"Aku tidak pernah menikah lagi, karena dulu aku menolak menikah dengan Tommy," jelas Kinara.


Saat keduanya sedang bernostalgia dengan masa lalunya, terdengar suara ponsel berbunyi. Rudi pun segera mengangkat panggilan telepon dari istrinya.


"Hallo, Bu! Ada apa?" tanya Rudi saat sudah tersambung.


"Bapak gawat, Pak! Warung kita kebakaran, kata orang ada yang sengaja menyiram bensin dan membakarnya," ucap Istri Rudi panik.


"Apa? Kebakaran? Kamu tidak apa-apa kan, Iis? Aku akan segera pulang!" tanya Rudi yang ikutan panik.


"Iya, Pak hati-hati di jalan. Ibu dibantu oleh tetangga memadamkan api. Kalau begitu, Ibu tutup dulu teleponnya."


Klik sambungan telepon langsung terputus setelah Istri Rudi berbicara. Rudi pun langsung bergegas menghampiri Kinara yang sedari tadi memperhatikannya.


"Nara, aku harus segera pulang, tadi istri aku menelpon. Katanya warung kami kebakaran," ucap Rudi.


"Iya, gak apa-apa! Pulanglah, biar Sevia aku yang menjaganya," suruh Kinara.


Rudi pun langsung menuju ke ruang tengah. Dia mencari keberadaan putri dan neneknya. Setelah ketemu, dia pun langsung memberitahukan hal yang sebenarnya terjadi di kampung.


"Via, Bapak pamit pulang. Warung Bapak ada yang membakar. Kamu cepat sehat lagi ya! Ayo Bu, kita pulang!" ajak Rudi.


"Via, nenek pulang dulu, jaga diri baik-baik!"


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite. Terima kasih!...