
Lain Devanya lain pula dengan Diandra. Gadis cantik itu sedang uring-uringan tidak karuan. Pasalnya, saat acara resepsi pernikahan sahabatnya. Dia harua menyaksikan kedekatan Davin dengan gadis berambut pirang asal negeri Paman Sam.
Gadis itu terlihat sangat dekat dengan Davin dan yang lainnya. Sementara dia, hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka yang sebagian tidak dia mengerti. Apalagi, Davin seperti cuek padanya tidak seperti dulu lagi.
Pernikahan macam apa yang aku jalani sekarang. Punya suami brondong hanya mikirin dirinya sendiri. Dia tidak peduli dengan perasaanku. Dia bahkan tidak segan untuk bermesraan dengan gadis itu, batin Diandra.
Dia terus saja melamun, sampai tidak menyadari kalau bukan wortel yang sedang dia iris tetapi jari tangannya. Seketika Diandra pun memekik kaget.
"Awww ...." Diandra mengibaskan tangan untuk mengurangi rasa perih.
Namun, gerakannya langsung tertahan saat ada sebuah tangan kekar yang mengambil tangannya. Davin yang sedari tadi diam-diam memperhatikan istrinya, dia langsung menghampiri ketika sadar kalau istrinya terluka.
"Jangan banyak melamun! Jangan pula berpikiran buruk pada orang lain kalau tidak ingin terluka," seru Davin setelah selesai menghisap jari telunjuk Diandra yang terluka.
"Aku tidak berpikiran buruk, aku hanya sedang tidak fokus," elak Diandra.
Davin hanya tersenyum mendengar apa yang istrinya. Dia tahu kalau sebenarnya Diandra hanya membuat alasan untuk menyembunyikan kebenarannya. Davin pun menatap lekat pada istrinya.
"Dian, kapan kamu mau jujur pada dirimu sendiri. Jangan terus menerus membohongi dirimu kalau tidak ingin terluka," ucap Davin.
"Udah deh, Vin! Jangan sok tahu," ketus Diandra.
Gadis itu langsung menarik tangannya dari tangan Davin. Dia segera pergi mencari kotak. Setelah membersihkan tangannya terlebih dahulu, Diandra langsung mengobati lukanya sendiri.
Dasar gadis angkuh! Apa susahnya jujur pada diri sendiri. Aku tahu kamu pasti kesal dengan kejadian semalam. Aku ingin tahu sampai mana batas keangkuhan kamu, batin Davin.
Pemuda tampan itu langsung menghampiri Diandra dan membantunya memasang plester di jari telunjuk istrinya. Dia tidak bicara sepatah kata pun sehingga kesunyian yang menyelimuti mereka berdua.
"Dian kenapa?" tanya Sevia yang baru masuk ke dalam dapur.
"Tidak sengaja tergores pisau, Tan." Diandra tersenyum tipis pada sahabat mamanya.
"Hati-hati sayang, jangan melamun! Biar Bi Jum saja yang melanjutkan masaknya," ucap Sevia. "Oh iya, Dian. Tante sama Mama kamu mau melihat rumah yang akan Deva tempati bersama Ano. Tadi Tante Allana menelpon mengajak ke sana untuk menyiapkan semuanya. Agar saat mereka kembali dari bulan madu, rumahnya sudah siap ditempati," lanjutnya.
"Iya, Tan. Dian di rumah saja," ucap Diandra.
"Biar Davin yang jagain, Mah. Rumah pasti kosong karena para pekerja mau jalan-jalan ke mall," ucap Davin.
"Kamu benar. Tadi Devan juga keluar. Katanya mau main dengan Ion," ucap Sevia. "Dian di rumah saja ya istirahat. Ada Davin Kho yang jagain kamu."
Sevia pun berlalu pergi menuju ke depan karena Rani sudah menunggunya di sana. Wanita yang sudah tidak muda lagi itu, sangat bersemangat menyiapkan rumah megah untuk ditempati oleh putrinya.
Sementara Diandra, setelah kepergian Sevia, dia memilih untuk masuk ke kamarnya karena Bi Jum sudah melanjutkan apa yang akan Diandra masak. Tidak ketinggalan Davin pun mengikuti Diandra masuk ke dalam kamar.
"Kenapa ikutin aku," tanya Diandra dengan raut wajah yang tidak bersahabat. Dia kesal saat melihat Davin masuk ke kamarnya.
"Tentu saja jagain istriku. Masa iya aku harus jagain istri orang," jawab Davin cuek.
"Bukannya kamu lebih suka jagain anak gadis orang," sinis Diandra.
"Sudahlah, Vin! Aku gak mau berdebat. Aku mau tidur, kamu gak boleh ganggu!" ketus Diandra.
"Tidur saja, ngapain ketus sama aku? Lagipula, dosa loh marah-marah sama suami tanpa sebab. Apalagi, menolak ajakan suami untuk ...."
Diandra langsung menutup mulut Davin dengan tangannya. Dia tidak mau mendengar apapun yang berbau tempat tidur. Akan tetapi, semua yang dia lakukan menjadi bumerang baginya.
Davin dengan isengnya menjilat tangan Diandra. Membuat Diandra langsung melepaskan tangannya dari mulut Davin. Dengan segera Davin langsung merengkuh pinggang gadis itu. Hingga kini posisinya Diandra duduk di atas paha Davin.
Pemuda tanggung itu tersenyum miring saat melihat ekspresi kaget Diandra. Dia semakin penasaran untuk menaklukkan gadis yang sekarang berada di pangkuannya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Davin langsung membungkam mulut Diandra dengan mulutnya.
Seperti seekor singa yang kelaparan, Davin melahap dengan rakus bibir mungil istrinya yang berwarna pink nude. Dia tidak memberikan kesempatan pada Diandra untuk melepaskan diri. Tangan kirinya menahan kedua tangan gadis itu ke belakang. Sedangkan tangan kanannya, bergerilya memainkan bukit kembar yang padat dan berisi.
Davin benar-benar menggila, sampai dia tidak membiarkan Diandra lepas darinya. Setelah hampir kehabisan napas, pemuda tampan itu langsung beralih menyusuri leher jenjang istrinya. Semakin turun semakin turun sampai pada bukit kenyal itu, dia pun langsung melahapnya dengan rakus.
Diandra hanya bisa pasrah dengan apa yang Davin lakukan. Dia tidak bisa memberontak karena Davin sudah menguncinya. Apalagi, semua yang Davin lakukan membuat darahnya berdesir hebat. Urat syarafnya menegang dan menginginkan sesuatu yang lebih dari itu.
Melihat istrinya seperti yang sudah mulai on fire. Davin pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia segera membaringkan Diandra di sofa. Dengan terburu-buru, pemuda tampan itu mengeluarkan pedang keramat yang sudah menegang. Dia kembali mencumbu Diandra memberikan sentuhan yang membuat gadis dibawah kungkungan-nya mabuk kepayang.
"Dian, kamu sudah basah. Jangan menolak aku! Aku akan masuk ke rumah keramat kamu," ucap Davin.
"Vin, pelan-pelan."
"As yours wish, Babe!"
Hanya butuh usaha dua kali, Davin bisa mendobrak selaput dara. Hingga sekarang sepenuhnya masuk. Tanpa terasa air mata Diandra luruh. Dia yang berharap bisa memberikan mahkota berharganya pada laki-laki yang dia cintai, harus mengikhlaskan hati saat laki-laki lain yang mengambilnya.
"Apa sakit?" tanya Davin saat melihat air mata Diandra.
"Iya, Vin."
Tapi hati aku yang lebih sakit. Aku harus selalu berdamai dengan keadaan. Kenapa hidupku selalu tidak seperti yang aku inginkan? batin Diandra.
"Tahan ya, aku akan lembut," ucap Davin.
Benar saja apa yang Davin katakan. Dia tidak tergesa-gesa seperti saat pertama. Hingga rasa perih di rumah keramat Diandra berubah menjadi sebuah kenikmatan yang membutuhkan pelepasan.
Setelah Keduanya sama-sama mendapatkan pelepasan, Davin pun membopong istrinya membawa ke dalam kamar mandi. Dia tidak ingin mamanya dan pekerja di rumahnya tahu dengan apa yang dia lakukan dengan Diandra di rumah sepi.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa sawerannya kakak! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Brondong Tajir update, yuk kepoin karya teman othor satu ini