
Seminggu sudah berlalu, keadaan Devanya pun sudah berangsur membaik. Hanya saja, dia masih sering termenung sendiri setiap kali mengingat bayinya. Sehingga Keano memutuskan untuk tinggal di rumah mertuanya agar Devanya tidak merasa sendiri saat dia harus pergi bekerja.
Tidak hanya Keano dan Devanya yang kini tinggal di rumah Keluarga Sky. Tetapi Davin dan Diandra pun memutuskan untuk tinggal sementara di rumah orang tuanya. Apalagi, kini Rani sudah tinggal bersama dengan Harry di rumah barunya.
Suasana rumah pun kini kembali ramai saat anak dan menantu Dave berkumpul di rumahnya. Pria yang sudah tidak muda lagi itu, merasa senang melihat putrinya sudah bisa tersenyum lagi. Sehingga dia pun mengajak semua anggota keluarganya untuk mengadakan acara barbeque di rumahnya.
"Sayang, istirahat saja. Biar ini Mama dan Bibi yang mengerjakan," ucap Sevia saat melihat Devanya ikut membantu di dapur.
"Mah, aku bosan terus duduk dan tidak melakukan apapun," sanggah Devanya.
"Baiklah, Sayang. Tapi jangan terlalu lelah," pesan Sevia.
"Iya, Mah." Devanya pun melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda.
Tidak lama kemudian, Diandra datang bersama dengan Davin. Mereka baru saja pulang dari supermarket. Namun, sepertinya sedang terjadi perang dingin di antara dua anak muda itu.
"Dian, kamu kenapa? Mukanya kenapa kecut begitu?" tanya Devanya saat melihat adik iparnya menghampiri dia.
"Adikmu tuh, genit! Masa tadi di supermarket dia cipika cipiki sama teman sekolahnya dulu." Cebik Diandra.
"Kamu cemburu?" tanya Devanya.
"Yang benar saja, masa iya aku cemburu."
"Bisa saja, kalau kamu sudah mulai menyukai Davin. Dian, coba tanya hatimu dan jujur dengan hatimu. Apa benar, tidak pernah ada Davin di hati kamu? Setahu aku, seorang perempuan saat mau disentuh oleh seorang lelaki, karena dia memiliki perasaan pada lelaki itu meskipun hanya sedikit."
"Aku masih bingung dengan perasaanku," jawab Diandra.
Sevia yang tidak sengaja mendengarkan apa yang dibicarakan oleh putri dan menantunya, dia hanya diam saja dan berpura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka. Namun dalam hatinya dia berdo'a semoga hubungan Davin dan Diandra membaik dan harmonis.
Bukan salah Dian yang belum bisa mengartikan perasaannya pada Davin. Karena sejak awal, Dian tidak memiiki perasaan apapun pada Davin. Semoga saja, seiring berjalannya waktu tumbuh benih-benih cinta di hatinya. Seperti aku dan Dave, batin Sevia.
Kini semuanya sudah siap. Para lelaki sudah bersiap di depan panggangan. Sementara para wanita menyiapkan piring dan makanan pembuka. Devan yang sengaja mengajak Orion, mereka datang saat semua orang sedang sibuk dengan panggangannya.
"Hai Vanya!" sapa Orion
"Hallo Kak Vanya! Hallo Kak Dian!" sapa Devan.
"Hallo juga, kalian dari mana baru datang jam segini?" tanya Devanya
"Kita habis ketemu cewek cantik Kak. Apa kakak ingat Aileen? Adiknya Kak Langit," tanya Devan.
"Iya ingat. Memangnya kenapa?" tanya Devanya heran.
"Dia pacarku. Benar gak Ion?" tanya Devan
"Iya, pacar bayaran, hahaha ...." Orion tertawa lepas. Dia merasa lucu saat mengingat kejadian tadi.
Tiba-tiba saja Aileen datang menghampiri dua pemuda tampan itu. Dia meminta salah satu di antara mereka untuk berpura-pura menjadi pacarnya. Meskipun awalnya mereka menolak, tetapi akhirnya Devan menyetujui untuk membantu gadis itu, agar lepas dari kejaran mantan pacar Aileen.
"Ck! Ion, gak solid lu! Gak usah bilang-bilang modalnya apa, yang penting dia sudah jadi dokter dan cantik." Devan tersenyum lebar. Sepertinya dia sudah terpikat pada gadis yang sudah membayarnya untuk jadi pacar bohongan.
"Gila, Van. Kamu jatuh cinta beneran, hahaha ... Padahal dia mengira kalau kamu itu Davin." Lagi-lagi Orion tertawa keras membuat Keano dan yang lainnya langsung menengok ke arah mereka.
"Maksud kamu, Aileen teman SD kita waktu di Cikarang?" tanya Diandra memastikan.
"Iya, yang selalu salah mengenali aku dan Davin. Waktu dia kecil tomboy banget tapi saat sudah besar menjadi feminim," jelas Devan.
"Apa dia pernah menjalin hubungan dengan Davin?" tanya Diandra menyelidik.
"Mungkin saja, apa kamu cemburu?" tanya Devan.
"Ngarang kamu!" ketus Diandra.
"Hahaha ... Mungkir terooss ...," ledek Orion dan Devan kompak.
Melihat keseruan Devan dan Orion di dekat istrinya, Keano pun menjadi tidak tenang. Dia khawatir Devanya kembali jatuh cita pada sepupunya. Sehingga dia pun berniat untuk menghampiri Devanya.
"Vin, Abang ke sana dulu ya!" pamit Keano.
"Iya, Bang!" sahut Davin.
"Ion, jaga mulut kamu!!" sentak Devanya. Dia kaget saat mendengar Orion berbicara seperti itu.
"Sudah, Ay. Jangan diambil hati," ucap Keano menenangkan istrinya.
Meskipun sebenarnya dia juga merasa kesal dengan apa yang Orion katakan, tetapi Keano sebisa mungkin menahannya. Dia tidak ingin terjadi keributan dengan sepupunya sendiri.
"Ion, candaan lu garing. Jangan gangguin Kak Vanya. Dia masih masa penyembuhan," tegur Devan.
"Memang sakit apa? Apa Bang Ano tidak memberi kamu makan sehingga jadi pucat gitu. Jelek apa yang terjadi sama kamu?" tanya Orion saat melihat wajah Devanya dari dekat.
"Kamu tinggal di gua? Sampai gak tau apa yang sudah terjadi sama kakak ipar kamu," tanya Diandra.
"Maksud kamu? Memang sudah terjadi apa? Aku kan baru pulang dari liburan. Setelah wisuda kemarin, aku langsung terbang melihat festival di negeri Zumba."
"Bilang saja habis nengokin saudara kamu di hutan Amazon," cetus Devan.
"Iya, saudara kamu juga, Van. Anaconda kan?" tanya Orion
"Kamu anaconda, Ion. Aku sih piranha," sanggah Devan.
"Sudah sudah, ayo makan dulu! Steak-nya sudah matang. Sate sama sosis dan juga bakso sudah matang semua," ucap Sevia langsung menengahi.
Mendengar apa yang Sevia katakan, mereka pun langsung berpindah tempat duduk menuju karpet, yang sengaja di gelar di taman belakang rumahnya. Dengan cahaya lampu kelap-kelip membuat suasana makan malam menjadi romantis.
"Sayang, makan yang banyak," ucap Keano.
"Iya, Bang!" sahut Devanya.
Keano dengan telaten menyuapi istrinya. Begitupun dengan Dave dan Sevia yang terkadang saling mencicipi makanan yang ada di piring mereka. Sementara Davin dan Diandra, terlihat makan sendiri-sendiri.
Davin gak pengertian banget sih. Lihat Papa mamanya romantis banget. Bang Ano juga jadi romantis setelah menikah. Tapi Davin, dia hanya asyik sendiri dengan dunianya tanpa perduli pada istrinya, gerutu Diandra dalam hati.
Setelah hidangan makan malamnya habis tak bersisa, Orion yang sedari tadi masih penasaran dengan apa yang telah terjadi pada Devanya, dia memutuskan untuk bertanya pada Sevia. Karena dia yakin, Sevia pasti memberitahunya.
"Tan, memang Vanya sakit apa? Kenapa mukanya pucat?" tanya Orion seraya ikut membantu Sevia membereskan piring bekas makan.
Sevia langsung menghentikan pekerjaannya lalu menengok ke arah Orion. Dia menghela napas dalam sebelum menjawab pertanyaan dari pemuda itu. "Deva keguguran."
"Apa??!! Bagaimana bisa, Tan?" pekik Orion kaget.
"Ion, tolong jangan membahasnya di depan Deva ya! Kondisi badannya memang sudah membaik, tapi secara psikis Deva masih sangat terpukul. Dia masih selalu menyalahkan dirinya sendiri setiap kali ada orang yang membahasnya," terang Sevia.
"Iya, Tan. Tapi kenapa bisa keguguran?" Orion semakin penasaran dengan cerita mantan kekasihnya.
"Deva jatuh ...," Sevia langsung menghentikan ucapannya saat melihat Devanya berjalan ke arahnya bersama dengan Diandra. Dua sahabat itu ikut membantu membereskan sisa acara barbeque.
"Mah, ini simpan di mana?" tanya Diandra.
"Simpan di meja dapur saja. Sisanya biar bibi yang membereskan. Setelah ini, kalian istirahat saja," suruh Sevia.
"Iya, Mah!" Kompak Devanya dan Diandra.
"Ion, kamu sedang apa di sini?" tanya Diandra dengan mata terus menyelidik.
"Aku lagi curhat sama Tante. Memangnya gak boleh? Meskipun aku gak jadi menantunya, tapi aku masih keponakannya. Iya gak, Tan?" tanya Orion.
"Iya, kalian anak-anak Tante. Makasih Ion sudah bantu Tante," ucap Sevia.
"Sama-sama,Tan. Aku ke depan dulu," pamit Orion dengan melirik Devanya.
Pantas saja dia seperti tidak bergairah. Ternyata habis mendapatkan musibah. Semoga Tuhan secepatnya memberikan bayi lagi padamu, batin Orion.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih....