
Malam semakin larut, udara dingin pegunungan semakin menusuk kulit. Dave dan Sevia yang sedang menonton televisi setelah tadi makan malam, nampak saling menempel satu sama lain. Sama-sama mencari kehangatan di dinginnya malam.
Sementara Bi Lina sudah masuk ke kamarnya. Dia tidur bersama dengan Devanya karena Dave sengaja ingin tidur berdua saja dengan istrinya. Berbeda dengan Wina yang nampak gelisah di kamar belakang Villa. Dia terus saja terbayang wajah tampan tuannya.
"Kenapa Tuan Dave sudah menikah dan punya anak? Andai saja dia masih lajang, aku pasti akan mendekatinya dengan terus terang. Di kampung aku saja, banyak lelaki yang mengejar cinta aku. Pasti Tuan Dave juga akan terpesona padaku," gumam Wina.
Wina terus saja memikirkan lelaki yang seharusnya tidak dia pikirkan. Sampai akhirnya, dia keluar kamar dan masuk ke ruang tengah. Lagi-lagi dia disuguhkan oleh pemandangan yang seharusnya tidak dia lihat. Dia terus berjalan hingga kakinya tersandung kaki kursi yang tidak rapi dimasukkan ke bawah meja makan. Sesuatu yang tidak diharapkan pun akhirnya terjadi.
Brukkk!
Wina terjatuh tengkurap dengan jidat mencium marmer. Dave dan Sevia yang sedang bertukar saliva langsung terkejut mendengar suara seperti benda keras yang terjatuh. Pasangan suami istri itu celingukan mencari sumber suara, sampai terdengar suara orang meringis di dekat meja makan.
"Apa kamu lakukan? Kamu mengintip aku?" bentak Dave.
"Ti-ti-tidak Tuan, a-a-aku ma-mau me-mengambil sisa makanan. A-aku lapar," ucap Wina dengan tergagap. Dia tidak menyangka pangeran impiannya akan memarahinya.
"Dengar! Aku tidak suka ada orang yang mengganggu kesenangan aku apalagi mengintip saat aku bersama dengan istriku," Dave berbicara dengan suara keras membuat Sevia terdiam. "Ayo, sayang kita ke kamar!" ajaknya kemudian.
"Duluan ya sayang, aku mau mengambil minum dulu." Sevia tersenyum manis pada suaminya membuat semua kekesalan brondong itu lenyap entah ke mana.
Setelah kepergian Dave ke kamar, Sevia pun segera mendekati Wina yang masih terduduk di lantai. "Ayo bangun!"
"Terima kasih, Nyonya!" ucap Wina seraya menundukkan kepalanya.
"Kamu dengar kan apa.yang tadi suami aku katakan? Aku hanya ingin memberi tahu kamu, hapus semua keinginan kamu untuk bisa memiliki suami orang, itu tidak baik! Kamu masih muda, carilah lelaki yang baik dan bisa menerima kamu apa adanya." Sevia menepuk pundak Wina pelan sebelum dia beranjak pergi menuju ke dapur.
Setelah kepergian Sevia, Wina pun segera bergegas menuju ke kamar. Dia menangis meluapkan kekecewaan dan kekesalan hatinya.
Apa kurangnya aku? Aku cantik, aku juga seksih. Banyak lelaki yang sudah aku taklukan, kenapa bule itu malah memarahi aku. Dasar bule rabun, tidak bisa melihat gadis secantik aku.
...***...
Keesokan harinya, kasur king size itu nampak berantakan. Sepertinya, semalam telah terjadi pergulatan di kasur itu. Gulat yang berebut untuk mencapai puncak kenikmatan bersama-sama. Entah berapa babak Dave melakukannya, karena Sevia nampak begitu kelelahan.
"Sayang, masih betah tidur?" tanya Dave saat Sevia semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku ngantuk, Dave. Mataku tidak bisa terbuka. Kamu tolong urus Devanya dulu!" pinta Sevia dengan kepala yang terus mendusel ke dada bidang suaminya.
Dave hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya. Bagaimana dia bisa mengurus putrinya kalau Sevia semakin mempererat pelukannya. Akhirnya dia membiarkan Sevia mendapatkan kenyamanan di dadanya.
"Sayang, mau lihat sunrise tidak? Pasti sangat cantik saat kita melihatnya di tengah perkebunan teh?" tanya Dave yang sukses membuat Sevia membuka matanya.
"Aku mau lihat," ucap Sevia nampak bersemangat. Dia pun langsung bangun dan beranjak ke kamar mandi. Dave hanya mengikuti Sevia dari belakang, sampai akhirnya mereka mandi bersama dan bergantian saling menggosok punggung.
"Bi, Deva masih tidur?" tanya Sevia saat berpapasan dengan Bi Lina.
"Masih, Neng! Mau joging ya?" tanya Bi Lina.
"Iya Bi, mumpung matahari belum terbit. Titip Devanya ya, Bi." Sevia masuk ke kamar yang putrinya tempati, dia pun mencium kening Devanya sebelum pergi bersama dengan Dave.
Tak lama kemudian, Dave menyusul ke kamar putrinya. Dia pun melakukan hal yang sama dengan istrinya. Memang sudah menjadi kebiasaan pasangan muda itu, jika akan pergi berpamitan dulu pada Devanya.
Setelah berpamitan pada Bi Lina, Dave pun langsung mengajak Sevia untuk pergi. Dia ingin menikmati matahari pagi di atas kebun teh. Setelah melewati jalan setapak, akhirnya mereka sampai di puncak bukit perkebunan teh.
Sevia begitu terpana melihat matahari pagi yang terlihat malu-malu di ufuk timur. Dia pun tak lupa mengabadikan foto kebersamaan bersama dengan suaminya. Dave langsung memeluk Sevia dari belakang seraya menghadap ke arah timur.
"Kamu tahu, Dave? Bagiku, kamu seperti matahari pagi yang selalu memberikan kehangatan. Memberikan harapan baru di saat aku sedang terpuruk. Seperti cahaya penerang dalam hidupku yang suram," ucap Sevia dengan mata yang terus memandang ke arah timur.
"Terima kasih, tapi aku pun merasakan hal yang sama dengan kamu, Via. Kehadiranmu dalam hidupku membuat aku semakin mengerti arti mencintai dan dicintai. I love you Sevia Kireina Dzakiya. Only you who I want to accompany me until the old day."
"Love you too, Dave. Tapi aku gak ngerti apa yang kamu katakan selanjutnya. Bisa kasih tau aku artinya apa?"
"Artinya, aku ingin punya anak yang yang banyak dari kamu. Ayo kita bikin lagi!" Bohong Dave dengan mengulum senyum.
"Aku juga mau tapi nunggu Devanya besar dulu. Kasian kalau masih kecil sudah punya adik. Tapi, kenapa udah lama aku gak datang bulan ya?"
"Mungkin sudah ada Dave junior di rahim kamu. Via, tadi aku bohong. Sebenarnya aku ingin bilang ke kamu kalau hanya kamu yang aku inginkan untuk menemaniku sampai hari tua nanti." Dave langsung membalikkan istrinya agar menghadap padanya.
"Dave, aku juga ingin selalu bersamamu di kehidupan yang sekarang ataupun kehidupan yang akan datang."
Keduanya saling mengikis jarak, sampai saat kedua bibir itu tinggal lima senti lagi akan bertemu, terdengar suara ibu-ibu yang akan memetik teh sedang mengobrol di belakang mereka. Dave dan Sevia pun saling menjauh dan menengok ke arah suara yang terdengar riuh karena ibu-ibu itu berjalan seraya bersenda gurau.
"Permisi, Tuan, Nyonya," ucap ibu-ibu itu kompak.
"Iya, silakan!" ucap Sevia seraya tersenyum manis., sedangkan Dave hanya melihat mereka dengan muka datar.
Setelah kepergian ibu-ibu itu, Dave pun mengajak Sevia untuk pulang. Namun saat sampai di villa, Bi Lina langsung memberikan laporan pada tuannya.
"Den, tadi Den Harry menelpon. Katanya ada yang penting. Aden disuruh segera menghubunginya."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih!...