Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 25 Gosip Pembantu


Setelah Sevia mengantar suaminya untuk berangkat kerja, dia segera bersiap untuk menjemput Rani. Beruntung sekarang dia sudah bisa membawa mobil sendiri, sehingga tidak perlu menunggu Dave ataupun memakai supir.


Meskipun Sevia sudah bisa mengendarai mobil, dia jarang bepergian dengan ibu-ibu sosialita yang ada di komplek perumahannya. Sevia lebih sering mengunjungi Icha. Apalagi semenjak ibunya tiada, setiap kali dia merindukan Kinara, maka Sevia akan berkunjung ke rumah Icha.


"Bi Leha, aku pergi ke rumah sakit dulu. Tolong jaga rumah!" pesan Sevia pada pembantu di rumahnya.


"Baik, Bu. Bu mau jemput Bu Rani ya?" tanya Leha.


"Iya, sudah siap kan kamar buat dia?" tanya Sevia.


"Sudah Bu! Iya Bu mending di sini dulu Bu Rani-nya. Kata si Mimin, Anne perawatnya Bu Rani tidak sungkan-sungkan menggoda Tuan Harry. Bahkan, Mimin pernah pergoki mereka sedang berciuman di ruang kerja Tuan Harry. Lelaki mana sih yang gak akan tergoda kalau setiap hari disodorin terus."


"Kamu serius? Bilangin si Mimin, kalau dia bisa ambil foto atau Video mereka sedang begituan, aku akan kasih uang yang banyak buat dia. Kamu juga bisa dapat uang Bi Leha. Asal harus bisa menciduk mereka." Meskipun hatinya merasa geram dengan apa yang di dengarnya, tapi Sevia berusaha tenang.


"Baik, Bu! Satu bulan gaji ya, Bu. Pasti Mimin senang kalau dapat imbalan, dia juga kesal sama si Anne itu. Selalu berlaga jadi nyonya rumah," ucap Leha dengan mengerucutkan bibirnya.


Sepertinya pembantu Rani bisa diajak bekerjasama untuk mengungkapkan kebenaran sakit Rani yang semakin hari malah semakin parah. Padahal pas awal kecelakaan, diagnosa dokter hanya lumpuh sementara. Tapi semakin ke sini, Rani malah semakin tidak bisa bergerak, batin Sevia.


"Ya sudah, Aku berangkat dulu." Sevia pun langsung pergi menuju ke rumah sakit, sedangkan Leha langsung menuju ke rumah Harry untuk menemui Mimin yang memang berasal dari kampung yang sama dengan Leha sehingga mereka terkadang saling mengunjungi untuk sekedar bercerita ataupun bergosip.


Sesampainya di sana, Leha langsung masuk lewat pintu samping yang menuju ke dapur. Namun, dia dikagetkan oleh Anne yang baru selesai senam yoga. Dengan pakaian seksih yang melekat di tubuhnya, Anne berjalan dengan sedikit menyenggol bahu Leha yang berpapasan dengannya.


"Leha, mau ketemu Mimin kan? Suruh dia bawakan jus jeruk ke kamarku," suruh Anne.


"Baik, Mbak!" sahut Lena.


Tubuh Anne memang aduhai, pantas saja tuan Harry sampai tergoda. Apalagi, Bu Rani sakit tidak bisa ngapa-ngapain. Mungkin Tuan Harry butuh seseorang untuk memuaskan hasratnya, batin Leha.


Saat Leha bengong melihat kepergian Anne. Mimin datang dari arah dapur dan langsung menepuk pundak temannya. Sehingga Leha dengan spontan menyebutkan kata dengan refleks.


"Eh copot copot biawak copot," ucap Leha.


"Mulai deh kambuh, tumben masih pagi ke sini. memang pekerjaan kamu sudah beres?" tanya Mimin.


"Belum sih, tapi Bu Sevia sudah berangkat ke rumah sakit, jadi ku ke sini sebentar, ada misi buat kamu," bisik Leha.


"Misi apaan?"


"Sstt ... jangan kenceng-kenceng! Kamu bikin saja dulu jus jeruk buat perawat centil itu. Nanti aku cerita," ucap Leha.


"Baiklah! Kamu tunggu di dapur saja," suruh Mimin.


Mimin pun segera membuat jus jeruk pesanan Anne dan mengantarkan ke kamar perawat seksih itu. Saat sampai di sana, tenyata Anne sedang menelpon dengan seseorang seraya memegang sebuah botol kecil. Mimin hanya melihat sekilas pada botol yang hanya seukuran jari telunjuk orang dewasa itu, kemudian dia pun bergegas pergi dari kamar Anne.


Mendengar Mimin bicara, Anne hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian kembali mendengarkan perkataan seseorang yang sedang menelponnya. Dia tidak peduli pada Mimin yang datang ke kamarnya karena sedang serius mendengarkan arahan dari orang itu.


Sementara Mimin langsung ke dapur untuk menemui temannya dan langsung berbincang dengan Leha. Tanpa menunggu waktu lama, Leha pun langsung mengatakan apa yang Sevia perintahkan. Mimin hanya tersenyum seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Sip, aku pasti bisa mendapatkan foto-foto itu. Karena aku sudah tahu jam berapa Anne menemui Tuan Harry kalau malam," bisik Leha.


...***...


Sementara di sebuah ruangan yang bernuansa putih, Sevia dan Rani sedang duduk menunggu Diandra mengurus administrasi, karena Harry sedang meeting di kantor pusat sehingga tidak bisa ikut menjemput.


"Rani, boleh aku tanya sesuatu sama kamu? Tapi kamu jangan tersinggung," tanya Sevia dengan hati-hati.


"Tanya aja, Via. Kamu kaya sama siapa saja sampai minta ijin segala," jawab Rani melihat wajah sahabatnya yang terlihat serius.


"Apa hubungan kamu dengan Harry baik-baik saja?"


"Baik, Harry selalu memenuhi kewajibannya. Sebagai seorang suami dia sangat bertanggung jawab meskipun keadaan aku seperti ini. Dia juga tidak pernah membedakan antara Diandra dan Gavin," jawab Rani dengan nada yang sedikit bergetar.


Bagaimanapun keadaan rumah tangga aku, aku tidak boleh mengeluh ataupun meminta hal lebih pada Harry. Aku bisa memaklumi kesalahan yang dia lakukan karena memang aku tidak bisa melayani dia layaknya seorang istri, batin Rani.


"Rani, kita memang tidak boleh menceritakan tentang aib keluarga kita pada orang lain. Tapi demi kebaikan kamu, aku mohon jangan sembunyikan hal yang membuat kamu sakit. Aku sayang sama kamu, aku juga merasakan sakit saat kamu terluka."


"Terima kasih, Via. Untuk saat ini aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mau menampung aku di rumah kamu. Sebenarnya sudah lama aku ingin pergi dari sana tapi aku tidak bisa apa-apa, aku tidak boleh egois karena Diandra masih butuh biaya yang banyak untuk kuliahnya."


"Rani, kenapa kamu menahannya sendiri? Aku merasa tidak berarti buat kamu saat kamu harus menyimpan rasa sakit itu sendiri. Kamu jangan khawatir, aku yang akan membayar kuliah Diandra,"


"Makasih, Via. Tapi dari mana kamu tahu kalau rumah tangga aku sedang tidak baik-baik saja."


"Kamu lupa kalau pembantu di rumah kita suka sekali bergosip. Tapi kali ini, gosip yang mereka katakan padaku membuat aku mengerti kenapa kamu tidak kunjung sembuh meskipun sudah terapi."


"Memang mereka bergosip apa?"


"Soal perawat kamu yang tidak beres," jawab Sevia.


Ternyata mereka sudah tahu, padahal selama ini aku diam dengan apa yang aku lihat. Aku juga tidak mau bertanya pada Harry saat melihat lehernya ada tanda merah. Aku takut dia marah dan mengusirku dari rumah, batin Rani.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...