
"Iya, aku telah menusuknya sebelum aku kabur ke sini."
"Apa???!!!" Dave dan Harry sama-sama terlonjak kaget dengan apa yang didengarnya. Mereka tidak percaya, neneknya yang sudah berumur lebih dari enam puluh tahun masih terbakar api cemburu.
"Bagaimana bisa terjadi, Nek?"
Nyonya Elisa pun mulai menceritakan apa yang telah terjadi padanya.
Flashback on
Siang itu, Elisa tidak sengaja melihat infotainment di kantin rumah tahanannya. Dia melihat Dion duduk bersama seorang artis pendatang baru yang sedang lounching film yang dibintanginya. Elisa yang sudah merasa curiga pada Dion karena jarang menjenguknya, dia semakin kesal dengan apa yang dilihatnya. Elisa pun mulai mencari cara agar bisa keluar dari tempat itu.
Elisa berpura-pura sakit dan menyogok petugas kesehatan agar membawanya ke rumah sakit. Namun, saat tiba di rumah sakit, Elisa kembali bersandiwara dengan berpura-pura sakit perut. Dia pun bisa kabur dari sana karena sudah ada orang yang ditugaskan untuk membantunya melarikan diri.
Elisa langsung pulang ke rumahnya, berharap akan bertemu dengan Dion dan melepaskan kerinduan pada suami brondongnya itu. Namun, apa yang dilihatnya sungguh membuat dia menjadi murka. Elisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, artis pendatang baru yang bernama Nadine itu sedang bergoyang aduhai di atas Dion yang begitu menikmati goyangannya.
Elisa pun langsung menuju ke dapur dan mengambil pi-sau dapur. Dia kembali ke kamarnya dan tanpa bicara lagi langsung menusukkan pi-sau ke perut Nadine yang sedang merem melek seraya terus bergoyang.
"Ahhhh ...." Nadine menjerit kaget dan merasakan sakit di perutnya, dia langsung tumbang dengan memegang perut yang sudah mengeluarkan darah. Tentu saja hal itu membuat Dion yang sedang menikmati goyangan pacarnya langsung terlonjak kaget.
"Elisa, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menyakitinya?" bentak Dion.
"Kamu bilang kenapa? Aku ditahan tapi kamu malah asyik-asyikan bermain dengan wanita murahan ini. Ingat Dion, semua yang ada di sini milikku. Kamu tidak memiliki apapun, semua harta yang kamu nikmati itu milikku," teriak Elisa.
"Itu dulu, sebelum kamu masuk penjara. Tapi sekarang, kamu tidak akan bisa menikmati hartamu lagi, karena kamu akan membusuk di dalam penjara karena kesalahanmu." Dion melihat ke arah Nadine yang sudah bersimbah. Dia pun segera mencari pakaiannya yang berceceran di bawah tempat tidur karena tadi dia dan Nadine membuangnya dengan sembarang.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Dion. Kamu tidak ingat, aku yang sudah merawat kamu selama ini. Aku yang sudah memberikan segala kemewahan padamu. Aku pula yang sudah menjadikan kamu seorang CEO. Tapi apa balasan kamu???!!!" Lagi-lagi Elisa berteriak murka pada suami brondongnya.
"Kamu tanya balasan? Aku membalas semua kemewahan kamu dengan selalu memuaskan kamu di atas tempat tidur. Kamu tahu Elisa, aku juga ingin merasakan bercinta dengan gadis muda karena selama ini aku hanya menikmati tubuhnya yang sudah mulai keriput."
"Kamu ...!!!"
"Sudah, Elisa! Aku harus membawa Nadine ke rumah sakit. Lihat, dia banyak mengeluarkan darah." Dion tidak peduli lagi dengan apa yang istrinya katakan. Dia bergegas membungkus badan Nadine dengan selimut dan langsung membopongnya menuju rumah sakit.
Sementara Elisa hanya menatap nanar kepergian Dion. Dia pun segera bergegas menuju ke ruang kerjanya. Dia ambil beberapa berkas penting dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah merasa cukup dengan perbekalannya, Elisa pun langsung pergi dengan menggunakan taksi menuju alamat tempat Dave bekerja di kota industri.
Sesampainya di Cikarang, Elisa pun langsung menuju ke pabrik. Harry yang kaget dengan kedatangan Elisa, akhirnya dia menyuruh nenek sahabatnya itu untuk istirahat di rumahnya.
Flashback off
Kasihan juga Nyonya Elisa. Sudah tua, bukannya menikmati masa tua tapi malah harus menanggung akibat dari apa yang telah dilakukannya di masa muda. Memang benar masa muda waktunya untuk mengekspresikan diri. Tapi kalau ke hal yang tidak baik, mungkin nasibnya tidak akan jauh beda dengan Nyonya Elisa, batin Harry.
"Nenek, aku terima. Tapi maaf, mungkin akan aku pakai untuk aku berikan ke panti sosial atau orang-orang yang membutuhkan. Aku bukannya menolak pemberian nenek, tapi mereka lebih membutuhkan dari aku," ucap Dave. "Beristirahatlah, Nek! Aku merasa lelah setelah perjalanan jauh," lanjutnya.
Aku bersusah payah mengumpulkan harta, tapi ternyata cucuku sendiri tidak mau menerimanya. Apa dia berpikir, uang yang aku miliki dari hasil yang haram, batin Elisa.
Dave dan Harry pun langsung keluar dari kamar yang Elisa tempati. Mereka tidak langsung beristirahat, melainkan menuju ke ruang kerja. Dave merasa bimbang dengan apa yang diberikan oleh Elisa kepadanya. Apa mungkin dia harus menjual perusahaan neneknya yang bergerak di bidang cosmetics dan menyumbangkan semua hasil penjualannya, atau tetap menjalankannya dan hasilnya baru dia sumbangkan.
"Harry apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa memegang perusahaan itu. Kamu kan tahu, kalau aku tidak mau bekerja di perusahaan keluarga." Dave nampak bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Apalagi, dia juga merasa kasihan dengan Elisa yang terlihat terpuruk.
"Aku juga bingung, Dave. Pak Dion pasti mempertahankan posisinya di perusahaan. Tidak mungkin dia menyerahkan begitu saja," sahut Harry.
"Sudahlah! Aku simpan saja dulu berkasnya. Kita pikirkan nanti saja." Dave pun menyimpan berkas yang tadi diberikan oleh Elisa ke dalam brangkas. Kemudian dia pun pergi menuju ke kamar untuk menemui istrinya.
Namun, saat baru sampai ruang keluarga, Dave dan Harry dibuat bengong dengan kehebohan istri-istri mereka.
"Dave lihat! Nadine masuk rumah sakit karena ditusuk perampok," tunjuk Sevia pada layar televisi.
Pintar juga Dion membuat alibi. Mengatakan Nadine ditusuk perampok. Padahal istrinya sendiri yang menusuknya, batin Dave.
"Sayang, apa Gavin dan Diandra sudah diberi mimi? Jangan menonton gosip terus! Kadang beritanya itu direkayasa," ucap Harry lembut pada Rani.
Dave dan Sevia yang sekarang melongo melihat kemesraan Harry dan Rani. Ternyata mereka berpisah beberapa waktu yang lalu membuat hubungan Harry dan Rani semakin dekat.
"Via, jangan terlalu lebar mangapnya! Nanti nyamuk tersedot masuk ke sana," seru Rani saat melihat sahabatnya diam saja.
"Wah, Rani aku senang banget melihat kalian semakin mesra. Kita bisa double date nih," ucap Sevia terlihat sumringah.
Sementara Bi Lina dan pengasuh lainnya hanya bisa menelan ludahnya kasar. Melihat kemesraan pasangan Dave dan Sevia saja mereka harus sering-sering membuang muka agar tidak melihatnya. Sekarang ditambah lagi dengan pasangan Harry dan Rani. Sudah pasti mereka harus memperkuat iman agar tidak celamitan ingin memiliki apa yang bukan miliknya.
Aku senang kini mereka bahagia dengan pasangannya masing-masing. Tapi terkadang Dave dan Harry tidak melihat tempat saat bermesraan dengan istrinya.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...