
"Harry, maaf jika aku merepotkanmu!"
"Tidak Rani, aku yang harus meminta maaf padamu karena aku ikut menyebabkan kekacauan dalam hidupmu." Harry langsung menundukkan kepalanya menyesali dengan apa yang telah terjadi.
"Aku tidak bisa menyalahkan siapa pun, karena semua ini sudah menjadi takdirku." Tanpa bisa dibendung, air mata Rani pun kembali keluar.
Meskipun dia sudah berusaha untuk ikhlas dengan kepergian suaminya, tapi rasa kehilangan selalu menyeruak di hati. Apalagi kejadiannya belum lama, membuat dia selalu tidak bisa mengendalikan perasaannya.
Tidak berapa lama kemudian, Sevia dan Dave datang bersama dengan Devanya. Pasangan suami istri itu mematung di ambang pintu, saat melihat Harry sedang merengkuh tubuh Rani dan menghapus air mata yang terus menetes.
"Jangan bersedih terus, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan menjagamu seperti janjiku pada mantan suami kamu. Anggap saja aku sebagai saudara kamu," ucap Harry mencoba menenangkan.
"Iya benar, Rani! Apalagi sekarang kamu sedang hamil, kasian dedeknya. Besok kita cek kandungan kamu ya, sekarang kamu istirahat saja dulu di apartemen," timpal Sevia yang sukses membuat Rama segera melepaskan pelukannya. Dia kaget campur malu karena ketahuan oleh sahabatnya.
"Udah yuk berangkat! Aku sudah pamit sama Tante dan Om. Mereka sedang tidak bisa diganggu," ajak Dave menengahi kecanggungan.
Mereka pun langsung berangkat menuju ke apartemen Harry dan Dave yang tidak jauh dari pantai. Hanya butuh waktu tiga puluh menit mereka sudah sampai di tempat tujuan. Dave meminta tolong satpam untuk membantunya membawa barang-barang Rani sampai ke atas.
Sesampainya di apartemen Harry, Rani pun langsung diberi tahu kamar mana yang dia tempati. Sementara Sevia langsung menuju ke apartemen suaminya karena Devanya sepertinya tertidur sedari tadi di mobil.
"Rani, tidurlah di kamar ini. Aku ada di kamar sebelah," tunjuk Harry seraya membuka pintu kamar yang terlihat rapi.
"Harry, apa kamu akan tinggal di sini? Aku merasa tidak enak jika harus tinggal bersama dengan lelaki yang bukan muhrimku," tanya Rani saat di akan masuk ke dalam kamar.
"Tidak, aku akan pulang ke rumahku. Hanya saja, sekarang aku merasa lelah jadi mau beristirahat dulu sebelum pulng ke rumah. Kamu tenang saja, kita tidak akan tinggal serumah sebelum halal," ucap Harry yang tidak sengaja keceplosan.
Rani yang tidak menanggapi ucapan Harry, berlalu begitu saja masuk ke dalam kamar. Dia hanya ingin merebahkan badannya yang terasa lemas. Harry pun langsung menuju ke kamarnya yang berada di sebelah kamar yang Rani tempati.
Sementara Sevia yang teringat kalau sahabatnya belum makan apapun sedari pagi langsung memesan melalui go food sekalian memesankan makanan untuknya, Dave dan Harry.
"Sayang, tidak apa-apa Rani tinggal di apartemen Harry? Aku khawatir Nadine tahu dan salah paham. Apalagi sudah beberapa hari ini kan Harry tidak memberi kabar apapun pada Nadine," tanya Dave.
"Bagaimana kalau diajak saja tinggal bersama kita? Sekarang Rani sedang hamil, tidak mungkin dia mencari pekerjaan. Kalau dia merasa sungkan, aku akan minta Rani untuk menjaga Devanya selama aku kuliah lagi." Sevia pun meminta persetujuan dulu dari Dave.
"Boleh sayang, aku setuju dengan ide kamu." Dave langsung mencium bibir Sevia.
Dia tidak mau menghilangkan kesempatan selama putrinya tidur maka dia akan bermain berbagi peluh dan saliva sepuasnya dengan Sevia. Sampai akhirnya pasangan suami istri itu mendapatkan pelepasan yang pertamanya bersamaan dengan suara bel yang berbunyi.
Sevia dan Dave langsung berlari menuju ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa percintaan mereka. Dengan waktu yang sesingkat-singkatnya, Dave langsung berpakaian kembali dan menuju ke pintu depan. Namun, dia langsung diam membeku saat melihat orang yang sedang berdiri di depan apartemennya.
"Bu Nadine, ada apa ke sini?" tanya Dave dengan mengerutkan keningnya.
"Boleh aku masuk, Dave?" tanya Nadine.
"Sebentar, aku panggil Sevia dulu." Dave langsung berbalik akan kembali ke dalam kamarnya. Namun, tangannya segera dipegang oleh Nadine.
"Maaf, Bu! Aku tidak mau istriku salah paham, Sevia selalu sensitif dengan perempuan yang ingin mendekati aku. Dia tidak segan-segan untuk menampar jika merasa miliknya ada yang merebut." Dave sedikit membual di depan Nadine agar wanita itu tidak bersikeras ingin berbicara berdua dengannya.
"Baiklah, aku hanya ingin bertanya di mana Harry? Kenapa dia tidak pulang ke rumah sudah tiga hari? Uang bulanan yang dia berikan sudah habis, sedangkan aku harus membeli susu hamil dan keperluan rumah lainnya," keluh Nadine.
"Berapa uang yang kamu butuhkan? Aku sedang mengirim Harry ke luar kota untuk beberapa hari, jadi dia tidak akan bisa menemui kamu," jelas Dave.
Sevia yang sudah selesai berpakaian, segera keluar kamar untuk menghampiri suaminya. Dia pikir tamu yang datang adalah Abang delivery yang mengantarkan pesanan makanannya. Namun, ternyata dugaannya salah karena yang dia dengar adalah suara seorang wanita.
"Cukup sepuluh juta saja, Dave!" sahut Nadine.
"Sepuluh juta buat apa?" tanya Sevia tiba-tiba dari belakang Dave.
Dave langsung berbalik dan merangkul pinggang istrinya. Dia pun tak lupa memberikan ciuman di pipi istrinya lalu berkata, "Nadine butuh uang untuk kebutuhan bulanannya, sedangkan Harry kan sedang aku kirim ke luar kota. Ya sudah, kamu temani Bu Nadine. Aku mau mengambil uang dulu ke kamar."
"Mari Mbak!" ajak Sevia.
Nadine hanya mengikuti Sevia tanpa ada niat untuk menyapanya. Dia terlihat kikuk karena merasa malu ketahuan Sevia meminta uang pada Dave. Kedua wanita itu terlihat canggung. Apalagi Sevia sudah tahu dari Dave kalau istri assisten suaminya sering diam-diam memperhatikannya.
"Mbak Nadine, bagaimana dengan kandungannya?" tanya Sevia membuka percakapan.
"Baik. Via, apa kamu mencintai Dave?" tanya Nadine.
"Tentu saja, memangnya kenapa?" tanya Sevia.
"Tidak apa,aku hanya kasian saja pada Dave jika sampai istrinya masih mencintai mantan pacarnya. Padahal Dave terlihat begitu mencintai kamu," sarkas Nadine.
"Iya bener, Mbak. Aku juga kasian sama suami yang memiliki istri tapi istrinya menyukai suami orang lain. Menurut aku, istri seperti itu tidak pandai bersyukur," sindir Sevia.
"Maksud kamu apa, Via? Kamu menyindir aku?" Nadine menunjuk mukanya sendiri.
"Tidak! Memang suami siapa yang Mbak Nadine sukai?" pancing Sevia.
Tentu saja suami kamu, tapi syukurlah kamu bodoh sehingga tidak menyadarinya, batin Nadine.
"Tidak ada. Harry saja sudah cukup buatku," elak Nadine.
"Syukurlah, aku was-was Mbak Nadine menyukai suamiku. Aku tidak akan tinggal diam saat ada orang yang ingin merebut suami aku. Aku akan sembur matanya dengan bon cabe ditambah lagi anunya juga akan aku masukkan balsem Geliga biar dia kejang-kejang kepanasan."
Aku tidak menyangka istrinya Dave bar-bar juga. Aku pikir dia orang yang polos dan mudah ditipu, batin Nadine.
Dulu aku selalu mengalah setiap ada orang yang merebut kekasihku. Tapi sekarang aku tidak akan tinggal diam karena bukan hanya aku yang membutuhkan Dave tapi Devanya sangat membutuhkan kasih sayang papanya.
...~Bersambung~...