Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 117 Jauhkan Bibit Pelakor!


"Beruntung sekali wanita itu, aku ingin sekali merasakan ciumannya yang bergairah."


Wina pun langsung berlalu pergi menuju ke dapur villa. Dia tidak ingin majikannya menyadari kalau tadi dia sudah melihat apa yang dilakukan majikannya. Saat sampai di dapur, dia bertemu dengan Bi Lina.


"Permisi, Bu! Aku mau mengantarkan untuk hidangan makan malam," ucap Wina.


"Oh, kamu putrinya Pak Ujang?" tanya Lina.


"Iya, Bu! Tadi bapak menyuruh masak untuk Tuan Dave dan istrinya. Kalau boleh tahu ibu ini siapanya Tuan Dave?" tanya Wina.


"Panggil saja Bi Lina. Aku pengasuh putrinya, dulu Aden juga aku yang mengasuhnya." Lina pun tersenyum hangat pada gadis muda itu.


"Aku Wina, Bu. Sepertinya Tuan Dave masih muda ya, tapi dia sudah memiliki anak."


"Sudahlah! Tidak baik terlalu kepo dengan kehidupan orang lain, katanya akan mempercepat umur kita."


"Masa sih, Bi? Bisa saja Bi Lina ini." Wina pun tersenyum, menganggap apa yang dikatakan oleh Bu Lina sebuah lelucon.


Bi Lina hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya. Dia pun membantu Wina yang sedang menyiapkan makanan untuk dihidangkan. Seraya menghidangkan makanan, Wina terus saja mengajak ngobrol pada Bi Lina dan menanyakan beberapa hal tentang Dave. Sampai Sevia yang yang akan mengambil minum ke dapur, sempat mematung di ambang pintu saat mendengar pembicaraan mereka.


Siapa gadis ini? Apa saudaranya Bi Lina? Kenapa dia begitu bersemangat menanyakan soal Dave? Apa dia menyukai suamiku? Tidak bisa! Meskipun dia terlihat lebih muda dan nampak segar, aku tidak boleh membiarkannya. Aku tidak akan membiarkan dia merebut Dave, batin Sevia.


"Loh, Neng Via. Kenapa hanya berdiri di situ? Ada yang mau diambil?" Bi Lina nampak terkejut melihat Sevia yang mematung di ambang pintu.


Semoga saja dia tidak mendengar apa yang Wina tanyakan, batin Bi Lina.


"Aku mau mengambil minum untuk suamiku, gelasnya sebelah mana Bi? Biar aku ambil sendiri," tanya Sevia.


"Biar aku yang siapkan, Nyonya!" sela Wina.


"Tidak usah! Kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu!" suruh Sevia.


Aku tidak akan membiarkan gadis itu menyiapkan minuman untuk Dave. Aku takut seperti di film-film yang minumannya dicampur dengan obat, batin Sevia.


Sevia pun langsung beranjak pergi setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Bi Lina hanya melihat apa yang Sevia lakukan, dia yakin kalau istri majikannya itu sudah mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia segera menyelesaikan apa yang tadi dikerjakannya lalu pergi dari dapur menyusul Sevia ke depan.


Saat sampai di ruang keluarga, nampak Sevia yang dalam rengkuhan Dave bersama dengan Devanya dalam pangkuannya. Bu Lina menghela napas lega melihat kebahagiaan keluarga kecil itu. Meskipun Dave bukan putranya tapi dia sangat menyayangi anak asuhnya itu. Apalagi, dia yang merawat Dave sedari masih bayi saat pertama kali dibawa ke tanah air oleh eyangnya.


"Permisi, Den. Makan malam sudah siap, biar Devanya Bibi yang pegang," ucap Bi Lina.


"Iya, Bi Makasih!" sahut Dave. "Sayang, sama Bibi dulu ya. Papa sama Mama mau makan dulu," lanjutnya.


"Mamam mamam," Celoteh Devanya yang sudah belajar bicara.


"Deva masih mau makan?" tanya Sevia yang memang baru selesai memberi putrinya makan.


"Mimi mimi," Devanya langsung berpindah ke pangkuan Sevia dan mengdusel ke buah kembar sumber kehidupannya.


"Sepertinya Deva ngantuk, aku mau nemenin dia tidur dulu." Sevia langsung bangun dari tidurnya seraya menggendong putrinya menuju ke kamar.


Dave yang masih duduk di bawah dengan menyender ke kursi, lalu bicara pada Bu Lina. "Bi, aku makannya nanti saja nunggu Via. Bibi makan duluan saja, takutnya kita makan telat," ucapnya.


"Tidak usah, Bi. Aku mau ke teras dulu." Dave pun langsung beranjak pergi menuju ke teras villanya.


Dia mengeluarkan satu bungkus benda bernikotin yang selalu dia simpan di kantong celananya. Meskipun Dave hanya sesekali menghisapnya saat dia sedang butuh ketenangan. Dia pun larut mempermainkan asap yang keluar dari mulut dan hidungnya dengan mata yang memandang jauh ke depan.


Melihat Dave yang sedang asyik sendiri di teras, Wina terus melihat dari depan pintu dapur. Ingin sekali dia menghampiri pria tampan itu, yang sukses membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Wina pun berinisiatif untuk membuatkan segelas kopi untuk menemani Dave yang sedang merokok.


"Wina, bikin kopi untuk siapa?" tanya Bi Lina.


"Oh, itu tadi diminta untuk bikin kopi oleh Tuan." Bohong Wina dengan tangan yang terus mengaduk kopi capuccino.


Aneh, bukannya tadi tidak mau aku bikinkan kopi. Tumben juga mau capuccino, biasanya kalau capuccino Den Dave suka pakai es, batin Lina.


Wina langsung membawa kopi buatannya ke luar. Namun, baru saja beberapa langkah dari depan pintu dapur, hatinya dibuat hancur berkeping-keping saat melihat Sevia sedang memeluk Dave dari belakang. Rupanya Devanya langsung tertidur sehingga Sevia tidak butuh waktu lama untuk nina bobo putrinya dan segera menyusul Dave yang dia lihat ada di teras Villa.


Kenapa wanita itu seperti tidak memberikan kesempatan padaku agar bisa mendekati pangeran tampan itu, batin Wina.


"Wina, itu kopi buat Bapak? Kebetulan sekali Bapak mau bikin kopi," Pak Ujang, penjaga Villa sekaligus bapaknya Wina langsung mengambil kopi yang ada di nampan.


"Bapak, itu kan buat Tuan Dave, kenapa diminum?" Wina yang baru sadar dari lamunannya langsung bicara dengan suara yang agak keras karena Pak Ujang yang usianya sudah menginjak kepala enam, pendengarannya sudah berkurang.


"Kamu bikin saja lagi, ini sudah Bapak minum." Tanpa memperdulikan kekesalan putrinya, Pak Ujang berlalu pergi menuju ke pos satpam yang ada di dekat pintu gerbang villa seraya membawa segelas kopi di tangannya.


Sementara Sevia yang sedang memeluk Dave, langsung melepaskan pelukannya. Dia hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


"Perasaan aku tidak meminta kopi padanya. Lagipula aku tidak tahu kalau dia ada di Villa ini. Memang dia siapa? Apa anaknya Pak Ujang?" gumam Dave yang masih bisa didengar oleh Sevia.


"Dia fans kamu Dave. Ayo makan, aku lapar sekali!" ajak Sevia seraya menarik tangan suaminya.


"Apa istriku sedang cemburu? Wah senangnya hatiku dicemburui oleh Tante mesumku." Dave langsung merangkul pinggang Sevia dan berjalan beriringan menuju ke meja makan.


"Aku tidak cemburu, aku hanya waspada dengan bibit-bibit pelakor. Jadi sebelum bibit itu tumbuh dengan subur, aku akan menyemprotnya dengan pestisida agar layu sebelum berkembang," tutur Sevia dengan berapi-api.


Cup


Satu kecupan mendapat di pipi Sevia, membuat pipi ibu satu anak itu langsung merona. Bukan apa-apa, tapi Dave mencium pipinya di depan Bi Lina yang sedang menyiapkan piring untuknya.


"Lakukan sesukamu dan jauhkan aku dari bibit pelakor yang akan jadi parasit untuk pernikahan kita."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...


Kepoin juga karya Author keren yang satu ini yuk!