
Dua hari sudah Diwan berada di ruang ICU, dia mengalami pendarahan di kepalanya dengan kaki dan tangan yang retak. Sampai akhirnya dia tersadar dari komanya dan memanggil nama istrinya. Sedangkan Harry, sudah diperbolehkan pulang. Sevia dan Dave setiap hari selalu selalu menyempatkan diri untuk menjenguk sahabatnya dan menitipkan Devanya pada Icha.
"Rani, jaga dirimu baik-baik. Maafkan Mas tidak bisa terus bersamamu," lirih Diwan dengan menahan rasa sakitnya.
"Mas harus sembuh, aku ingin terus bersama dengan Mas Diwan," ucap Rani dengan suara seraknya.
Harry dan Dave yang sengaja ingin menjenguk Diwan sebelum pulang, tak sengaja mendengar apa yang Rani katakan.
"Mas, saya sangat menyesal dengan apa yang telah terjadi. Saya minta maaf karena kecerobohan saya, Mas harus terbaring di sini," sesal Harry.
"Semua sudah terjadi, saya juga salah karena tidak fokus. Saya hanya ingin menitipkan wanita yang sangat saya cintai. Tolong jaga dia dengan baik!" pinta Diwan.
"Saya pasti akan menjaganya," ucap Harry.
"Terima kasih, Rani jangan sedih! Mas harus pergi." Diwan langsung menutup matanya dengan bibir yang masih menyebut nama Tuhan-nya sampai akhirnya nyawa itu terlepas dari raganya.
"Tidak Mas, jangan pergi hiks ... hiks ...hiks ...." Rani langsung menangis histeris saat menyadari suaminya sudah tidak ada detak jatungnya.
Harry langsung merengkuh tubuh Rani yang pingsan karena tidak kuat menerima kenyataan, sedangkan Dave langsung memanggil dokter. Sevia yang mendapat kabar dari Dave tentang kematian suami sahabatnya langsung bergegas menuju ke rumah. Dia dengan setia menemani Rani sampai siuman.
...***...
Langit terlihat mendung melepaskan kepergian seorang anak manusia untuk menghadap Sang Pencipta. Seperti mewakili hati Rani yang tidak ada semangat untuk menjalani kehidupan yang panjang. Apalagi ibu mertuanya yang terus menyalahkan dia atas kecelakaan yang menimpa putranya.
"Rani, gara-gara kamu Diwan tidak ada. Sekarang cepat bereskan barang-barang kamu dari rumah putraku. Kamu itu hanya perempuan pembawa sial dalam keluargaku. Sudah tidak bisa memiliki anak, sekarang membuat putraku pergi untuk selama-lamanya." Ibunya Diwan langsung memarahi Rani sepulang mereka dari pemakaman.
Sedari awal, ibu mertuanya memang kurang setuju dia menikah dengan putranya. Apalagi saat mereka mengetahui kondisi keadaan rumah Rani yang hanya orang biasa saja tidak jauh berbeda dengan Sevia. Membuat Ibu mertuanya selalu bicara seenaknya.
"Ibu, rumah ini aku beli bersama dengan Mas Diwan. Jadi aku berhak atas rumah ini," jawab Rani.
"Kamu hanya ikut membelinya tapi uangnya dari putraku. Jadi kamu tidak berhak tinggal di sini," sentak ibunya Diwan.
"Sudah Ran! Ayo bereskan barag-barang kamu. Nanti aku bantu cari rumah untuk kamu. Jangan lupa bawa surat-surat berharganya," bisik Sevia.
Rani yang sedang tidak bisa berpikir panjang, akhirnya menuruti apa yang Sevia katakan. Dia juga tidak tahan jika harus terus menerima hinaan dari mertuanya. Harry dan Dave yang melihat dan mendengar apa yang terjadi di rumah itu hanya diam dengan pikiran yang terus menerawang jauh ke depan. Setelah Rani membereskan semua barang-barangnya, Dia pun ikut bersama dengan Sevia.
"Rani, untuk sementara tinggal saja di apartemenku. Aku sudah tidak memakainya karena sekarang sudah pindah," ucap Harry saat mereka sedang berada di mobil.
"Tapi aku ...." Rani tidak melanjutkan kata-katanya yang seperti tercekat di tenggorakan.
"Iya, Ran. Nanti aku juga nginap di apartemen Dave yang ada di sebelahnya. Kamu tenang saja, aku pasti akan menemani kamu," timpal Sevia.
"Makasih, Via." Rani hanya bisa menunduk dengan buliran air mata yang merembes di pelupuk matanya.
"Jangan menangis terus, kasian Mas Diwan jadi tidak tenang di sana." Sevia terus mengelus punggung Rani yang memang berada di sebelahnya. Sedari di rumah sakit, Sevia tidak jauh dari Rani. Dia terus menemani sahabatnya yang pasti sedang terpuruk dengan keeprgian suami yg sangat dicintainya. Sampai suara ponselnya berbunyi, barulah dia menghentikan gerakannya.
"Hallo, Assalamu'laikum." Sevia langsung mengucapkan salam saat mengangkat panggilan teleponnya.
"Iya, Tan. Sebentar lagi sampai, Via sudah dekat dengan rumah," jawab Sevia.
"Oh, ya sudah Tante tutup dulu." Icha pun langsung menutup panggilan teleponnya.
Sevia hanya tersenyum saat melihat wajah bersalah Rani. Meskipun tidak di loudspeakers, tapi sayup-sayup Rani bisa mendengar pembicaraan sahabatnya.
"Maafkan aku merepotkanmu," lirih Rani.
"Sesama sahabat tidak ada yang namanya saling merepotkan, tapi saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Kita ke rumah Tante Icha dulu ya. Sekalian membawa beberapa baju untuk menginap apartemennya," ucap Sevia.
Rani hanya mengangguk mengiyakan. Dia sudah pasrah dengan hidupnya, seperti sudah tidak ada kekuatan untuk menjalani hidup. Sementara Dave yang mendengar pembicaraan istrinya, langsung bertanya pada Sevia.
"Kenapa Tante nelpon?" tanya Dave.
"Devanya nangis ingin mimi. Kita ke rumah Tante dulu, baru lanjut ke apartemen," jawab Sevia.
Tak berapa lama kemudian, mobil Dave sudah tiba di rumah Kediaman Putra. Sevia yang teringat terus dengan putrinya, dia terburu-buru langsung turun dari mobil sampai melupakan Rani yang msih duduk di bangku belakang. Harry yang menyadari kalau Rani belum turun juga, akhirnya dia membuka pintu belakang dan melongokkan kepalanya ke dalam mobil.
"Ayo turun! Jangan sungkan keluarga tantenya Dave baik semua kho," ucap Harry.
Rani yang sedang bengong dengan pikiran entah ke mana menjadi kaget saat mendengar suara Harry. "Sudah sampai ya? Sevia mana?"
"Sevia sudah masuk ke rumah. Putrinya menangis terus. Ayo turun, kita menunggu Sevia berkemas di dalam!" ajak Harry.
Rani hanya mengangguk dan mengikuti ajakan Harry tanpa bicara lagi. Dia benar-benar sedang malas untuk mengeluarkan suaranya. Harry yang mengerti dengan keadaan Rani, akhirnya hanya diam saja.
Sampai di dalam rumah, mereka langsung disambut baik oleh Icha. "Loh Rani, kamu baik-baik saja?"
"Baik Tan," jawab Rani lesu dengan mencium punggung tangan Icha.
"Sabar ya, Tante turut bela sungkawa. Semoga almarhum husnul khotimah," ucap Icha.
"Makasih, Tan!" jawab Rani dengan tersenyum getir.
Kenapa Rani ikut kemari? Bukankah suaminya baru saja meninggal? Seharusnya dia kan di rumah menunggu para pelayat yang datang, batin Icha.
Setelah cukup berbasa-basi, Icha pun undur dri karena dipanggil oleh suaminya. Sementara Rani dan Harry menunggu di ruang tamu sampai Sevia dan Dave selesai membereskan apa yang akan dibawanya.
"Rani, kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi aku. Sini ponselmu!" Harry meminta ponsel Rani, kemudian mengetikkan nomornya setelah Rani memberikannya. Tak lama kemudian terdengar panggilan telepon ke ponselnya. Harry pun langsung menyimpan nomor ponsel Rani.
"Harry, maaf jika aku merepotkanmu!"
...~Bersambung~...
...Dukungannya jangan kendor ya kawan! Biar othor tambah semangat updatenya....