Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 132 Persiapan Pesta


Setelah membuat janji untuk makan malam bersama Tuan Hamish dan Nyonya Kirana, Dave pun segera pergi ke kamar untuk memberitahu istrinya kapan dan di mana makan malam itu dilaksanakan.


Nampak Sevia yang sudah tiduran di.atas kasur dengan ponsel di tangannya. Dia sedang berbalas pesan dengan bapaknya dan menanyakan apakah sudah sampai ke rumah atau belum. Meskipun Pak Rudi selalu terlihat tidak peduli padanya, tetapi rasa sayang Sevia pada bapaknya tidaklah berkurang.


"Chatting sama siapa?" tanya Dave.


"Sama Bapak. Katanya dia baru sampai di rumah," jawab Sevia.


"Sampai di rumah? Memangnya dia habis dari mana?" tanya Dave heran.


"Aku lupa, tadi pagi bapak datang ke sini tapi tidak lama. Bapak hanya berpesan agar aku tidak mudah percaya pada orang yang baru dikenal," ucap Sevia dengan mata yang tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Kenapa tidak nginap?"


"Mana pernah Bapak nginap, dari dulu juga selalu begitu, setiap kali sudah aku kasih uang, Bapak pasti segera pulang."


"Kasih uang berapa ke bapak?"


"Aku kasih sepuluh juta. Itu uang aku, Dave. Aku ngumpulin uang dari sisa belanja," Sevia dengan cepat menjelaskan. Dia nampak harap-harap cemas takut Dave mengira kalau dia mengambil uang suaminya untuk diberikan pada bapaknya.


"Via, kalau kamu butuh uang, berapa pun itu, minta saja padaku, tidak usah sungkan. Aku tidak mempermasalahkan jika kamu ingin memberi uang pada keluarga kamu atau memberikan uang bulanan untuk nenek. Aku hanya tidak mau jika uang yang kita berikan dipakai bapak untuk bertaruh," tutur Dave.


"Iya Dave. Tadi aku sudah bilang pada Nenek kalau aku titip uang buat nenek sama bapak," jelas Sevia.


"Oh iya, lusa kita makan malam dengan Keluarga Tuan Hamish. Nanti mereka akan berkunjung ke sini. Sekalian kita merayakan ulang tahun Devanya," ucap Dave.


"Hampir saja aku lupa dengan ulang tahun anak sendiri. Soalnya aku tidak pernah merayakannya, paling hanya Rani yang mengingatnya."


Kenapa aku juga tidak pernah ingat dengan ulang tahun Sevia. Padahal perempuan kan paling senang jika ada mengucapkan selamat padanya, batin Dave.


Tak berapa lama kemudian, terdengar suara pintu kamar di ketuk dari luar. Setelah dipersilakan masuk, nampak Harry melongokkan kepalanya dia di ambang pintu. Dia baru saja datang dengan aromaterapi yang Dave inginkan.


"Harry, apa kamu mendapatkannya?" tanya Dave.


"Nih, aku membeli semua aromaterapi yang ada di mall. Sisanya ada di bawah, ini untuk persediaan kamu di kamar." Harry memberikan satu kantong sedang aromaterapi pada Dave.


"Kamu memang selalu bisa aku andalkan," puji Dave dengan wajah yang berseri. Dia senang karena akhirnya bisa dekat-dekat lagi dengan istrinya. "Ya sudah, sekarang kamu keluar! Aku mau tidur dengan istriku,"


"Dave, kamu langsung mengusir aku?" tanya Harry dengan wajah yang melongo dengan tangan menunjuk mukanya sendiri.


"Bukankah urusan kamu sudah selesai?" tanya Dave dengan tidak tahu malunya.


"Oh iya benar, aku kembali ke kamar dulu." Harry pun langsung pergi menuju ke kamarnya, sedangkan Dave hanya mengangkat bahunya tidak peduli.


Dia pun langsung menuju ke tempat tidur setelah memasang aromaterapi yang tadi di bawa oleh Harry sehingga wangi bergamot memenuhi kamarnya.


"Via, sudah tidak mual kan saat dekat denganku?" tanya Dave seraya duduk di tepi ranjang.


"Iya, Dave. Kamu kho tahu aroma ini bisa membuatku tidak merasakan mual sangat berdekatan denganmu?"


"Aku hanya mengira-ngira, soalnya pas di kamar mandi aku memakai aroma yang ini." jelas Dave. Sudahlah, ayo kita tidur!"


Pasangan suami istri itu pun tidur saling berpelukan tanpa olahraga malam terlebih dahulu. Mereka mengingat pesan dokter kalau pada saat hamil muda, tidak boleh terlalu sering melakukan hubungan badan.


...***...


Keesokan harinya, nampak semua penghuni rumah dibuat sibuk dengan pesta dadakan ulang tahun Devanya, pasalnya bukan hanya Keluarga Tuan Hamish tetapi om dan tantenya juga diberitahu sehingga mereka semua sibuk mempersiapkan pesta kecil-kecilan untuk Devanya.


"Via, sepulang dari sini kita mampir dulu ke mall yuk! Aku mau membeli susu untuk Langit," ajak Rani.


"Ayo, lagian tadi Dave juga mengirim pesan kalau hari ini dia pulang telat." Sevia langsung menyetujui ajakan sahabatnya.


Di sinilah mereka sekarang, sebuah supermarket terbesar di kota industri. Sevia dan Rani sudah siap dengan trolinya. Meskipun mereka sudah 27 tahun, tapi masih kelihatan muda.


"Rani, kita cari buah yuk! Aku ingin sekali membuat salad buah," ajak Sevia.


"Ayo, kita beli yang banyak sekalian buat stok."


Dua sahabat itu begitu asyik memilih buah yang akan mereka beli, sampai tanpa sengaja menyenggol seorang wanita yang perutnya terlihat sudah membuncit. Meskipun orang itu tidak kenapa-napa tetapi dia langsung memarahi Sevia dan Rani.


"Yang benar saja, Mbak! Kamu tidak lihat kalau aku sedang hamil? Bagaimana nanti kalau aku sampai jatuh ke lantai. Kalian mau tanggung jawab?" bentak wanita itu.


"Maaf, Mbak. Kami tidak sengaja. Tadi aku terlalu fokus pada jeruk lemon," ucap Sevia.


Bukannya dia istrinya Andika ya? Galak banget, aku kan tidak sengaja, batin Sevia.


"Makanya mata tuh dipake yang benar. Sudah dikasih normal juga masih saja tidak melihat," geram Risa.


"Mbak, biasa aja dong! Sahabat aku kan udah minta maaf. Lagipula, Mbak gak kenapa-napa. Hanya kesenggol dikit aja sampai marah-marah," bela Rani.


"Kamu tidak melihat, aku sedang hamil besar? Kalau aku jatuh bagaimana? Apa kamu sengaja menyenggol aku agar aku jatuh dan kamu kembali ke mantan kamu itu?" bentak Risa.


"Maksud Mbak?" tanya Rani yang tidak mengerti dengan maksud ucapan Risa.


Saat Risa akan bicara lagi, Andika datang bersama putrinya. Dia sempat kaget saat melihat Sevia ada di sana dengan istrinya.


"Loh, Via. Kamu belanja juga?" tanya Andika.


"Ayah, tadi dia mau bikin ibu jatuh. Untung saja tidak sampai jatuh beneran," adu Risa pada Andika.


"Dia istri kamu? Ajarin dong Di istrinya, jangan asal nuduh orang sembarangan." Rani yang kesal dengan sikap Risa sehingga dia berbalik mengadukan Risa pada Andika.


"Maaf ya Rani, ibu hamil memang sensitif." Andika bicara pada Rani tetapi matanya tidak berpaling dari Sevia yang malah melanjutkan memilih buat lemon.


Sevia semakin cantik saja, sayang dia sudah bukan milikku lagi. Andai waktu bisa ku putar kembali, aku tidak akan menyia-nyiakan dia untuk gadis yang hanya bisa memberi kebahagiaan semu padaku, batin Andika.


"Ayah, ayah kenapa malah melamun? Lihat Anne sudah lari-lari ke es krim!" Risa mengguncangkan tangan Andika yang mematung melihat gerak-gerik Sevia.


"Ah iya, Rani, Via aku ke sana dulu," pamit Andika dengan membawa istrinya pergi.


"Iya silakan!" sahut Rani.


Setelah kepergian Andika dan Risa, Rani pun berbisik pada Sevia. "Via, lihat tidak, tadi Andika melihat kamu terus? Sepertinya dia menyesal sudah menyakiti kamu."


"Biarkan saja, aku malah bersyukur karena tidak berjodoh di dengannya. Karena aku akhirnya mendapatkan lelaki yang mencintai aku apa adanya. Meskipun awal memang kurang baik."


...~Bersambung~...


Sambil menunggu Brondong update, yuk kepoin juga karya Author keren yang satu ini!