
Selama perjalanan menuju butik, Zee diam membisu. Tak jauh berbeda dengan Dave yang kini merasa canggung berada di dekat Zee. Tidak seperti dulu saat mereka masih dalam status hubungan kakak dan adik. Tidak ada jarak di antara keduanya.
"Dave, seandainya Malvin tidak ketemu, apa yang akan kita lakukan? Bagaimana dengan pacarmu? Kamu yakin, ingin meninggalkan dia demi anak yang ada dalam perutku?" tanya Zee mengurai kecanggungan di antara keduanya.
"Aku pasti melakukan apapun untuk kebaikan kamu dan keluarga kita," jawab Dave.
"Serius, kamu akan melakukan apapun untuk kebaikan aku?" tanya Zee.
"Aku serius, Zee!" tegas Dave.
"Baiklah! Aku ingin minta ijin pada pacarmu itu, agar dia tidak salah paham dengan hubungan kita," ucap Zee.
"Tapi Zee ...."
"Kenapa? Kamu tidak suka kalau aku bertemu dengan pacarmu? Kamu tenang saja Dave, anakku hanya butuh status begitupun dengan aku. Setelah anak ini lahir, mari kita kembali pada hubungan yang seharusnya!" ajak Zee.
"Zee, kamu serius? Tapi nanti kamu akan jadi janda muda," tanya Dave.
"Kenapa memangnya? Kak Lana juga baik-baik saja setelah kepergian Bang Dika. Bahkan sekarang dia sedang dekat dengan Bang Kendra." Zee memalingkan mukanya melihat ke arah luar jendela.
Hatinya benar-benar kacau. Dia tidak menyangka pesta perayaan wisudanya menjadi sebuah bumerang untuk hidupnya. Zee yang begitu cinta pada Malvin dengan mudahnya percaya, sehingga minumannya dicampur dengan obat yang membuatnya menjadi bergairah.
"Baiklah nanti kita ketemu di cafe setelah pulang dari butik," ucap Dave.
"Tidak, Dave! Aku ingin berkunjung ke rumahnya. Aku hanya ingin mengenal calon kakak ipar aku," ungkap Zee.
Tak berapa lama kemudian, mobil Dave sudah terparkir rapi di depan sebuah butik ternama di ibu kota. Dave segera turun setelah melepaskan sabuk pengamannya, begitupun dengan Zee yang langsung mengikutinya. Zee langsung masuk ke dalam untuk menemui Arabella, pemilik butik tersebut.
"Siang, Kak Ara!" sapa Zee pada seorang wanita muda yang usianya terpaut sepuluh tahun diatasnya.
"Siang, Zee! Wah calon manten kho kaya gak bersemangat gini? Lemas banget Zee." Arabella langsung mengajak Zee untuk duduk. "Duduk, Dave!"
Dave pun langsung duduk di sofa yang terpisah dengan Zee dan Arabella. Dia hanya diam mendengarkan obrolan receh Zee dan Arabella yang memang selalu heboh saat mereka bertemu. Seraya menunggu dua wanita itu mengobrol, Dave langsung mengirim pesan pada Sevia.
Send to My Wife
[Via, sedang apa? Aku merindukanmu, nanti aku mampir ke tempatmu sepulang dari butik]
Tak ada balasan dari Sevia, sehingga dia hanya membolak-balikkan terus ponselnya. Namun, saat Dave sedang iseng melacak keberadaan Sevia, ada sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.
08584xxxxx
[Tolong aku!]
Dave menautkan alisnya karena nomor yang mengirim pesan padanya berada di sebuah pulau kecil yang merupakan kawasan pulau pribadi milik para pengusaha dan penguasa negeri ini. 'Jangan-jangan,' pikir Dave.
"Zee, masih lama tidak? Aku ada urusan," ucap Dave.
"Kak Ara, bagaimana bajunya sudah siap?" tanya Zee.
"Oh, sudah! Coba saja dulu Zee," suruh Arabella.
"Tidak usah Kak! Kan udah pernah diukur," sahut Zee.
"Ada apa sih, Dave? Buru-buru sekali," tanya Arabella.
"Maaf, Kak Ara! Aku ada urusan penting," ucap Dave.
Setelah berpamitan pada Arabella, Dave dan Zee pun langsung pulang. Mereka membatalkan rencana ke rumah Sevia karena Dave seperti sedang terburu-buru kembali ke kantornya.
"Dave, pacarmu masih Sevia yang waktu itu kan?" tanya Zee.
"Iya,"
"Putra Residence," jawab Dave datar dengan wajah yang terlihat tegang.
"Nomor berapa?" tanya Zee lagi
"163A." Lagi-lagi Dave menjawab dengan hati dan pikiran yang sedang tidak berada di tempatnya, sehingga Zee memanfaatkannya untuk mengorek informasi lebih banyak lagi.
"Apa kamu mencintainya?"
"Iya,"
"Apa kamu ingin selalu bersamanya?"
"Iya,"
"Apa kamu terpaksa dengan pertunangan ini?"
"Iya,"
Zee hanya tersenyum mendengar jawaban dari Dave. Dia tahu kalau Dave sedang panik pasti akan menjawab dengan jujur apa yang ada di dalam hatinya. Akhirnya dia pun terdiam sampai Dave mengantarkan dia ke rumahnya.
...***...
Ballroom sebuah hotel bintang lima kini sudah dihias dengan begitu cantik dan apik. Nampak seorang pemuda tampan yang terlihat gelisah. Sedari tadi, dia terus melihat ke layar ponselnya. Dave begitu gelisah karena dia tidak mendapatkan kabar dari Sevia dari semalam. Apalagi, saat tadi pagi dia ke rumahnya, terlihat kosong seperti tak berpenghuni.
Tamu undangan sudah banyak yang berdatangan memenuhi tempat acara. Tak terkecuali Adam yang memang sengaja datang memenuhi mantan bosnya dulu. Namun, sepertinya pemuda itu pun terlihat kurang bersemangat tidak seperti saat dia berangkat dari rumah. Pasalnya, dia tidak mendapati Sevia di rumahnya saat akan menjemputnya.
Terdengar suara MC sudah memulai acaranya, sambutan pembuka pun dibawakan dengan apik oleh Al sebagai tuan rumah. Namun, saat kedua calon pasangan akan bertukar cincin, ada hal yang membuat hadirin yang hadir menjadi terkejut.
"Maaf, sebelum acara pertunangan ini dilanjutkan, Aku Lovely Zevanya Marchdika dengan ini membatalkan acara pertunangan aku dengan Dave," ucap Zee
"Zee! Apa yang kamu lakukan?" pekik Al.
"Zee, kenapa kamu membatalkannya, Nak?" tanya Icha kaget.
"Zee, maksud kamu apa?" tanya Dave.
"Maafkan aku, Pah, Mah, Dave! Aku tidak bisa melanjutkan sebuah hubungan yang di dalamnya tidak ada cinta. Aku tidak ingin hidup dengan bayang-bayang rasa bersalah karena telah memisahkan dua orang yang saling mencintai. Karena ada orang yang lebih berhak menjadi pendamping Dave dan itu bukan aku!"
"Maafkan aku Mah, Pah! Jika keputusan aku sudah mengecewakan kalian. Tapi percayalah, semua ini demi kebahagiaan kita semua. Kejora, Edelweiss bawa dia ke mari!" suruh Zee.
Kejora dan Edelweiss yang berdiri tidak jauh dari Zee langsung berbalik menuju ke sebuah ruangan. Tak lama kemudian, dia sudah kembali dengan mengapit seorang wanita cantik yang sudah didandani dengan begitu cantik. Dave dibuat melongo dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak pernah menyangka Zee akan melakukan sebuah kegilaan yang mampu membuatnya bahagia. Dengan tersenyum lebar, Dave menyambut kedatangan kekasih hatinya.
"Via," lirih Dave.
"Zee apa maksudnya ini? Siapa dia? Kenapa kamu membuat kekacauan di pestamu sendiri?" tanya Al bertubi-tubi.
"Dia calon kakak ipar aku, Pah! Aku minta Papa harus menyetujui hubungan mereka, kalau tidak aku akan kabur dari rumah seperti mama dulu," ancam Zee.
"Zee!!!" pekik Al. Dia tidak menyangka masa lalunya akan diketahui oleh anak-anaknya. "Baiklah, asal kamu tetap bersama kami, Papa akan merestui mereka."
"Ayo Dave, pasangkan cincinnya! Aku sudah bersusah payah membawanya ke mari. Kamu jangan menyia-nyiakan kesempatan." suruh Zee.
"Zee, kamu apakah istriku? Kenapa tatapan matanya kosong?" bisik Dave.
"Aku menghipnotisnya."
...~Bersambung~...
...Ayo-ayo pendukung Dave dan Sevia jangan lupa saweranya, biar othor lbih semangat updatenya....