
"Tidak apa, dia hanya salah minum. Abang makan dulu!"
Devanya yang penasaran dengan apa yang terjadi pada Orion, dia pun berniat untuk masuk ke dalam kamar tamu. Namun, baru saja dia memegang handle pintu, tangannya sudah ditarik oleh Keano.
"Jangan mengganggunya! Dia sedang tidur," ujar Keano. "Ayo temani Abang makan!" lanjutnya.
Devanya pun akhirnya mengikuti Keano menuju ke meja makan. Dia kembali duduk di tempatnya dan melanjutkan makannya yang tadi sempat tertunda. Sementara Keano hanya tersenyum samar melihat Devanya yang seperti masih penasaran dengan apa yang terjadi pada Orion.
"Deva, habiskan makannya. Nanti Abang antar pulang!" suruh Keano.
"Iya, Bang!"
"Jangan khawatirkan Orion, dia baik-baik saja."
"Bang, apa Orion sedang mabuk?" tanya Devanya penasaran.
"Iya, dia terlalu banyak minum. Kalau makannya sudah, ayo kita berangkat biar tidak kemalaman!"
"Iya, Bang. Aku cuci piringnya dulu," ucap Devanya.
"Masukkan saja ke alat pencuci piring!" suruh Keano.
"Siap, Bang!" Devanya pun langsung membereskan piring dan gelas bekas mereka makan. Lalu memasukkannya ke dalam alat khusus untuk mencuci piring.
Merasa semuanya sudah terlihat beres, Devanya pun langsung menemui Keano yang sudah menunggunya di ruang tengah. Pemuda tampan namun masih betah menjomblo itu, langsung menengok saat merasakan kedatangan Devanya yang menghampirinya.
"Sudah?"
"Sudah, Bang. Gak apa-apa Bang Orion ditinggal sendiri?"
"Gak apa, ayo!" ajak Keano.
Keduanya pun langsung menuju ke basemen. Tak ada yang bersuara selama menuju ke basemen. Saat sudah berada di dalam mobil, barulah Keano berbicara.
"Deva, kamu tenang saja! Saat kita keluar, Hayden dan Willy akan datang menjaga Orion." ucap Keano.
"Iya, Bang. Aku lagi gak mikirin Ion, kho. Aku hanya lagi menghapal tentang struktur organisasi di perusahaan Abang," elak Devanya.
"Pintar sekali mengelaknya!" Keano pun langsung melajukan mobilnya keluar dari basemen apartemen.
Dia kembali diam dan fokus melihat ke arah jalan raya. Sampai akhirnya, mobilnya sudah sampai ke halaman rumah Devanya. Keano pun ikut turun bersama dengan Devanya. Kedatangan mereka disambut oleh Sevia yang sengaja keluar saat mendengar suara mobil.
"Loh, Deva dianterin sama Ano?" tanya Sevia yang kebetulan membukakan pintu.
"Iya, Tan. Maaf kemalaman!" ucap Keano.
"Ayo masuk!" ajak Sevia.
"Tidak usah, Tan. Ano langsung pulang saja, masih ada pekerjaan belum diselesaikan," kilah Keano. "Ano pulang dulu, Tan."
"Makasih udah anterin Deva! Hati-hati di jalan ya!" pesan Sevia.
"Iya, Tan. Permisi!"
"Makasih, Bang!
Keano hanya tersenyum lalu beranjak pergi menuju ke mobilnya yang masih terparkir di depan rumah Devanya. Dia langsung bergegas menuju ke apartemen karena sebenarnya dia merasa khawatir pada Orion. Namun, hatinya sedikit tenang saat mendapat kabar dari Willy kalau efek formula itu bekerja dengan baik menetralkan obat pemikat gairah.
Saat sampai di apartemennya, nampak kedua sahabatnya sedang bermain kartu di ruang tengah apartemennya. Keano hanya menggelengkan kepalanya melihat wajah mereka berdua yang sudah penuh dengan coretan.
"Pastinya. Ano, siapa yang menjebak adikmu?" tanya Willy.
"Aku gak tahu, tapi dia sedang menghadiri pesta ulang tahun temannya," jawab Keano.
"Nekat juga tuh orang, mau menjebak pewaris Keluarga Pratama. Kalau Kakek Zidan tahu, apa yang akan dilakukannya?"
"Aku gak tahu," jawab Keano.
"Sudahlah, ayo kita main kartu lagi!" ajak Hayden.
...***...
Keesokan harinya, Orion terbangun dengan kepala yang terasa berat. Saat dia celingukan melihat ke sekeliling kamar. Terdengar suara pintu kamar ada yang membukanya.
"Sudah bangun? Kamu mandi dulu lalu minum obatnya." Keano berjalan menghampiri Orion lalu duduk di tepi tempat tidur.
"Bang, memang aku sakit apa? Kenapa disuruh minum obat?" tanya Orion bingung.
"Kamu sakit gila, lihat badanmu! Itu karena kamu mendadak gila," ujar Keano.
"Bang jangan menghinaku! Aku normal, masa aku gila," sangkal Orion.
"Sudah kamu mandi dulu. Abang tunggu di meja makan," ucap Keano kemudian berlalu pergi.
"Bang, baju ganti aku mana?"
"Kamu pakai baju Abang saja dulu," suruh Keano.
Setelah kepergian Keano, Orion pun langsung bergegas ke kamar mandi. Kilas balik bayangan saat dia berada di klub malam memenuhi pikirannya. Sampai akhirnya dia teringat pada Devanya, Orion pun mempercepat mandinya.
Selesai dengan ritual mandinya yang hanya butuh waktu sepuluh menit, Orion segera memakai bajunya. Setelah rapi berpakaian, dia pun langsung menemui Keano yang terlihat sedang membaca surat kabar di meja makan.
"Bang, Vanya di mana?" tanya Orion seraya mendudukan bokongnya di kursi.
"Sudah Abang antar pulang ke rumahnya. Ion, apa hubungan kamu dengan gadis itu?"
"Maksud Abang?"
"Coba kamu lihat ini!" Keano pun langsung memberikan ponselnya dan menunjukkan rekaman CCTV saat Orion berada di klub malam.
Matanya membulat sempurna melihat apa yang terjadi. Dia tidak menyangka Felisa begitu berani ingin menjebaknya. Tanpa sadar, tangannya mengepal dengan kuat.
"Sialan Felisa! Berani sekali menjebak aku," gerutu Orion.
"Ion, kamu seorang CEO. Sebaiknya kamu lebih hati-hati dalam bergaul. Bukannya Abang mau membatasi pergaulan kamu. Tapi kamu harus pandai melihat siapa yang baik dan hanya berpura-pura baik."
"Iya, Bang. Aku tidak akan mau lagi diajak main sama dia. Gadis itu selalu mengejar aku dan mengajak aku jalan. Tapi aku gak nyangka dia berani kasih aku obat. Kenapa gak ngomong langsung aja sama aku kalau dia mau begitu?"
"Lalu, kamu mau sama dia?" Keano benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Adik sepupunya.
"Ya nggaklah, Bang. Aku 'kan sekarang sudah punya pacar."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...