Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 92 Hamil


Hari pun terus berganti dan waktu terus berlalu. Setelah acara pesta pernikahan itu, kini Diandra dan Davin serta Rani sudah tinggal terpisah dengan Sevia. Begitupun dengan Keano dan Devanya yang sudah menempati rumah mereka sendiri.


Devanya yang memang dilarang bekerja di kantor oleh Keano, dia menyibukkan diri dengan membuat cerita di sebuah platform. Di samping itu, kesehariannya hanya merawat taman bunga miliknya dan mulai belajar memasak pada koki profesional.


Seperti saat ini, saat Devanya sedang mempraktekan pelajaran memasak dari koki yang sengaja di datangkan ke rumahnya, tiba-tiba ada sebuah tangan kekar yang melingkar di perutnya. Dia sudah menduga jika Keano pelakunya. Karena Devanya bisa mencium wangi khas suaminya.


"Bang, sudah pulang?" tanya Devanya seraya mematikan kompor.


"Abang kangen."


"Apaan sih, Bang? Baru juga pisah beberapa jam yang lalu, masa sudah kangen?" Devanya berusaha membalikkan tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan.


"Ay, besok ikut Abang ke kantor saja ya!"


"Kenapa harus ikut, memang ada acara apa?"


"Tidak ada apa-apa! Entah kenapa, Abang tidak bisa fokus kerja kalau tidak melihat kamu."


"Abang kenapa? Kan bisa lihat foto aku yang selalu Abang pajang di meja kerja," tanya Devanya.


"Sayang, biar Bi Rumi yang bereskan! Kita cari yang seger-seger yuk!" ajak Keano.


"Mau salad buah apa sip buah?" tanya Devanya.


"Aku mau rujak kedondong," jawab Keano


Devanya mengerutkan keningnya mendengar apa yang suaminya katakan. Sejak kapan Keano suka makanan yang asam. Bukannya dia selalu bergidik setiap kali memakan makanan yang rasanya kecut?


"Ayo Ay, kita cari penjual rujak kedondong. Nanti pakai motor saja," ajak Keano.


"Ya sudah ayo! Aku juga ingin makan siomay." Devanya langsung menyetujui saat tahu akan pergi dengan motor. Dia sudah kangen berkendara dengan roda dua itu. Menyalip mobil dan kendaraan lainnya yang ada di depan.


"Tunggu dulu, Ay! Kamu ganti baju dulu. Masa pakai daster."


"Hehehe ... Iya lupa, Bang."


Devanya langsung bergegas menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas. Dia langsung berganti pakaian secepat yang dia bisa. Setelah semuanya terlihat rapi, dia pun kembali menemui Keano.


"Bang, sedang bicara dengan siapa?" tanya Devanya saat tiba di belakang suaminya.


Mendengar suara istrinya yang bertanya, Keano pun langsung membalikkan badannya menghadap Devanya. Seulas senyum terbit menghiasi bibirnya. Dia semakin jatuh cinta melihat Devanya yang badannya sekarang sedikit berisi.


"Manager JS entertainment yang di negeri ginseng bilang mau ada acara tahunan di sana. Abang diminta datang untuk menghadirinya," jawab Keano.


"Ketemu artis cantik di sana dong!" Devanya langsung mengerucutkan bibirnya membuat sang suami dengan refleks memberikan kecupan pada bibir istrinya.


"Kamu tahu, Ay. Tidak ada wanita yang lebih cantik dari kamu ataupun Mommy." Keano menarik Devanya agar masuk ke dalam dekapannya. "Secantik apapun artis-artis di sana, tidak akan mengalahkan kecantikan kamu ataupun Mommy karena bagi Abang, kalian berdua wanita yang paling cantik di dunia ini."


"Abang ikh, sekarang pinter banget gombalnya." Devanya memukul dada suaminya pelan dengan wajah yang sudah bersemu merah. Dia senang,kini Keano tidak selalu dulu lagi.


Cup


Keano kembali mencium bibir istrinya sekilas, sebelum dia melepaskan Devanya. Rasanya, setiap hari setiap saat, dia ingin melakukan semua hal bersama dengan Devanya. Semua terasa hampa saat dia harus berjauhan dengan Devanya.


"Ayo kita berangkat!"


"Iya Bang!"


Bang Ano makin romantis aja. Makin hari, dia makin pinter gombal, makin pinter bikin jantung aku berdetak kencang dari biasanya, makin pinter membuat tubuhku merinding disko, dan bisa membuat aku secepatnya menghilangkan perasaan aku pada Ion. Mungkin, Ion hanya cinta sesaat sehingga dengan cepat bisa aku lupakan, batin Devanya.


Kini keduanya menyusuri jalanan ibu kota yang ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Meskipun bisa saja Keano meminta pengawalnya ataupun Hayden untuk mencarikan rujak kedondong untuknya, tetapi dia ingin mencarinya sendiri bersama dengan istri tercinta.


Setelah berkendara keliling kota selama satu jam, akhirnya Keano menepikan motornya saat melihat sebuah gerobak yang menjual rujak kedondong. Sebenarnya dia sudah tahu di daerah mana yang ada penjual rujak itu, tetapi dia sengaja berkeliling dulu sebelum mendapatkan rujak seperti yang dia inginkan.


"Bang, rujaknya sepuluh bungkus ya!" pesan Keano.


"Iya, Mas. Ditunggu sebentar!" ujar penjual rujak


"Buat Abang, apa kamu mau?" tanya Keano.


"Mau!"


"Bang tambah sepuluh bungkus lagi."


"Baik, Mas!" Penjual rujak dengan gesitnya menyiapkan pesanan Keano. Dia sangat bersyukur, akhirnya ada yang memborong rujak miliknya. Padahal dari pagi dagangannya sepi. Padahal matahari bersinar cukup terik.


Sementara Devanya semakin melongo mendengar apa yang suaminya pesankan. 'Kenapa malah ditambah pesanannya?' pikir Devanya. Namun, gadis cantik itu hanya diam saja membiarkan suaminya berbuat sesuka hati. Toh, beli rujak segitu gak akan berasa buat Keano. Nantinya bisa dia bagikan pada pekerja di rumahnya.


Saat pesanan rujaknya sudah siap, Keano pun langsung memberikan dua puluh lembar uang kertas Soekarno Hatta. Namun, Abang rujak itu segera menolaknya dengan halus karena harga rujak satu porsi hanya sepuluh ribu.


"Maaf, Mas ini kebanyakan."


"Tidak apa, Bang. Sisanya buat anak Abang di rumah," ucap Keano.


"Terima kasih, Mas!" sahut penjual rujak itu.


"Sama-sama."


Keano dan Devanya pun langsung bergegas untuk pergi. Namun, saat Keano menyalahkan motornya, terdengar suara ponsel Devanya yang berbunyi. Gadis cantik itu pun langsung melihatnya dan tertera di sana nama Diandra yang melakukan panggilan padanya.


"Bang, sebentar! Dian menelpon," ucap Devanya. Keano pun mematikan kembali motornya, menunggu istrinya menerima telepon dari Diandra.


"Hallo, Dian! Ada apa?" tanya Keano saat dia sudah menggulir tombol hijau di ponselnya.


"Hallo, Deva lagi di mana?" tanya Diandra.


"Aku lagi di jalan habis beli rujak. Kenapa?"


"Wah, kebetulan. Ke rumahku ya! Mama minta dibeliin rujak, tapi aku lagi malas ke luar," keluh Diandra.


"Tumben Tante Rani mau rujak."


"Deva, kamu tahu tidak kalau mamaku sedang hamil tiga bulan. Aku nikah saja baru satu bulan. Mama bahkan tidak menyadari kalau sedang hamil. Aku harus bagaimana? Masa nanti adikku seusia anakku."


"Apa??!! Hamil??!!" pekik Devanya. "Selamat ya Dian, akhirnya kamu bisa merasakan bagaimana rasanya punya adik."


"Deva, kenapa kamu senang? Harusnya kamu galau seperti aku. Bukankah kamu sahabatku?"


"Aku memang sahabat kamu, makanya aku bahagia karena keluarga kamu mendapat anugerah dari Tuhan. Semoga dengan adanya malaikat kecil itu, keadaan keluarga kamu menjadi membaik."


"Tahu aku, aku pusing. Cepat kamu ke sini bawa rujaknya!"


Tut


Diandra langsung memutuskan sambungan teleponnya. Tidak biasanya gadis itu berbuat seperti itu kalau dia sedang baik-baik saja. Sehingga Devanya pun bisa memaklumi keadaan Diandra.


"Bang, kita ke rumah Dian dulu. Tante Rani ingin rujak," ucap Devanya.


"Siap, Tuan Putri!"


Keano langsung menyalakan motornya. Sepanjang perjalanan dia berpikir, apa mungkin Devanya juga hamil namun isterinya itu tidak tahu tentang kehamilannya. Sehingga laki-laki yang memiliki sorot mata tajam itu memiliki secercah harapan tentang kehamilan istrinya.


Semoga saja, Deva pun hamil seperti Tante Rani. Tapi kenapa yang ingin makan rujaknya aku bukan dia sendiri, batin Keano.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Brondong Tajir update, yuk kepoin karya Author keren yang satu ini.