
Saat tengah malam, perlahan Rani membuka matanya. Kini demamnya sudah turun tidak sepanas tadi sore. Dia mengedarkan pandangan melihat ke sekeliling ruangan yang terasa berbeda dari kamar yang ada di apartemen Harry.
"Aku di rumah sakit, sejak kapan aku dibawa ke sini?" gumam Rani dengan melihat ke arah tangannnya yang terpasang infus..
"Mas Diwan, sejak kapan rambutnya dicat jadi warna kecoklatan. Tapi bukankah dia Harry? Kenapa dia tidur di pinggir ranjang dan ini tangan dia kenapa terus memegang tangan aku?" Lagi-lagi Rani bicara sendiri dengan suara pelan seraya menarik tangannya yang digenggam oleh Harry.
Merasa ada yang mengganggu tidurnya, Harry pun akhirnya terbangun. Dia senang melihat Rani yang sudah membuka matanya kembali. Semalam dia khawatir sekali karena badan Rani panasnya tidak kunjung turun. Apalagi sekarang Rani sedang hamil, yang mana sangat beresiko pada kandungannya jika dia terus demam tinggi.
Harry langsung menempelkan telapak tangannya di dahi Rani untuk mengecek suhu badannya. Dia langsung tersenyum saat menyadari Rani udah turun panasnya. Lalu, dia pun berkata, "Rani, aku harap kamu jangan terlalu banyak berpikir. Kasian bayi yang ada di dalam kandungan kamu jika kamu sampai sakit. Bayi itu harta paling berharga yang suami kamu tinggalkan. Aku harap kamu jangan cemaskan untuk kehidupan kamu kedepannya. Aku yang akan bertanggung jawab atas hidupmu dan bayi yang ada dalam kandungan kamu. Kamu jangan merasa sendiri karena ada aku, Dave dan Sevia yang akan ada untukmu. Kamu jangan sungkan lagi sama aku!"
"Harry, aku haus!" lirih Rani.
Harry dengan cekatan langsung mengambil botol minuman mineral yang sengaja dia simpan di atas nakas samping ranjang. Setelah dia membukanya dan memberikan sedotan, barulah dia memberikannya pada Rani. Dia hanya melihat dengan bibir yang membentuk bulan sabit saat Rani menghabiskan hampir setengah botol minuman.
"Minum yang banyak agar anakmu sehat. Istri aku juga saat ini sedang hamil. Usia kandungannya sudah jalan empat bulan, hanya berbeda dua bulan denganmu. Kalau kamu mengidam apapun bilang saja padaku. Aku pasti akan mencarikan makanan yang kamu inginkan," ucap Harry.
"Terima kasih Harry, aku butuh waktu untuk bisa menerima semua ini. Semuanya terlalu cepat, saat aku dan Mas Diwan sedang berbahagia akan memiliki seorang anak setelah penantian kami selama bertahun-tahun, ternyata Allah memanggilnya." Setetes air mata kembali keluar dari pelupuk mata Rani.
Harry segera menghapusnya dengan ujung jarinya. "Ikhlas Rani, agar suami kamu tenang. Maafkan aku karena kelalaian aku semua itu terjadi." Harry benar-benar merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi pada Rani. Dia bertekad untuk melindungi dan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Rani dan anaknya.
...***...
Tiga hari sudah Rani dirawat di rumah sakit. Hari ini dia sudah diperbolehkan pulang. Sevia selalu datang di siang hari saat Harry dan Dave pergi bekerja.
Setelah suami istri itu berunding, akhirnya mereka memutuskan untuk memajukan kepindahannya ke rumah baru mereka, agar keadaan Rani bisa terkontrol. Makanya sepulang dari rumah sakit, Harry langsung membawa Rani ke rumah baru sahabatnya. Kebetulan juga akan diadakan acara syukuran nanti sore dengan mengundang Pak Kyai dan santri di salah satu pesantren yang ada di ibu kota untuk mengadzani rumah baru mereka.
"Assalamu'alaikum," ucap Harry dan Rani yang baru datang.
"Wa'alaikumsalam," jawab orang yang ada di dalam rumah.
"Wah, sudah kumpul semua." Harry tersenyum melihat para oang tua yang merupakan sahabat dari orang tua angkat Dave.
"Harry, apa ini istrimu? Kenapa kamu menikah tidak mengundang kami?" tanya Kevin, assisten pribadinya Al.
"Mereka menikah diam-diam, Om. Dadakan lagi," celetuk Dave dengan tersenyum jahil.
"Kalian memang selalu kompak Dave. Gak kamu gak Harry nikahnya dadakan dan umpet-umpetan," cetus Oryza.
"Aku kan ikutan Om Kevin," celetuk Dave.
"Kamu tuh Dave sembarang aja nuduh orang. Tapi bener sih, untung saja ada pohon tumbang jadinya Om dan tante kamu nikah padahal kita baru saja putus." Kenang Kevin dengan tersenyum geli.
"Terima kasih, Tan!" ucap Rani.
"Jangan sungkan ya! Sekarang kita semua keluarga. Tante senang kamu mau membantu Sevia menjaga Devanya. Anak kecil memang paling bisa mengalihkan pikiran kita yang sedang kacau. Karena mereka selalu memberikan aura positif untuk orang-orang di sekelilingnya dengan coletehan dan tingkah lakunya yang selalu terlihat menggemaskan." Icha langsung membuka pintu kamar yang sudah disiapkan untuk Rani. "Barang-barang kamu juga sudah ada di sini semua."
Iya benar, aku berharap dengan bersama Sevia dan Devanya, aku tidak terus kepikiran dengan Mas Diwan. Makanya saat Sevia menawarkan pekerjaan untuk menjaga Devanya, aku langsung menyetujui. Tanpa digaji pun, aku pasti mau menjaga anak Sevia yang sudah aku dan Mas Diwan anggap sebagai anak kami juga, batin Rani.
"Makasih Tante!"
"Kamu istirahat dulu ya! Tante mau ke depan melihat bapak-bapak yang banyak maunya. Kamu tahu Rani, mereka meminta dibuatkan rujak bebek. Kamu yang hamil tapi kenapa mereka yang ngidam." Icha menggelengkan kepalanya. Kalau para sahabatnya itu berkumpul, selalu saja ada yang mereka minta untuk dibuatkan makanan yang jadi pembahasan mereka.
"Iya, Tan!"
Icha hanya tersenyum lalu beranjak pergi menuju ke dapur untuk membawa rujak seperti yang diminta oleh para bapak. Namun, saat sampai ke depan dia dikagetkan dengan pertengkaran Harry dengan seorang wanita cantik yang baru saja dilihatnya.
"Bagus ya kamu, katanya dinas ke luar kota ternyata pulang membawa seorang wanita. Di mana wanita itu? Aku ingin melihatnya," sentak Nadine.
Dia tadi mendapat telepon dari sahabatnya Aurel kalau melihat Harry bersama dengan seorang wanita saat berpapasan di lampu merah, sehingga dia segera berangkat ke apartemen Dave. Namun saat melewati rumah baru Dave matanya melihat mobil Harry yang terparkir di luar gerbang rumah Dave. Nadine pun langsung masuk untuk menemui Harry.
"Kamu jangan salah paham dulu, Nadine. Ayo kita pulang, tidak baik cekcok di rumah orang." Harry langsung menggiring Nadine agar mengikutinya ke mobil. "Om, Tante, aku permisi!"
"Harry semangat, kita sebagai lelaki jangan sampai kalah oleh perempuan," celetuk Kevin malah mengompori sehingga langsung mendapat pelototan dari istrinya.
"Dave, siapa wanita tadi?" tanya Icha yang baru datang.
"Dia istrinya Harry," jawab Dave.
"Kenapa aku merasa familiar dengan wajahnya?" gumam Al yang duduk di sebelah Dave.
"Om pasti pernah bertemu, dia wali kelasku saat kelas sepuluh SMU," jelas Dave.
"Berarti Harry menikah dengan gurunya, tapi kenapa sikapnya berbeda sekali dengan sekarang. Seingat Om, semua guru yang mengajar di Garuda memiliki attitude dan skill yang bagus karena sekolah itu punya standar tinggi untuk memilih pengajarnya," ucap Al yang merasa tidak percaya kalau Harry menikah dengan gurunya.
"Mungkin saja dia bermuka dua," celetuk Oryza.
...~Bersambung~...
...Jangan kendor dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...