
Merasakan hawa-hawa panas yang menyelimuti Orion, Devanya pun mulai mencari cara agar lelaki yang sedang bersamanya itu sedikit berdamai dengannya. Dia tidak bisa membayangkan jika penyakit iseng bin jahil Orion kembali kambuh lagi.
"Ion, nanti makan siang di restoran Padang yuk! Aku kan udah janji mau traktir kamu kalau sudah sembuh," ajak Devanya dengan berbisik.
Orion yang sedang berjalan di samping Devanya, langsung menengokan wajahnya sekilas melihat ke arah Devanya. Orion pun kembali melihat lurus ke depan kemudian berkata, "Aku tidak bisa disogok hanya dengan nasi Padang. Kalau kamu ingin aku tidak marah, kamu harus ikut aku sepulang kerja."
"Ikut ke mana? Jangan bawa aku nyasar, Ion!"
"Tidak akan! Kalau kamu ikut, maka aku anggap kesalahan kamu hangus."
"Memang aku salah apa sama kamu?" tanya Devanya bingung sendiri.
"Kamu tidak sadar dengan kesalahan sendiri, sudah termasuk kamu bikin kesalahan yang baru," ketus Orion.
Ya ampun gini banget jadi aku. Berhenti diisengin, malah mau dijadikan simpanan. Gak jadi simpanan malah dipaksa jadi pacarnya. Gak nurut marah, salah ngomong marah. Ampun Orion, aku tuh bingung hadapi sikap kamu," keluh hati Devanya.
Setelah naik lift melewati beberapa lantai dalam gedung pencakar langit itu, dan beberapa kubik staf serta menaiki beberapa anak untuk menuju ke sebuah ruangan dengan kaca besar sebagai penghalang, akhirnya mereka sampai di ruangan Keano yang nampak rapi dan luas.
Devanya dan Diandra yang memang baru pertama kali masuk ke dalam ruangan Keano, mereka begitu terkagum-kagum melihatnya. Berbeda dengan Orion yang nampak biasa saja karena memang dia sering berkunjung ke perusahaan sepupunya untuk membicarakan kerjasama bisnis di antara keduanya.
"Deva, aku ingin bekerja di ruangan ini. Pasti betah!" bisik Diandra.
"Iya, aku juga mau. Tapi gak mungkin kita kerja di sini. Ini kantor bos besarnya," bisik Devanya balik.
Saat keduanya sedang asyik berbisik-bisik, terlihat Keano datang dari balik lemari buku yang ada di belakang kursi kebesarannya. Dia sempat terkejut melihat begitu banyak orang di ruangannya. Namun, akhirnya dia segera menetralkan keterkejutannya.
"Sudah lama sampainya?" tanya Keano.
"Belum lama, paling sekitar lima belas menit. Sampai ada yang tidur dan bermimpi untuk kerja.di ruangan ini," sindir Hayden.
Apaan sih Bang Hayden? Kenapa harus bilang segala? Gimana nanti kalau salah paham? gerutu Devanya dalam hati.
"Boleh saja! Nanti Hayden yang urus,," ucap Keano. "Siapa yang mau kerja di sini?"
"Aku dan Devanya kerja dengan karyawan lain saja. Jangan katakan apapun tentang aku, karena aku tidak mau bertemu dengan banyak penjilat saat magang di sini," ucap Orion.
"Satu lagi, aku tidak ingin ditempatkan di tempat yang berbeda dengan Vanya."
Orion apa-apaan sih? Kerja aja harus bareng aku terus. Bagaimana aku bisa punya cowok kalau Orion selalu menguntit aku tapi katanya sekarang aku pacarnya dia. Berarti aku udah gak jomblo dong, batin Devanya.
"Hayden, urus mereka! Ingat, kalian harus bersikap profesional selama bekerja di sini." pesan Keano.
"Siap Bos!" sahut Devanya.
"Baik, Pak!" sahut Diandra
"Karena tim marketing sedang kekurangan orang, maka kalian semua akan berkerja di sana. Mari saya antar!" jelas Hayden.
Hayden pun mengantarkan ketiga anak magang itu ke lantai lima. Tempat di mana tim marketing bekerja. Setelah diperkenalkan pada leader di sana, Hayden pun meninggalkan mereka bertiga dan kembali ke ruangannya.
Sementara, Devanya, Diandra dan Orion sudah duduk manis di kubik masing-masing. Memang, saat Hayden tahu dari Keano tentang kedatangan sepupunya yang akan magang di perusahaannya, Hayden langsung mencari posisi yang pas dan langsung menyiapkan tempatnya. Sehingga saat datang tinggal menempatinya.
Hari pertama magang mereka lewati dengan baik. Meskipun awalnya ada sedikit ketidaknyamanan. Bagaimana tidak, mereka masing-masing diberi setumpuk berkas dan disuruh mempelajarinya. Belum lagi ada salah seorang senior yang menyuruh mereka ini itu. Yang tentu saja membuat hati dongkol, tetapi Devanya dan Diandra hanya tersenyum menanggapinya meskipun mereka ingin menangis.
"Dian, lebih baik besok kita pakai celana saja. Pakai rok span begini rasanya ribet. Aku gak merasa leluasa," keluh Devanya saat mereka menunggu jam pulang yang tinggal lima belas menit lagi.
"Boleh tuh! Biar nanti berangkatnya pakai motor kamu saja." Diandra pun langsung menyetujui ide sahabatnya itu.
"Besok aku yang akan jemput kalian," celetuk Orion.
"Serius, Ion?" tanya Diandra dengan mata yang berbinar.
"Untuk apa aku bohong?"
"Hey kalian anak baru! Jangan ngobrol terus. Kerja dulu yang benar," cetus salah seorang senior.
...~Bersambung~...