Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 102 Hukuman dari Elvano


Lantai yang dingin, udara yang lembab, cahaya yang remang, ditambah ruangan yang tidak terlalu luas, membuat ibu dan anak itu saling berpelukan sedari mereka tiba di sana. Sepertinya nasib sial mereka sudah dimulai saat anak buah Elvano menangkap keduanya di rumah mereka dini hari tadi.


Inge merasa seperti mimpi, saat ada pasukan bersenjata lengkap menculik dia dan ibunya. Dia yang waktu itu sedang tertidur pulas, hanya bisa pasrah ketika tiba-tiba saja ada yang membiusnya dan memasukkan tubuhnya ke dalam karung goni.


Sementara ibunya yang berusaha melawan saat menyadari ada orang yang akan menculik putrinya, dia pun langsung dibius dan ikut serta dibawa. Keduanya tersadar saat mereka sudah berada di ruangan yang pengap itu.


"Bu, mereka siapa? Kenapa mereka menculik kita?" tanya Inge dengan mengedarkan pandangannya.


"Ibu tidak tahu, apa kamu telah menyinggung orang?" tanya Monika, ibunya Inge. "Atau kamu sudah mempercepat rencana kita untuk menghancurkan Keluarga Argantara?"


"Tidak, Bu. Aku hanya berusaha melenyapkan saingan cintaku," ucap Inge.


"Siapa laki-laki yang kamu sukai?"


"Bos Ano, Keano Wiratama Putra."


"Apa??!! Kenapa kamu menyukai laki-laki itu? Kamu tahu, kita harus menghancurkan mereka bukan menyukainya," sentak Monika.


"Tapi dia sangat tampan ...," lirih Inge.


"Lalu, apa yang sudah kamu lakukan padanya?" tanya Monika lagi.


"Aku mendorong istrinya hingga dia jatuh dan dimakan oleh orca."


"Bagus!!! Saat kita tidak bisa membalas dendam pada orang yang telah menghancurkan kita, maka kita bisa membalaskan pada orang yang dicintainya karena itu sama saja dngan menghancurkan orang itu."


Saat keduanya sedang asyik berbincang untuk menghilangkan ketakutannya pada ruangan yang pengap itu, terdengar suara derap langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Seketika ibu dan anak itu langsung terdiam. Mereka penasaran siapa yang dalang dari penculikannya.


Saat terlihat seorang pria dewasa yang berwajah tampan mempesona. Namun, memiliki sifat yang terkadang suka seenaknya. Monika langsung membulatkan matanya. Dia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan laki-laki yang hampir saja membuatnya meregang nyawa. Seandainya saja waktu itu, adik dari laki-laki itu tidak menghentikan kelakuan kakaknya.


Flashback on


Monika yang waktu itu baru saja bebas dari penjara, berniat untuk membalaskan dendam pada orang yang telah menjebloskannya ke dalam penjara. Membuat dia harus melahirkan di sana.


Monika yang sudah menyusun rencana matang, dia pun berhasil menculik putra dari mantan tunangannya Kendra Argantara. Keano yang waktu itu baru berusia tujuh tahun harus merasakan tinggal di sebuah rumah kosong yang berada di pesisir pantai selama dua hari. Karena Monika meninggalkan dia di sana seorang diri dengan keadaan terikat.


Monika hanya datang saat siang hari untuk memberi makan pada Keano. Hingga di hari kedua dia pergi ke sana, ternyata suruhan Keluarga Wiratama sudah menemukan keberadaan Keano.


Sementara Monika yang tertangkap oleh anak buah Andrea, dia langsung diserahkan pada bos besarnya. Namun, Elvano langsung mengambil alih.


"Papa, biar aku yang pegang dia. Aku ingin tahu seberapa berani dia menghadapi kematiannya," ucap Elvano dengan gaya tengilnya.


"Bereskan, El! Papa tidak mau dia berulah lagi pada keluarga kita," suruh Andrea.


"Papa tenang saja, ceya sudah lama tidak merasakan daging manusia. Dia pasti senang kalau aku memberikan makanan empuk," ucap Elvano dengan tersenyum miring.


Namun, saat Elvano akan memasukkan Monika ke kandang singanya, Allana datang berusaha menghentikan kegilaan saudara kembarnya. Dokter cantik itu selalu menentang jika papa atau kembarannya akan melenyapkan orang-orang yang bermasalah dengan keluarganya ataupun perusahaannya. Dia lebih suka memilih jalur hukum untuk memberikan hukuman pada orang-orang yang bersalah.


"Lana, kamu dan Kendra ataupun Dika terlalu lemah menghadapi orang-orang jahat seperti dia. Kamu telah memberi ruang pada mereka untuk mencelakai kamu kembali. Apa kamu lupa, apa yang telah dilakukan dia pada Kendra? Sekarang malah menculik Keano. Bisa saja nanti dia mencelakai cucu kamu. Karena orang seperti dia tidak akan pernah jera untuk berbuat jahat." Sengit Elvano.


Dia merasa kesal karena adik kembarnya itu selalu mengacaukan kesenangannya saat menghukum orang-orang yang bermasalah.


"Kita bukan Tuhan, Bang. Aku hanya tidak mau Abang ataupun Papa menjadi orang jahat dengan merenggut kehidupan seseorang. Setiap orang berhak diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya," sanggah Allana.


Flashback off


"Wah wah wah ... Ternyata aku bertemu kembali dengan santapan ceya. Tapi sayang, ceya sekarang sudah tidak suka pada daging manusia. Tapi jangan khawatir, masih ada Viki yang masih suka daging manusia mskiun sekaran kamu sudah tidak empuk lagi tapi Viki pasti tidak akan menolaknya," ucap Elvano dengan tertawa sumbang melihat ekspresi Monika.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bersalah. Saya tidak melakukan hal yang merugikan Tuan dan keluarga," bela Monika.


"Oh, ya. Lalu siapa yang sudah mendorong istri putraku? Apakah gadis itu?" tunjuk Elvano pada Inge.


"Saya, saya tidak sengaja, Tuan." Inge langsung gugup saat melihat Elvano udah memegang cambuk di tangannya.


"Oh, jadi tidak sengaja ya? Alasan yang klasik. Dengar Nona, apa yang kamu lakukan itu sudah membuat kerugian yang sangat besar untuk keluargaku. Untuk itu, aku akan membuat kamu menyesal karena berani bermain-man dengan keluarga Wiratama," sinis Elvano. "Monika, apa kamu ingin melihat pertunjukannya?"


"Tuan, tolong maafkan putriku!" Monika pun akhirnya menundukkan kepalanya.


"Memang apa yang sudah putri kamu lakukan sehingga dia harus meminta maaf?"


"Dia tidak sengaja, Tuan. Tolong maafkan dia!" mohon Monika.


"Sayangnya aku bukan Allana. Yang akan memberikan kesempatan pada seorang penjahat. Pengawal, bawa gadis itu ke hutan lindung. Turunkan saja di dekat kandang Viki!" suruh Elvano. "Kamu juga boleh ikut kalau mau." tawar Elvano pada Monika.


"Tidak Tuan," tolak Monika.


"Kamu tidak mau ikut bersama dengan putrimu? Baiklah, buang wanita ini ke tengah lautan. Biar dia merasakan apa yang dulu dirasakan oleh Kendra."


"Baik, Tuan!" sahut pengawal yang menangkap ibu dan anak itu. Pengawal itu langsung memindahkan Monika dan Inge dari ruang bawah tanah itu. Mereka akan mengguankan mobil yang berbeda karena tujuannya pun tidak sama.


Sepertinya, aku harus melihat lagi orang yang ketakutan dan putus asa. Saat tidak bisa menyelamatkan diri dari serangan buaya putih yang besar itu. Seandainya disuruh memilih, aku lebih memilih untuk menembak orang daripada memberikan binatang buas itu manusia sebagai makanannya, batin pengawal.


Selesai memberikan perintah pada anak buahnya, terdengar ponselnyya berbunyi. Terlihat di sana Keano melakukan panggilan telepon padanya. Elvano pun langsung menerima panggilan telepon dari keponakannya.


"Hello Ano. Semuanya sudah beres."


"Om, hukuman apa yang Om berikan padanya?" tanya Keano di seberang sana.


"Om hanya membawanya jalan-jalan ke kebun binatang dan berenang," jawab Elvano santai.


"Maksud, Om? Jangan sampai meninggal Om! Buat saja mereka kapok."


"Iya, Om mengerti! Kamu tenang saja, mereka pasti kapok berbuat jahat pada keluarga kita."


"Maksud Om mereka?"


"Tentu saja Monika dan putrinya yang sudah mencelakai istrimu. Sudah Ano, Om ingin menjenguk istrimu." Elvano langsung menyudahi sambungan teleponnya.


Dia tidak mau Allana mengetahui apa yang sudah dia lakukan karena sudah pasti adiknya itu akan berusaha mencegahnya, sedangkan dia malas mendengar ocehan Allana.


Sementara di tempat yang berbeda, Keano menjadi termangu di tempatnya. Dia tidak menyangka kalau Inge, orang yang sudah mencelakai istrinya adalah putrinya Monika. Wanita yang selalu menjadi mimpi buruknya.


Apa yang Om El lakukan? Mommy pernah berpesan, jangan mengadu pada Om El jika ada orang yang menyakitiku. Tetapi harus mengatakannya pada Mommy. Sekarang, justru aku meminta tolong pada Om El untuk mengusut orang yang sudah mencelakai Deva. Apa yang sudah aku lakukan salah?


Saat Keano larut dalam lamunannya, terdengar suara Deva yang memanggilnya. Tadi dia sengaja meminta ijin sebentar karena ingin tau apa yang di lakukan oleh omnya. Keano segera menghampiri Devanya yang sedang terbaring ditempat tidur.


"Ada apa sayang?" tanya Keano.


"Bang, bagaimana keadaan Devdev? Apa lukka tembaknya sudah diobati?" tanya Devanya.


"Sudah Sayang, cepat pulih ya! Setelah kamu pulih, kita bersama-sama melepaskan Devdev ke lautan. Bukan Abang membencinya tetapi ada benarnyya juga apa yang dikatakan kakek. Abang tidak mau Devdev dijadikan alat untuk menyakiti keluarga kita."


"Syukurlah, apa orang yang mendorongku sudah ditangkap?" tanya Devanya lagi.


"Sudah."


"Siapa, Bang?"


"Pelatih Devdev yang perempuan."


Pantas saja dia seperti tidak suka melihat aku. Apa pelatih itu menyukai Bang Ano dan merasa direbut karena aku menikah dengan Bang Ano?


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya! Kik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih....