
Dua hari sudah Orion dirawat di rumah sakit. Icha yang sedang berada di luar kota langsung pulang saat mengetahui cucunya sedang sakit. Begitupun dengan Zee yang berada di luar negeri, dia menyempatkan diri untuk pulang ke tanah air.
Saat Icha dan Zee sedang menjaga bocah tengil kesayangan mereka, terdengar ada yang memberi salam di depan pintu ruang perawatan Orion. Zee pun segera beranjak untuk membukakan pintu untuk tamu yang datang.
"Loh, Dave. Katanya sedang ke negara A. Apa urusannya sudah selesai?" tanya Zee.
"Alhamdulillah sudah. Aku dengar Ion sakit, bagaimana keadaannya sekarang?" Dave pun balik bertanya.
"Masih panas, sudah dua hari belum turun juga. Sekarang dia sedang tidur. Ayo masuk Kak Via!" ajak Zee.
Dave dan Sevia pun masuk ke ruang perawatan Orion. Setelah mereka mencium punggung tangan Icha, Dave dan Sevia pun duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Dave, Tante ikut belasungkawa atas meninggalnya Tuan David. Maaf Tante tidak bisa ikut melayat ke sana," ucap Icha.
"Iya, Tan tidak apa. Aku juga diberitahu dadakan saat grandpa masih kritis. Beliau ingin bertemu denganku sebelum menghembuskan napas terakhirnya," ucap Dave sendu.
"Sabar Dave, masih ada Tante di sini." Icha mengelus lembut punggung putra angkatnya.
"Makasih, Tan! Tante selalu untuk aku."
"Bagi Tante Kamu, Zee dan Elzio adalah anak-anak Tante yang harus Tante jaga. Seandainya, nanti tante sudah tidak ada, Tante titip Zee dan Elzio juga anak-anaknya padamu."
Saat mereka sedang larut dalam obrolan, terdengar suara Orion yang baru bangun tidur memanggil mamanya. "Mama, haus."
Zee pun segera menghampiri putranya dan memberikan minum dari botol mineral pada Orion. Setelah dia meneguk minumannya sampai habis, Dave pun menghampiri Orion.
"Bagaimana keadaan kamu, Ion?" tanya Dave.
"Om Dave, kenapa Vanya kuliahnya dipindahkan?" tanya Orion dengan suara lemas.
"Apa? Vanya pindah kuliah?" tanya Dave yang mendadak linglung. Dia terlalu pusing memikirkan kematian kakeknya ditambah lagi pembagian harta warisan dari Keluarga Mattews. Belum lagi aset-aset berharga peninggalan papanya yang baru dia ketahui karena selama ini aset itu ingin dimiliki oleh kakak papanya Dave.
"Om, Vanya mana?" tanya Orion lagi.
"Vanya sedang kuliah, Ion. Katanya dia mau ujian susulan. Karena kemarin tidak ikut quiz beberapa mata kuliah," celetuk Sevia yang ikut menghampiri Orion.
"Masih di sini. Mungkin setelah lulus sarjana baru akan kuliah di negara A menyusul Devan dan Davin," jelas Sevia.
Aku harus cepat sembuh, biar setiap hari ketemu Vanya di kampus, tekad hati Orion.
Dave ingin sekali menutup mulut istrinya saat memberitahukan rencana mereka. Memang awalnya Devanya akan pindah semester sekarang tetapi saat tahu sebentar lagi Devanya akan magang, maka rencananya diundur.
Nampak senyum tipis terbit di bibir Orion. Hatinya merasa sangat lega mendengar apa yang Sevia katakan. Entah kenapa rasa pusing itu mendadak hilang. Namun badannya yang lemas, membuat Orion tidak bisa pergi dari rumah sakit dan menyusul Devanya ke kampus.
Zee yang melihat senyuman itu, langsung mengerti penyebab sakit putra sulungnya. Dia pun langsung menggunakan alasan itu untuk merayu Orion minum obat. "Ion, obatnya belum diminum. Ayo minum obat dulu biar cepet ketemu dengan Vanya!" rayu Zee.
"Iya, Mah." Orion pun langsung menyetujui. Padahal Orion paling susah minum tablet ataupun kapsul karena dia hanya bisa minum obat sirup.
Bukan hanya Zee yang menahan tawa dengan apa yang Orion lakukan, tetapi Dave dan Sevia pun sama. Ternyata putrinya yang setiap hari dikerjai oleh bocah tengil itu, bisa dijadikan alat untuk meluluhkan Orion.
Saat hari menjelang siang, Dave dan Sevia pun berpamitan pulang. Begitupun dengan Icha yang akan mengantarkan makan siang untuk suaminya. Kini tinggallah Orion sendiri di kamar karena Zee pun pergi ke luar untuk membeli makan siang.
Orion yang sedang tertidur, tidak menyadari saat ada seseorang yang datang ke kamarnya. Seorang gadis cantik yang sengaja mamanya telpon untuk menemani Orion agar pemuda tampan itu cepat pulih kembali kesehatannya.
"Kalau lagi tidur, sepertinya anteng sekali. Tapi kalau sudah bangun, isengnya gak ketulungan.Yang aku gak ngerti, kenapa hanya sama aku dia iseng, tapi sama gadis lain ataupun orang lain, dia selalu bersikap biasa. Kamu memang nyebelin, Ion. Tapi seminggu gak ketemu, terasa ada yang hilang," gumam Devanya pelan.
Devanya yang merasa bosan menunggu orang yang sedang tidur, dia pun memilih untuk berselancar di dunia maya. Sampai tidak menyadari kalau Orion sudah terbangun dari tidurnya.
"Vanya, kapan kamu datang?" tanya Orion dengan sumringah.
"Kamu udah bangun, Ion? Tadi Tante Zee minta aku buat jagain kamu. Kebetulan aku juga sudah selesai quiz," Bukannya menjawab, Devanya malah menjelaskan kedatangannya.
"Makasih udah jagain aku!"
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...