
Keano datang di saat Devanya masih menetralkan degup jantungnya. Dia sempat heran melihat istrinya yang terus menerus menarik napas dan menghembuskannya. Keano pun langsung duduk di samping Devanya.
"Kenapa, Ay? Apa kamu melihat sesuatu di sini?" tanya Keano dengan melihat ke segala penjuru ruangannya. Rasanya tidak mungkin seorang penyusup bisa masuk ke ruangannya. Sistem keamanan yang dia pakai nyaris sempurna. Tidak sembarang orang yang bisa masuk ke dalam ruangan dia tanpa seijinnya.
"Tidak, Bang. Aku tadi tertidur dan lupa baca do'a," jawab Devanya.
"Itulah, kalau mau tidur harus baca do'a dulu agar setan tidak mudah masuk dalam mimpi kita. Kebanyakan ilmu hitam pun menyerang lawannya di saat kita tidur."
"Iya, Bang. Apa meeting-nya sudah selesai?" tanya Devanya.
"Sudah. Nanti kita pulang mampir dulu melihat Devdev ya! Tadi Pelatihnya menelpon, katanya dia sakit. Abang mau memberikan obat untuknya," ucap Keano.
Sakit? Kenapa seperti dalam mimpi? Apa Devdev sakit karena ada yang mencelakai dia? Semoga semuanya baik-baik saja, batin Devanya.
"Ay, malah bengong. Kalau masih mengantuk, tidur di dalam saja. Abang mau periksa dulu beberapa berkas yang perlu tanda tangan Abang," ucap Keano.
"Iya, Bang. Aku pindah masuk ke dalam saja," ucap Devanya.
Keano pun langsung mengantar istrinya masuk ke ruang pribadinya. Setelah memastikan istrinya tidur dengan tenang, dia pun kembali ke meja kerjanya. Entah kenapa, hatinya merasa tidak tenang setiap kali mengingat Devanya.
Satu jam
Dua jam
Tanpa terasa jam makan siang pun sudah tiba. Keano yang masih larut dalam pekerjaannya, langsung menghentikannya ketika melihat Devanya keluar dari ruang pribadinya. Dia tersenyum hangat saat melihat wajah istrinya yang sudah nampak segar.
"Apa sudah merasa lebih baik?" tanya Keano.
"Lumayan. Bang, lapar ...," rengek Devanya seraya mengelus perutnya yang masih rata.
Keano langsung bangun dari duduknya, setelah dia mengamankan terlebih dahulu hasil pekerjaannya dan mematikan laptop. Dia langsung menghampiri Devanya yang duduk di seberang mejanya.
"Mau makan di sini? Apa mau ke restoran?" tanya Keano.
"Ke resto aja yuk, Bang! Bosan di dalam ruangan terus. Kita nyari restoran yang outdoor ya!" ajak Devanya.
"Ayo, anak papa pasti sudah lapar juga. Maaf ya sayang, Papa ajak kerja."
"Iya, Papa!" sahut Devanya dengan menirukan suara anak kecil.
Keano yang gemas mendengar ucapan istrinya, dia langsung mengacak-acak rambut Devanya. Lalu, tanpa permisi Keano mencium pipi Devanya sekilas sebelum mereka pergi meninggalkan kantor.
Saat keduanya baru saja keluar dari ruangan keano, nampak Hayden sedang menunggu di depan pintu. Sebenarnya tadi dia masuk, tetapi saat dia akan menempelkan telapak tangannya sebagai kode akses masuk ke ruangan itu, terlihat pintu ruangan Keano yang terbuka lebar. Sehingga Hayden pun mengurungkan niatnya masuk ke dalam ruangan Keano.
"Kita makan di restoran yang menyajikan tema outdoor," ucap Keano saat melihat Hayden yang berdiri di depan pintu ruangannya.
"Baik, Tuan!" sahut Hayden.
Secepatnya dia membooking tempat untuk bosnya makan bersama istrinya. Dia pun langsung menghubungi supir agar secepatnya menyiapkan mobil dan menunggu di depan lobby perusahaan. Setelah semuanya beres, Hayden pun langsung mengejar Keano yang akan masuk ke dalam lift.
"Sebentar, Tuan!" pinta Hayden dengan menjegal pintu lift dengan kakinya.
Setelah dia masuk ke dalam kotak besi persegi panjang itu, Hayden selalu mengalihkan pandangannya. Dia jadi teringat dengan gadis yang dulu selalu mengejarnya. Namun hatinya yang beku tidak bisa menerima cinta gadis itu yang begitu besar.
Ting
Terdengar suara bunyi lift yang berhenti, karena sudah sampai di tempat tujuan. Hayden mempersilakan Keano dan Devanya untuk berjalan lebih dulu. Sementara dia mengikutinya dari belakang.
Setelah semuanya masuk ke dalam mobil, Pak Komar langsung ke dalam mobil dan melajukan mobilnya membelah kota Jakarta. Dia tersenyum tipis saat tanpa sengaja melihat Keano dan Devanya yang terlihat begitu mesra duduk di belakang. Berkali-kali Keano mencium tangan Devanya yang sedang dia genggam.
Syukurlah Den Ano bisa menemukan kebahagiaannya. Meskipun semua orang melihat kesempurnaan pada dirinya, tetapi aku bisa melihat ada kehampaan pada dirinya. Sedari dia kecil hanya belajar dan belajar yang selalu dia lakukan. Tuan Andrea benar-benar menyiapkan Tuan Ano sebagai penerusnya, batin Pak Komar.
Tidak butuh waktu lama, Pak Komar pun memarkirkan mobilnya di depan restoran yang di tuju. Bersamaan dengan mobil Orion yang masuk ke dalam parkiran restoran. Rupanya pemuda itu datang bersama dengan Luna yang memintanya untuk makan siang bersama.
"Bang Ano, tunggu!" teriak Orion.
Keano yang sudah turun dari mobil, langsung menengok ke arah asal suara. Terlihat Orion yang melambaikan tangan dan buru-buru memarkirkan mobilnya. Dia pun langsung menghampiri Keano dan Devanya yang menunggunya.
"Kamu dengan siapa?" tanya Keano.
"Luna. Tuh anaknya baru turun," ucap Orion cuek. "Hallo Kakak Ipar, long time no see." Orion tersenyum ramah pada Devanya. Membuat Keano menatap tajam pada sepupunya.
"Apa kabar, Ion? Kamu tidak ingin menyapa keponakan kamu?" tanya Devanya.
"Apa keponakan? Kenapa cepat sekali kamu hamil? Tapi tidak apa, aku akan menerima kamu lagi meskipun kamu nanti sudah punya anak."
"Orion!!!" seru Keano.
"Canda, Bang! Serius amat. Abang tenang saja, aku bukan perebut bini orang. Tapi kalau Vanya yang harus aku tikung sih, aku gak keberatan." Orion tertawa hambar. Meskipun dia sudah berusaha merelakan gadis itu untuk kakak sepupunya, tetapi dia belum bisa menghapus rasa cintanya pada Devanya.
"Ion, kenapa aku ditinggalkan? Bukankah kita mau makan siang bersama bukan untuk ketemu sama cewek itu?" Semprot Luna yang baru datang menyusul Orion.
"Memang mau makan siang. Kamu pikir ke restoran mau buang hajat?" ketus Orion.
"Sudah, ayo kalau mau makan siang bareng Abang. Kasian anak Abang udah kelaparan diperut mommy-nya." Keano langsung menengahi seraya menggandeng tangan istrinya. dia pergi begitu saja meninggalkan Orion dan Luna yang siap beradu mulut.
Setelah mendapatkan tempat seperti yang Devanya inginkan, mereka pun duduk bersama. Luna selalu saja memandang sinis pada Devanya. Meskipun dia tahu kalau Devanya sudah menikah pada Keano, tetapi perasaan takut Orion direbut oleh Devanya masih menguasai hatinya.
Sementara Devanya terlihat tidak peduli dengan tatapan sinis Luna. Hanya Keano yang merasa keberatan saat istrinya mendapatkan tatapan tidak menyenangkan dari gadis lain. Sehingga dia tidak segan untuk menegurnya.
"Nona Luna, jika Anda tidak suka duduk bersama dengan istriku, silakan Anda mencari meja lain! Saya tidak bisa satu meja dengan orang yang memandang sinis pada istriku."
"Maaf Tuan Keano! Saya sudah salah paham dengan istri Anda," ucap Luna dengan menundukkan kepalanya.
Aku tidak boleh menyinggung Keluarga Wiratama. Kata Papa, mereka tidak segan untuk menghancurkan perusahaan orang yang telah menyakiti anggota keluarganya. Sepertinya, aku harus mulai berdamai dengan gadis itu. Karena sekarang, dia sudah menjadi bagian Keluarga Wiratama. Tapi kenapa sangat sulit sekali merebut hati Ion? Padahal kami sudah bertunangan, batin Luna.
"Luna mau pesan apa?" tanya Orion saat pelayan memberikan daftar menu.
Luna yang sedang bergelut dengan pikirannya, diam tidak menaggapi apa yang Orion katakan. Sehingga jiwa iseng Orion langsung mencuat saat menyadari kalau tunangannya itu seperti sedang melamun.
"WOY LUNA! MAU PESAN APA?" teriak Orion tepat di telinga Luna.
"Panci, wajan, gelas, piring ...."Luna langsung menutup mulutnya saat tersadar kalau latahnya kambuh karena dia kaget.
"Hahaha ... kena kamu Luna! Aku jadi punya hiburan saat aku sedang bete." Orion langsung tertawa mendengar jawaban dari tunangannya membuat semua orang melihat ke arahnya.
Aku senang melihat kamu bisa tertawa bahagia dengan tunangan kamu, Ion. Semoga kamu juga bisa merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan bersama dengan Bang Ano, batin Devanya.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....