Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 50 Mutasi


Kringg kringg kring


Terdengar suara alarm yang memekakkan telinga. Sevia segera mencari ponselnya untuk mematikan alarm. Tangannya meraba ke sana ke mari berharap dia segera menemukan ponsel yang lupa dia simpan.


"Via, kamu menggodaku? Kenapa kamu memegang python? Apa kamu masih ingin nambah?" erang Dave dengan mata yang masih terpejam.


Sevia langsung bangun dari tidurnya. Dia tidak mau kesiangan karena harus menuruti keinginan brondong yang tidak ada puasnya. Sevia langsung mematikan alarm saat ponselnya sudah dia temukan yang ternyata ada di balik selimut.


"Tidak Dave, aku mau kerja!" Sevia langsung berlari menuju ke kamar mandi. Dia tidak mau saat nanti gajian harus dipotong karena terus kesiangan.


Perusahaan tempat Sevia bekerja memang memiliki aturan yang ketat. Saat karyawannya kesiangan sebanyak tiga kali, maka tunjangan kehadirannya akan dipotong sebanyak sepuluh persen. Sementara tunjangan kehadiran di perusahaannya cukup besar.


Hanya butuh waktu lima belas menit, kini Sevia sudah selesai membersihkan dirinya. Tak lupa, dia pun segera membangunkan Dave agar tidak kesiangan. Dave hanya menggeliatkan tubuhnya yang terasa lelah. Bagaimana tidak, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, malamnya dia bertempur dengan Sevia yang sudah terlelap, Sehingga gadis itu mau tidak mau terbangun dengan apa yang dilakukan suaminya.


"Aku berangkat siang, Via. Mataku masih ngantuk," ucap Dave dengan tidak membuka matanya.


"Ya sudah, Pak Bos memang bebas mau berangkat jam berapa saja." Cebik Sevia dengan melanjutkan dandannya.


"Via, jangan memakai lipstick! Cukup pelembab aja," Lagi-lagi Dave bicara dengan mata yang masih tertutup.


Baru saja aku mau pakai, udah ketahuan. Memangnya kenapa kalau aku pakai? Yang lain juga memakainya. Bahkan warnanya yang mencolok, batin Sevia.


"Jangan membantah! Aku ke pabrik cuma sebentar karena harus ke kantor pusat." Seperti cenayang, Dave bisa menebak apa yang Sevia pikirkan.


"Iya nggak! Aku hanya pakai lip tint biar gak kering," sahut Sevia.


Setelah Sevia siap untuk bekerja, dia pun berpamitan pada Dave yang masih bergelung dengan Selimut. Perlahan Sevia duduk di pinggir ranjang dekat dengan Dave. Diambilnya tangan kanan Dave lalu dia cium punggung tangan itu. Dave langsung membuka matanya saat merasakan ada benda kenyal dan dingin menyentuh tangannya.


"Aku berangkat kerja dulu, sarapannya sudah aku pesankan di go food," ucap Sevia.


"Iya, makasih! Via, mungkin aku lama di kantor pusat. Nanti saat tanggal tiga puluh, kamu tunggu di taman saat kita bertemu. Kamu jaga diri baik-baik! Jaga anak kita kalau sudah ada di perut kamu." Dave langsung mencium kening istrinya, berpindah ke mata, hidung dan terakhir hanya mengecup singkat bibir tipis itu.


Sebenarnya Dave berat meninggalkan Sevia di sini. Akan tetapi, kantor pusat sangat membutuhkan tenaganya, sehingga Andrea menyuruh untuk mengambil alih di kantor pusat sedangkan pabrik Cikarang akan dipegang oleh Bram.


Tak hanya Dave yang tidak ingin mereka terpisah, Sevia pun merasakan hal yang sama. Dia selau tidak bisa tidur jika Dave tidak tidur bersamanya. Meskipun brondong itu sangat mesumm tapi entah kenapa Sevia merasa sangat nyaman bersama dengan Dave.


Setelah berpamitan pada Dave, Sevia pun bergegas untuk berangkat kerja. Dia akan sarapan di kantin perusahaan yang menyediakan aneka makanan untuk sarapan pagi.


"Tumben makan di sini, Via?" tanya Elvira yang merasa aneh saat melihat Sevia sarapan di kantin.


"Aku takut telat jadi sarapan di sini saja, yang penting sudah absensi," jawab Sevia. "Ini sedikit oleh-oleh dari kampung," lanjutnya dengan memberikan kue kering khas kampung Sevia


"Makasih ya, Via!" ucap Elvira dengan tersenyum.


Kedua sahabat pun makan dengan lahap. Apalagi semalam Sevia tidak sempat makan karena ketiduran. Tahu-tahu saat dia terbangun ternyata ada yang memakannya, sehingga dia pun langsung ikut menikmati.


Terdengar bunyi bel tanda jam kerja sepuluh menit lagi akan segera dimulai, sehingga kedua sahabat itu bergegas ke tempat kerjanya masing-masing. Sevia segera menyiapkan meja kerja sebelum produk yang akan dia cek datang. Saat jam kerja sudah dimulai, Sevia langsung larut dalam pekerjaannya. Sampai tidak sadar sudah ada lima orang yang berdiri di belakangnya sedang memperhatikan cara dia bekerja.


Degh!


Aduh ternyata ada bos di belakangku, apa Dave juga itu bersama mereka, batin Sevia.


"Baik, Pak! Saya mengerti, untuk rapat serah terima jabatan diundur sampai jam berapa Pak?" tanya Ricky, Manager Engineering.


"Sekitar satu jam dari sekarang," jawab Harry.


Berarti benar, Dave gak akan kembali kerja di sini. Nanti siapa yang akan menggantikan dia? batin Sevia.


Setelah cukup memberikan penjelasan, Harry membawa kembali rombongannya ke ruang rapat. Dia segera menghubungi Dave yang tadi saat dia tinggalkan masih tidur dengan bertelanjang dada. sehingga terlihat jelas ada beberapa bercak merah di dadanya.


Merepotkan sekali, sudah tahu mau rapat pagi. Dia malah asyik-asyikan malamnya. Kesiangan kan sekarang, gerutu Harry dalam hati.


...***...


Sudah satu minggu Dave lebih tidak pulang ke apartemen yang Sevia tempati. Begitupun dengan Harry yang mengikuti ke mana Dave pergi. Hanya tertinggal Bram yang menempati apartemen Harry.


Setiap hari Sevia kelihatan seperti tidak bersemangat. Dia murung dan jadi tidak bersemangat dalam menjalani hari-harinya. Meski begitu, Sevia tetap berusaha fokus pada pekerjaan dan kuliahnya. Beruntung ada sahabatnya yang selalu mengajak dia bercanda, jadi untuk sesaat dia melupakan kerinduan hati pada suami brondongnya.


Meskipun setiap malam, Dave selalu menyempatkan untuk menelpon Sevia di saat sebelum tidur, tetap saja rindunya semakin menggebu setiap harinya. Sampai saat hari yang telah mereka tentukan untuk bertemu, Sevia terlihat begitu bersemangat menuju ke taman tempat dulu dia dicampakan oleh Andika sekaligus pertama kali bertemu dengan Dave.


"Aku harus dandan cantik, aku akan jujur sama dia kalau aku mencintainya dan tidak ingin berpisah dengannya. Tapi bagaimana kalau ternyata Dave ingin berpisah denganku?" gumam Sevia.


"Via, kamu mau ke mana?" tanya Bram yang berpapasan dengan Sevia di lobby apartemen.


"Aku mau main dulu, titip apartemen ya Mr. Bram!" jawab Sevia dengan tersenyum ceria.


Kemarin-kemarin wajahnya murung terus, sampai setiap hari aku harus mengirimkan foto gadis itu pada Dave, batin Bram.


Bram pun langsung merogoh kantog celananya dan mengambil foto Sevia diam-diam lalu mengirimkannya pada Dave. Tak lama, ponselnya berdering karena Dave langsung melakukan panggilan padanya.


"Hallo, Bram! Apa dia sudah berangkat?" tanya Dave diseberang sana.


"Barusan dia berangkat, memang kalian janjian?" tanya Bram.


"Kepo kamu! Thanks bro infonya!"


...~Bersambung~...


Sawerannya dong Kakak! Biar othor tambah semangat updatenya.


Sambil nunggu Dave dan Sevia update, bisa cek juga karya Author yang lain:


Terjebak Cinta Mantan dan Harga Sebuah Daster