Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 112 Bayaran Kata Maaf


"Benarkah, Nyonya? Boleh saya tahu siapa orang tua kandung Dave?" tanya Kylie.


"Kami merawatnya saat Dave sudah berusia tujuh tahun. Tapi maaf, Nyonya karena kami kurang tahu dengan orag tua kandung Dave. Karena bagi kami, Dave seperti anak kandung kami sendiri." Bukan Icha yang menjawab, tetapi Al yang langsung menyerobot menjawab pertanyaan Kylie.


Sementara Icha langsung bungkam. Dia merasa sangat menyesal karena sudah keceplosan di depan orang yang belum lama dikenalnya. Icha pun hanya tersenyum samar untuk menutupi rasa penyesalannya.


"Oh, seperti itu. Entah kenapa saat melihatnya, saya selalu merasa seperti bertemu dengan putraku, Dave Mattews. Mungkin karena terlalu merindukannya sehingga menganggap putra Anda mirip dengan putraku," ungkap Kylie.


"Sudah, sayang! Kita datang ke sini memang untuk mengungkap kematian putra kita," bisik David yang samar-samar terdengar Al.


"Tante, aku sama Sevia mau mencari makan. Lupa belum makan malam," pamit Dave. Dia sangat tidak ingin mendengar orang membicarakan tentang masa lalu keluarganya.


Setelah berpamitan, Dave pun langsung mengajak Sevia ke kamar hotel yang sudah dibooking-nya. Kepalanya merasa pusing jika mengingat tentang asal usulnya. Sungguh, rasanya Dave tidak ingin orang-orang tahu tentang siapa dia sebenarnya. Dia lebih senang jika orang-orang hanya mengenalnya sebagai anak angkat Icha dan Aldrich.


Sesampainya di kamar hotel, Dave langsung tiduran di paha istrinya yang sedang duduk di sofa. Wajahnya dia hadapkan ke perut rata Sevia. Seraya memejamkan mata, Dave bicara pada istrinya.


"Via, kamu tahu tidak kalau bule tadi orang tua papaku?" tanya Dave.


"Apa Dave, maksud kamu Mrs. Kylie itu nenekmu?" Sevia langsung berdiri karena kaget. Membuat Dave yang sedang tiduran otomatis terjatuh ke bawah.


"Via, yang benar saja! Lihat kepalaku kepentok meja," sentak Dave seraya memegang kepalanya.


"Maaf-maaf sayang, aku tadi kaget sekali. Kamu sih kasih tahu hal yang bikin aku syok," ucap Sevia seraya mengelus kepala Dave.


"Aku gak mau maafin kalau gak ada bayarannya." Dave melipat tangannya di dada seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk pada ibunya.


"Lalu aku harus bagaimana? Tidak mungkin kan, kalau aku belikan balon," tanya Sevia.


"Kenapa harus beli? Bukankah kamu sudah punya dua balon?" tanya Dave dengan mata menyelidik penampilan Sevia yang memang terlihat beda dari biasanya.


Daripada aku pusing mikirin masa lalu orang tuaku, lebih baik aku bersenang-senang dengan istriku. Ah Sevia sayang, aku pasti akan memakan kamu malam ini. Jangan harap bisa lepas dari pesonaku, batin Dave.


"Dave, aku sudah cantik begini masa mau kamu hajar juga. Nanti make-up aku bagaimana? Bukankah aku belum bertemu dengan mamanya Harry?" tanya Dave.


"Tidak usah memikirkannya! Tadi dia sudah melihatmu saat bersama dengan Mrs. Kylie," ucap Dave.


Saat selesai bicara, Dave pun langsung menyerang Sevia. Dia tidak peduli dengan gaun mahal yang dipakai istrinya. Yang penting sekarang, dia bisa memuaskan hasratnya.


...***...


Keesokan harinya, nampak sepasang suami istri itu masih bergelung dalam selimut. Mereka benar-benar menghabiskan malam panjang berdua. Tanpa peduli ada orang yang mencari saat di acara pesta tadi malam.


Dave yang merasa terganggu karena suara dering ponselnya, dia pun langsung terbangun dan meraih ponselnya. Dilihatnya nama Andrea yang tertera di layar ponselnya. Dave pun segera menerima panggilan dari bos besarnya.


"Hallo, Om! Ada apa?" tanya Dave saat sudah tersambung.


"Hallo, Dave. Kamu di mana? Bisa ke kantor Om selepas jam makan siang? Ada hal yang ingin Om bicarakan," ucap Andrea.


"Kalau begitu, Om tutup teleponnya." Andrea pun langsung menutup panggilan teleponnya.


"Ada apa Om Andrea menyuruhku untuk menemuinya? Bukankah sekarang hari Minggu?" gumam Dave.


Sevia yang baru bangun merasa heran dengan suaminya yang bicara sendiri. Dia pun langsung duduk dan memeluk Dave yang sedang menyender di kepala ranjang. Dengan mendongakkan kepalanya ke atas, Sevia pun bertanya pada suaminya. "Kenapa Dave? Siapa yang menelpon?"


"Om Andrea. Aku disuruh untuk menemuinya setelah jam makan siang," jawab Dave. "Sekarang sudah jam sebelas siang, aku harus segera bersiap sayang."


"Gara-gara kamu minta olah raga pagi jadinya kita kesiangan," ucap Sevia.


"Tidak apa, katanya kalau kita sebar benih pagi-pagi, hasilnya akan cepat terlihat. Ayo kita mandi bersama, tadi aku sudah menyuruh Harry untuk membawa baju ganti ke sini," ajak Dave seraya bangun dari duduknya.


Dave langsung menggendong Sevia yang bengong karena ucapannya. Saat sampai di kamar mandi, pria bermata biru itu kembali menyerang istrinya dibawah guyuran air shower. Setelah keduanya mendapatkan pelepasan, barulah mereka mandi yang sesungguhnya.


Sementara Harry yang sudah sampai sedari tadi, terpaksa harus menunggu di depan pintu kamar hotel. Namun, sepertinya dia harus sial untuk yang kedua kalinya saat melihat Nadine bersama dengan seorang lelaki paruh baya lewat di depannya. Dengan angkuhnya, mantan istri Harry itu lewat begitu saja seraya menggandeng mesra lelaki yang bersamanya.


Cih! Dapat barang bekas saja bangga. Kamu bego Nadine kalau berpikir Pak Dion lebih baik dari aku. Bagaimana jadinya kalau neneknya Dave mengetahui tentang perselingkuhan suaminya itu? Bisa-bisa kamu akan lenyap oleh dia, batin Harry.


Setelah Nadine sudah tak terlihat lagi, Harry pun langsung memijit bel kembali. Kali ini pintu kamar langsung terbuka. Terpampang dengan jelas dada Dave yang berotot karena hanya memakai handuk kimono.


"Enak benar kamu, Dave. Jam segini baru selesai mandi. Aku sedari pagi dibuat pusing karena Om Andrea terus menghubungiku," keluh Harry seraya masuk ke dalam kamar.


"Tadi dia menelpon. Memangnya ada apa? Apa ada masalah di perusahaan?" tanya Dave bingung.


"Nggak ada. Perusahaan stabil, justru pagi ini harga saham naik. Apa Om Andrea akan memberi kita bonus?" tanya Harry.


"Jangan bermimpi, Harry. Bonus kita tinggal kita tempati," ucap Dave yang memang sudah mendapatkan surat-surat rumah yang diberi oleh Andrea.


"Ah iya aku lupa. Aku masih betah tinggal satu rumah dengan kalian, Dave. Lagipula belum sempat untuk beli barang-barang," ucap Harry.


"Sini bajunya, kasian istriku kedinginan." Dave langsung mengambil paper bag yang ada di tangan Harry. "Tunggu di sini, tidak usah mengintip aku dan Sevia!"


"Narsis sekali kamu, Dave! Aku tidak perlu mengintip kamu, karena aku pun sudah memiliki wanita yang bisa membuatku terbang melayang," teriak Harry yang sukses membuat Sevia terkekeh mendengar ucapan Harry.


Sevia tidak menyangka, Harry yang biasanya nampak diam dan kalem bisa sama-sama narsis seperti suaminya. Sementara Dave hanya menggelengkan kepala mendengar apa yang Harry katakan.


Syukurlah, kalau Harry dan Rani sudah sama-sama saling menerima. Semoga pernikahan kedua mereka langgeng sampai kakek nenek.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...