Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 110 Kelahiran Bayi Perempuan Harry


Wajah-wajah tegang terlihat jelas di depan ruang operasi. Sevia dan Diandra yang diberitahu tentang Rani yang akan melahirkan, mereka pun langsung menuju ke rumah sakit bersama suaminya untuk menantikan kelahiran bayi Rani.


Tak henti Harry berdo'a untuk kelancaran proses kelahiran anaknya serta keselamatan istrinya. Apalagi saat dia mengingat ucapan dokter kandungan Rani yang selalu mewanti-wanti untuk menjaga kandungannya.


Mengingat Rani hamil diatas usia empat puluh tahun sehingga kehamilannya beresiko tinggi. Harry masih mengingat dengan jelas ucapan dokter kalau wanita hamil di atas usia 40 tahun lebih mungkin mengalami kelahiran sesar, bayi mengalami berat badan lahir rendah, komplikasi kehamilan, termasuk tekanan darah tinggi, diabetes, dan pre-eklampsia. Bahkan bisa juga persalinan prematur dan kelahiran prematur.


Namun Harry terus meyakinkan diri, kalau Rani akan baik-baik saja. Karena dari awal kehamilan kondisi Rani dan janinnya selalu dinyatakan sehat, setiap kali mereka kontrol ke dokter kandungan.


Ya Tuhan, tolong selamatkan istri dan anakku. Ku mohon, beri aku kesempatan untuk membahagiakan mereka dan menebus semua kesalahanku pada Rani, batin Harry.


Lampu ruang operasi sudah padam, pertanda dokter sudah selesai melakukan tindakan. Harry, Dian dan Sevia langsung bangun dari duduknya. Mereka bergegas memburu dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana istri dan anak saya, Dok?" tanya Harry dengan bersemangat


"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar," jawab dokter.


"Alhamdulillah," ucap Harry, Sevia dan Diandra kompak.


"Selamat Mister bayi Anda perempuan beratnya 2,5 kilogram, kondisi Nyonya Rani pun baik. Silakan Mister ikuti perawat ke ruang bayi untuk mengadzani setelah bayinya dibersihkan," ucap dokter panjang lebar.


"Baik Dok, terima kasih!" sahut Harry.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi," pamit dokter kemudian berlalu pergi.


"Selamat Harry, akhirnya kamu memiliki anak juga bersama dengan Rani." Sevia merasa senang karena akhirnya hubungan Rani dan Harry yang sempat retak kembali membaik. Apalagi kehadiran seorang anak yang akan menguatkan pernikahan sahabatnya.


"Terima kasih,Via. Aku mau ke dalam dulu melihat keadaan Rani," ucap Harry.


Namun, saat dia akan masuk ke dalam ruang operasi, beberapa perawat keluar dengan mendorong brangkar. Nampak di sana Rani yang belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius. Harry pun langsung menghentikan perawat itu yang akan memindahkan istrinya ke ruang perawatan.


"Rani, sadarlah! Terima kasih untuk perjuanganmu melahirkan bayi kita." Tanpa sungkan dilihat oleh semua yang ada di sana, Harry menciumi wajah istrinya. Membuat Diandra menundukkan kepalanya.


Meskipun dia tidak menunjukkan sikap pada Harry, tetapi dia masih tidak percaya kalau ayah sambungnya itu tidak akan mengkhianati mamanya lagi. Akan tetapi, dia bisa menghargai keputusan mamanya yang memilih rujuk dengan ayah sambungnya.


"Permisi, Mister. Biar Nyonya kamu bawa dulu ke ruang perawatan. Agar ruangannya lebih steril," ucap perawat.


"Iya, Harry. Sebaiknya kamu ke ruangan bayi dulu. Anakmu lebih membutuhkan. Biar Aku dan Dian yang menemani Rani," ucap Sevia.


"Iya, Dad. Ayo bersamaku ke ruangan bayi! Aku ingin melihat gadis kecil yang selalu merepotkan aku," ajak Gavin.


Harry dan Gavin pun pergi ke ruangan bayi. Sementara Sevia dan yang lainnya mengikuti perawat ke ruangan perawatan Rani. Saat tiba di sana, Sevia langsung menghubungi Devanya untuk memberitahu tentang kelahiran Rani.


"Hallo, Mah. Ada apa?" Terdengar suara Devanya saat sambungan teleponnya sudah tersambung.


"Deva, Tante Rani sudah melahirkan. Anaknya perempuan, sekarang Mama dan Dian sedang di rumah sakit."


"Syukurlah, mungkin besok aku baru ke sana. Sekarang sudah malam."


"Iya, gak apa. Sehat-sehat ya Sayang. Jangan terlalu lelah bekerja."


"Iya, Mah." Terdengar suara Devanya yang sedikit serak.


"Mama tutup ya, Sayang."


"Iya, Mah.


Sevia langsung mengakhiri panggilan teleponnya. Dia pun bergegas masuk ke dalam ruang perawatan Rani. Tanpa dia tahu, kalau di seberang sana putrinya sedang menangis.


Devanya memang bahagia mendengar kabar tentang kelahiran bayi tantenya. Tetapi sekaligus sedih karena dia teringat dengan calon bayinya yang tiada. Seandainya kejadian naas itu tidak terjadi, mungkin sekarang dia pun sedang menanti detik-detik kelahiran anak pertamanya.


Melihat istrinya yang sedang terisak di atas tempat tidur, membuat Keano yang baru keluar dari kamar mandi menjadi heran. Karena tadi saat dia akan pergi mandi, dia masih melihat wajah bahagia Devanya karena mereka berhasil memenangkan tender besar dari pemerintah.


"Ay, kenapa?" tanya Keano seraya mendudukan bokongnya di tepi tempat tidur.


"Bang, Tante Rani melahirkan." Devanya menghapus air matanya dengan kasar sehingga Keano langsung menahan tangan istrinya.


"Iya, terus kenapa kamu menangis? Apa terjadi hal buruk pada Tante Rani?"


"Tidak!"


"Lalu, kenapa nangis? Bukankah kita seharusnya senang?"


Keano langsung memeluk tubuh istrinya. Dia tidak ingin Devanya kembali mengenang kejadian naas itu, sehingga membuat istrinya kembali terpuruk. "Sayang, tidak usah dilanjutkan. Lebih baik kita mulai merencanakan membuat adik. Kamu masih muda, masih banyak kesempatan untuk memiliki anak kembali. Bukannya Abang tidak sedih dengan kehilangan anak pertama kita. Tapi kita boleh larut dalam kesedihan."


"Iya, Bang. Besok kita ke rumah sakit ya untuk menengok Tante Rani," ajak Devanya.


"Iya, tapi dengan syarat kamu tidak boleh sedih lagi. Biar cepat ada dede bayi lagi di perut Mommy Deva," ucap Keano seraya menyingkap baju Devanya dan mencium perut rata istrinya.


"Bang ikh, geli."


"Masa, Ay. Kalau ini geli gak?" Keano dengan iseng menyingkap lebih tinggi lagi baju Devanya. Tangannya langsung memainkan buah kesayangannya, membuat Devanya menggeliat keenakan.


"Bang ikh ... Nakal!"


"Ay ... boleh ya! Lihat, pedangnya mencari sarang!" Keano menyingkap handuk kimono-nya hingga terlihat jelas pedang kebanggaannya yang mampu membuat istrinya melenguh keenakan.


"Abang, ikh ...." Tanpa memberikan kesempatan pada Devanya untuk melanjutkan ucapannya, Keano langsung menyerang bibir tipis yang selalu menggoda imannya untuk menyesap. Indera pengecap-nya langsung menerobos masuk saat Devanya membuka mulutnya sedikit. Dia pun langsung mengabsen seisi rongga itu sebelum akhirnya mereka saling menyesap lidah.


Dengan refleks, Devanya langsung mengalungkan tangannya ke leher Keano. Sementara tangan Keano terus saja memainkan titik sensitif istrinya. Hingga tanpa sadar, Devanya pun melenguh kenikmatan


Malam yang panjang dengan lampu temaram yang menerangi kamar, membuat kedua insan yang sedang dimabuk asmara terus berpacu dalam peluh kenikmatan. Entah berapa kali mereka mendapatkan pelepasan. Hingga saat rasa lelah mulai mendera, keduanya pun akhirnya tertidur dengan saling berpelukan.


Pagi harinya, seorang pria bertubuh kekar merasa terusik saat cahaya matahari menyentuh wajahnya. Keano mengerjapkan mata perlahan, lalu melihat ke arah samping tempat tidurnya yang nampak kosong. Sepertinya Devanya sudah terbangun lebih dulu.


Dia pun segera beranak dari tempat tidurnya dan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Namun, betapa terkejutnya dia saat mendapati Devanya sedang muntah-muntah di wastafel.


Hoek ... hoek ....


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Keano cemas. Tangannya memijat tengkuk Devanya


"Mungkin aku masuk angin. Tadi mandi pakai air dingin, tapi aku malah merasa mual." Lagi-lagi Devanya muntah tetapi tidak aa yang keluar dari mulutnya selain cairan lendir.


"Sebentar, Ay. Abang ambilkan minyak kayu putih dulu," ucap Keano. Pria tampan itu langsung menyambar handuk kimono dan segera berlari mencari kotak obat.


Setelah mendapatkan apa yang dia butuhkan, Keano pun segera kemabli menemui Devanya yang masih memuntahkan isi perutnya yang kosong. Dengan sigap, pria tampan itu langsung mengoleskan minyak kayu putih ke sekeliling leher Devanya dan juga dada. Setelah Devanya berhenti muntah-muntah, dia segera memapah istrinya menuju ke tempat tidur.


"Tunggu di sini ya! Abang cari baju kamu dulu," suruh Keano.


"Iya, Bang."


Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman, Keano pun segera bergegas mencari baju untuk istrinya pakai. Sebelum akhirnya dia menghubungi Allana agar memeriksa keadaan Devanya.


"Hallo, Mom! Bisa minta tolong ke rumah sekarang? Deva muntah-muntah sampai badannya lemas, mukanya juga pucat." Keano langsung bicara panjang lebar saat panggilan teleponnya sudah tersambung.


"Ano, ini Papi. Mommy sedang di kamar mandi." Terdengar suara Kendra yang mengangkat panggilan teleponnya.


"Pih, tolong bilang sama Mommy ya, Deva muntah-muntah terus."


"Iya, nanti Papi sampaikan. Kamu kasih minum air hangat dulu agar mengurangi rasa mualnya."


"Iya, Pih. Kalau gitu, Ano tutup dulu ya!"


Klik


Keano langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dia pun berniat akan pergi ke dapur untuk mengambil air hangat. Namun, saat baru saja tiba di ambang pintu, terdengar suara istrinya memanggil.


"Abang, mau kemana?"


"Mau ke dapur ambil air hangat."


"Tidak usah, Bang. Lebih baik Abang mandi dulu. Aku gak mau para pekerja di rumah ini melihat Abang hanya pakai handuk kimono," ucap Devanya.


"Iya, Ay. Abang lupa. Kalau gitu suruh saja bibi bawa air hangat ke sini. Abang mau mandi dulu, nanti Mommy juga akan ke sini."


Kenapa aku sampai lupa kalau dikamar ini sudah dilengkapi teknologi canggih. Tinggal tekan tombol hijau itu, udah bisa nyuruh orang yang ada di dapur. Keano, kenapa kamu mendadak pikun?


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....