
Sevia langsung mendapatkan penanganan dokter. Semua kru pesawat ikut panik mendengar kabar istri tuannya akan melahirkan. Beruntung semua peralatan medis lengkap dibawa dalam perjalanan baby moon ke timur tengah. Sehingga, tidak terlalu khawatir dengan keadaan Sevia dan bayinya pasca melahirkan nanti.
"Bagaimana keadaan istri aku, Dok? Kenapa dia masih saja nampak kesakitan?" tanya Dave cemas.
"Itu hal yang wajar, Mister. Setiap ibu yang akan melahirkan pasti mengalami kontraksi dan membuat si ibu merasa kesakitan," jelas Dokter Arini, dokter kandungan yang menangani Sevia.
Dave sengaja membawa dokter dan perawat dari rumah sakit milik Keluarga Mahardika karena sekalian juga dengan alat medis yang dia bawa dalam perjalanannya.
"Dokter, berapa lama lagi bayiku akan lahir. Tolong percepat, aku tidak tega melihat istriku kesakitan." Dave terus saja mengelus perut Sevia dengan tangan sebelahnya menggenggam tangan istrinya.
"Nyonya, baru pembukaan dua. Bisa sampai satu atau dua hari kalau pembukaan normal. Tapi bisa dipercepat dengan induksi. Apa Nyonya bersedia?"
"Lakukan saja yang terbaik, Dok! Aku hanya minta, tolong selamatkan anak-anakku!" pinta Sevia.
"Baik Nyonya. Sebaiknya memang harus segera dikeluarkan, sebelum air ketubannya habis karena sudah pecah."
Setelah mendapatkan persetujuan dari Dave dan Sevia, Dokter Arini pun segera memberikan Hormon Prostagladin. Metode induksi ini dilakukan dengan memasukkan tablet atau gel ke dalam lubang inti wanita yang akan membantu proses pematangan leher rahim, sehingga akan merangsang persalinan lebih cepat.
Metode ini paling umum digunakan. Ibu hamil akan diberi dosis kedua tablet atau gel prostaglandin, jika dalam waktu 24 jam efeknya belum bekerja. Setelah Dokter Arini melakukan induksi pada Sevia, ibu hamil itu merasakan sakit yang luar biasa. Dia terus menahannya dengan tidak berhenti menyebut nama Tuhannya.
Melihat Sevia yang sangat kesakitan, tanpa terasa Dave menitikkan air matanya. Dia teringat dengan mamanya yang meninggal setelah melahirkan dirinya. Sungguh, Dave sangat takut jika hal itu sampai terjadi pada istrinya.
"Sayang, yang kuat! Maafkan aku karena ingin memiliki anak yang banyak. Aku tidak akan meminta kamu untuk memiliki anak lagi. Kita hanya akan melakukan prosesnya saja," ucap Dave seraya bercucuran air mata.
Astaga nih bule, gak mau punya anak lagi tapi gak mau berhenti membuatnya. Tapi memang sih, kalau dilihat dari tampilannya, dia pasti hot di atas tempat tidur. Tapi cengeng melihat istrinya akan melahirkan, batin Dokter Arini.
"Dave sakit ...," lirih Sevia.
"Yang kuat sayang, apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak sakit?" tanya Dave. "Dokter, cepat lakukan sesuatu! Kenapa istriku semakin kesakitan?"
"Itu efek induksi, Mister. Proses persalinan yang melalui induksi memang biasanya lebih menyakitkan dibandingkan yang alami. Nanti saya akan beri epidural alias pereda nyeri, jika Nyonya tidak bisa menahan rasa nyeri yang timbul karena terasa lebih hebat."
"Cepat berikan, Dok!" suruh Dave.
"Baik, Mister!" Dokter Arini pun segera menyiapkan epidural untuk meredakan rasa sakit Sevia. Dia pun menyuntikkan obat itu ke dalam infusan.
Lima belas menit setelah mendapatkan induksi, Sevia pun sudah dalam pembukaan sepuluh. Dokter Arini dan dua orang perawat sudah bersiap untuk membantu Sevia persalinan.
"Nyonya, tarik napas dalam-dalam dan keluarkan dari hidung. Coba ikuti saya!" Dokter Arini pun mengajari Sevia cara mengambil napas saat mengejan.
Sevia pun mengikuti apa yang dokter itu ajarkan. Dave yang berada di samping Sevia ikut-ikutan mengambil napas panjang seperti orang yang akan melahirkan.
"Nah, iya seperti. Pegang kedua lututnya, lihat perut Anda, berdoa lalu keluarkan sekuat mungkin." Dokter Arini memberi instruksi pada Sevia saat sudah siap dengan posisinya.
"Ayo Nyonya tarik napas dan keluarkan sekuatnya!" suruh Dokter Arini.
Sevia langsung mengikuti apa yg yang diperintahkan oleh dokter itu. Di menarik napas panjang dan mengeluarkannya seraya mengejan, berusaha mengeluarkan bayinya. Namun, tarikan napas pertama belum bisa membuat bayi kecil itu keluar. Dave yang melihat perjuangan Sevia melahirkan bayi kembarnya hanya bisa ikut-ikutan menarik napas dan mengeluarkannya bersamaan dengan Sevia.
"Dok sebentar," ucap Sevia dengan napas yang memburu
"Ayo, Nyonya lebih kuat lagi. Rambutnya sudah terlihat. Sekali tarikan lagi pasti bayinya sudah bisa keluar," ucap Dokter Arini memberi semangat.
Benarkah, Dok? Boleh aku melihatnya?" tanya Dave dengan wajah yang berbinar mendengar apa yang dokter katakan.
"Nanti saja, Mister. Saat bayinya sudah terlahir pasti terlihat jelas," ucap Dokter Arini.
"Oh begitu ya, ayo Sayang kita keluarkan bersama-sama!" ajak Dave.
Astaga Dave, memangnya pas lagi bikin harus keluarkan bersama-sama, keluh Sevia dalam hati.
Sevia pun kembali menarik napas dan berusaha mengeluarkan bayinya. Perawat yang mendampingi Dokter Arini, tidak tinggal diam. Dia membantu Sevia mendorong bayinya dari perut bagian atas sehingga dengan kuasa Tuhan Yang Maha Pencipta, bayi kecil itu bisa keluar dari rahim ibunya dengan selamat.
Oek ... oek ... oek
Dave dan Sevia langsung menitikkan air mata bahagia mendengar suara tangisan bayinya. Rasa haru menyeruak memenuhi dadanya. Dokter pun segera memberi tindakan pada bayi kecil yang beratnya hanya satu setengah kilogram itu. Kemudian dia menyerahkan pada perawat untuk penanganan selanjutnya karena dia harus membantu Sevia untuk melahirkan nak kembar keduanya.
"Selamat Nyonya, bayinya laki-laki," ucap Dokter Arini. "Ayo kita keluarkan adiknya juga!"
Sevia pun kembali menarik napas, dalam satu kali dorongan bayi keduanya lahir dengan selamat. Dave tak henti mengucapkan syukur atas kelahiran kedua bayi kembarnya. Meskipun mereka lahir terlalu cepat dari usia semestinya.
"Selamat Mister, Nyonya. Bayi keduanya pun berjenis kelamin laki-laki. Dia memiliki tanda lahir di pinggang sedangkan kakaknya ada di tangan," jelas Dokter Arini.
"Terima kasih, Dok! Nanti Harry akan mentransfer bonus kalian yang sudah menolong persalinan istriku," ucap Dave.
"Terima kasih, Dok!" lirih Sevia sebelum dia akhirnya memejamkan mata.
"Mister, tolong Anda ikuti perawat yang mengurus bayi Anda. Biar kami memberi pertolongan untuk Nyonya Sevia," suruh Dokter Arini.
Dia merasa kaget saat melihat Sevia pingsan, dia pun segera mengambil tindakan. Dave yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi, dia hanya mengikuti apa yang dokter itu katakan. Dave hanya berpikiran kalau istrinya lelah sehingga dia tertidur, sangat berbeda-beda dengan perkiraan dokter yang menangkap sinyal kritis pada tubuh Sevia.
Sevia mengalami pendarahan sehingga dia kehilangan kesadarannya. Setelah menyadari dengan apa yang terjadi pada pasiennya, dia pun segera menghubungi Dave.
Dave yang baru saja selesai mengadzani kedua ank kembarnya, merasa kaget melihat kedatangan Dokter Arini yang mencarinya. Dia pun segera memberikan bayinya pada perawat yang menjaga kedua anak kembarnya.
"Ada apa dokter mencari aku?" tanya Dave. "Apa istriku sudah bangun?" lanjutnya.
"Belum Mister! Maaf Mister, sebaiknya kita mendarat darurat. Nyonya Sevia mengalami pendarahan. Dia harus segera mendapatkan penanganan. Kami kekurangan kantung darah karena kemarin hanya membawa dua kantong darah," ucap Dokter Arini.
"Apa kamu bilang? Kenapa bisa terjadi? Berapa lama lagi kita sampai ke bandara tujuan?" tanya Dave. "Cepat tanyakan pilot!" suruh Dave panik.
Dokter Arini pun segera menanyakan pada pilot. Setelah mengetahui tinggal satu jam lagi berada di ketinggian, akhirnya Dokter Arini pun hanya pasrah dan berharap persediaan darah cukup hingga Sevia sampai di rumah sakit terdekat dari Bandara.
Sesampainya Dave dan Sevia di bandara yang di tuju, dia pun segera menghubungi Kirana untuk meminta bantuan untuk mencarikan darah yang cocok untuk Sevia.
"Hallo, Assalamu'alaikum," ucap Dave saat panggilan teleponnya sudah tersambung.
"Wa'alaikumsalam, iya Dave. Apa sudah sampai di Bandara? Tante sudah mengirim orang untuk menjemput kalian," ucap Kirana di seberang sana.
"Tante, Sevia sudah melahirkan di pesawat. Sekarang kami menuju rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Sevia kehilangan banyak darah. Bisakah Tante membantu mencarikan golongan darah B rhesus negatif. Aku hanya menyiapkan dua kantong darah sedangkan dia membutuhkan lebih banyak lagi," cerocos Dave.
"Kamu tenang saja, Dave. Tante sudah menabung di bank darah golongan darah yang sama dengan Sevia. Karena Tante maupun ibunya Sevia memiliki golongan darah yang sama yaitu B rhesus negatif."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa sawerannya ya kawan! Like, comment, vote, rate, gift dan favorite sangat berarti loh buat Author....