
Jantung Devanya berdetak lebih cepat dari biasanya. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Takut cemas bercampur jadi satu. Namun, semua itu akhirnya sirna saat dia tahu siapa yang masuk ke kamarnya.
"Dian, kamu dari mana?" tanya Devanya dengan memburu Diandra yang baru saja masuk ke kamar. "Untung kamu datang, tadi ada I ...."
Devanya langsung menghentikan ucapannya ketika dia melihat Keano dan Davin berdiri di belakang Diandra. Perasaan lega yang tadi sirna kini kembali mencuat. Devanya benar-benar takut jika nanti Keano melihat Orion ada di kamar bersamanya.
"Aku habis ambil minum ke bawah," jawab Diandra. Dia langsung masuk begitu saja dan membiarkan Keano yang mengikutinya bersama dengan Davin bicara dengan Devanya.
"Kenapa bengong?" tanya Keano langsung mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Devanya.
"Abang, kapan datang?" tanya Devanya kikuk.
"Barusan, tadi Abang mau ke kamar. Tidak sengaja bertemu Diandra dan Davin," ucap Keano. "Apa kamu baik-baik saja? Kenapa keluar keringat dingin?" lanjutnya
Tangannya langsung terulur mengusap lembut keringat yang ada di pelipis Devanya. Pemuda tampan itu langsung mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling kamar. Namun, sepertinya tidak ada hal yang mencurigakan selain tirai yang seperti terkena angin.
"Aku baik, Bang!" sahut Devanya kikuk.
"Apa ada yang kamu sembunyikan?" tanya Keano lagi.
Dia yakin kalau calon istrinya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Walau bagaimanapun, Keano pernah belajar ilmu psikologi dari profesor yang sengaja opa-nya panggil ke mansion.
"Ti-tidak Bang!" sahut Devanya dengan menundukkan kepalanya.
"Dian, Davin, boleh Abang pinjam Deva sebentar?" tanya Keano.
"Kayak kredit aja, Bang. Pake dipinjam segala. Jangan lama-lama! Takut para tetua melihat," ucap Davin.
"Tidak akan, Ayo ke kamar Abang!" ajak Keano dengan menarik tangan Devanya.
Kedua calon pengantin itu langsung menuju ke kamar Keano yang berada di lantai tiga. Sesampainya di sana, pemuda tampan itu memeluk Devanya erat. Dia hanya ingin calon istrinya lebih tenang dan tidak gugup lagi.
"Ay, jangan gugup! Ayo kita lihat sesuatu!" ajak Keano dengan berbisik di telinga Devanya.
Lelaki yang nyaris sempurna itu melepaskan pelukannya dan membawa Devanya untuk duduk di sofa. Dia tidak bicara apapun lagi. Hanya jari tangannya yang terus bergerak memainkan ponsel saat mereka sudah sama-sama duduk.
"Lihat ini Ay!" Keano menunjukkan sebuah rekaman CCTV pada Devanya.
Deg
Lagi-lagi jantung Devanya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia melihat Orion yang menyelinap masuk ke dalam kamar yang dia tempati saat Diandra keluar dari kamar itu. Dia juga melihat Orion yang keluar lewat balkon kamarnya dan melompati pagar pembatas balkon.
"Mungkin Ion lupa, kalau Villa ini memiliki CCTV dia setiap penjuru. Apa kamu mau lihat, apa saja yang Ion lakukan di kamar?" tanya Keano dengan melirik calon istrinya.
Devanya tidak menjawab pertanyaan Keano. Dia hanya menengok ke arah calon suaminya yang menampilkan wajah datarnya. Bukan apa-apa, entah kenapa dia merasa sangat takut melihat Keano yang seperti itu. Meskipun tidak memperlihatkan kekesalannya yang meledak-ledak tetapi gadis itu yakin kalau dalam hati calon suaminya sedang ada kobaran api yang siap melahap apapun yang membuatnya kesal.
"Maaf, aku memang salah karena berada dalam satu kamar dengan dia. Tapi aku tidak melakukan apa-apa. Dia masuk ke dalam kamar saja, aku tidak tahu," jelas Devanya dengan menundukkan kepalanya. Jari jemari tangannya saling bertautan.
Gugup, gadis itu benar-benar gugup di depan calon suaminya. Seperti seorang pencuri yang tertangkap basah. Meskipun dia merasa tidak bersalah tapi Devanya sangat takut kalau Keano salah paham padanya.
"Minta maaf untuk apa, Ay? Apa kamu masih menjalin hubungan dengan sepupu aku?" tanya Keano dengan menegaskan kata sepupu.
"Apa kamu sedang melindungi Ion?"
Lagi-lagi Devanya menggelengkan kepalanya. "Aku hanya gak mau, keluarga tahu kalau aku dan Ion pernah menjalin hubungan sebelum kita bertunangan," lirih Devanya.
Keano hanya mendengus kasar untuk menetralkan kekesalan hatinya sebelum dia bicara pada Devanya. "Apa kamu sudah yakin untuk menikah dengan Abang?"
Devanya hanya menganggukkan kepalanya dengan kepala yang tertunduk. Suaranya seakan tertahan saat dia ingin mengatakan kata 'Iya'. Keano pun mengangkat dagu Devanya sedikit agar gadis itu melihat ke arahnya.
"Ay, saat kita sudah membuat sebuah komitmen untuk menikah dan menjalani hari bersama hingga menua bahkan tutup usia. Abang harap tidak ada cinta lain yang membayangi perjalanan cinta kita. Apa kamu sanggup untuk selalu setia pada Abang?" Keano menatap lekat manik biru gadis di depannya.
Lagi-lagi Devanya hanya menganggukkan kepalanya. Dia terhanyut dalam tatapan dalam calon suaminya. Hingga saat setan membisikkan sesuatu pada keduanya. Membuat dua insan itu saling mendekatkan wajahnya.
Devanya langsung menutup matanya saat bibir Keano menyapu lembut bibirnya. Berulang kali pemuda tampan itu menarik dan menempelkan bibirnya. Hingga akhirnya dia menyesap lembut bibir merah jambu yang tanpa polesan itu.
Gila rasanya benar-benar memabukkan, membuat tubuhku terus memberontak ingin melakukan sesuatu yang lebih dari ini, batin Keano.
Mereka terus saling berpagutan. Yang awalnya dalam tempo lambat berubah menjadi tempo yang cepat seperti sebuah melodi yang naik turun. Keano tidak bisa menghentikan rasa yang baru pertama kali dia rasakan. Sebuah rasa yang membuat darahnya berdesir hebat dan menghilangkan kewarasannya.
Saat keduanya hampir kehabisan oksigen, barulah Keano melepaskan pagutannya. Mereka langsung berebut oksigen dan menghirupnya dengan rakus. Hingga terdengar suara pintu kamar ada yang mengetuk, barulah Keano membuka suaranya.
"Tunggu di sini! Abang buka pintu dulu."
Keano langsung beranjak menuju ke pintu dengan menyambar sehelai tissue. Dia pun membersihkan sisa saliva di bibirnya. Sebelum tangannya memutar handle pintu.
Nampak di depan kamarnya Allana sedang berdiri. Keano sempat terkejut saat melihat Sang Mommy yang sedang menatapnya lekat. Dia pun secepat mungkin menetralkan perasaannya.
"Kenapa terkejut? Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari Mommy?" tanya Allana. Dia sangat hapal dengan semua ekspresi wajah putranya. Meskipun orang lain sulit menyadarinya. Tapi dia bisa melihat perubahan ekspresi Keano yang terlihat samar.
"Ti-tidak Mom! Aku sedang berbincang dengan Deva," jawab Keano.
"Astaga Ano! Kalian tuh harus dipingit, kenapa berdua di dalam kamar?" tanya Allana. Dokter cantik itu langsung menerobos masuk mencari keberadaan calon menantunya.
"Aku hanya ingin melepaskan rindu," jawab Keano asal.
"Tidak bisa! Bagaimana kalau ada setan lewat lalu menyuruh kalian melakukan hal yang seharusnya tidak kalian lakukan sebelum menikah? Padahal pernikahan kalian tinggal beberapa jam lagi," cerocos Allana.
"Maaf Mom, aku khilaf."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu update brondong, yuk melipir ke karya othor keren yang satu!