Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 102 Pemenangnya


Keesokan harinya, Rani sempat kaget saat baru terbangun dari tidurnya. Biasanya dia tidur bersama putrinya, tetapi sekarang berada dalam pelukan seorang lelaki yang belum lama ini menjadi suaminya. Rani memejamkan matanya sesaat ketika dia melihat ke tubuhnya yang penuh dengan tanda merah.


Apa yang harus lakukan? Kenapa rasanya malu banget, semalam aku begitu menikmati permainan dia. Harry ternyata begitu perkasa, padahal saat bersama Mas Diwan tidak pernah berkali-kali pelepasan, batin Rani.


"Kenapa bengong? Apa kamu teringat dengan semalam? Kita sudah suami istri jadi bukan suatu dosa jika melakukannya, bukankah begitu?" tanya Harry yang menatap lekat Rani.


Rani hanya menganggukkan kepalanya, sedikit pun dia tidak mengeluarkan suaranya. Entahlah, suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Dia pun segera turun dari ranjangnya dan memakai handuk kimono untuk pergi ke kamar mandi yang ada di dekat dapur.


Harry hanya tersenyum melihat Rani yang seperti malu-malu. Dia tidak pernah menyangka akan secepat itu bisa menikmati tubuh istrinya. Mengingat Rani yang begitu mencintai almarhum suaminya, membuat dia tidak berani berharap banyak dengan pernikahan keduanya. Harry pun langsung memakai bajunya dan keluar dari kamar.


"Wah, segar sekali menantuku. Pasti habis belah duren, main berapa ronde?" tanya Pak Iwan yang berpapasan dengan Harry di ruang tamu.


"Bapak tahu saja, apa Bapak mencampurkan sesuatu ke makananku?" tanya Harry menyelidik mertuanya karena dia merasa ada yang lain dari senyum mertuanya.


"Kamu tuh terlalu curiga sama orang," ucap Pak Iwan cengengesan.


"Aku yakin Bapak sudah mencampurkan sesuatu ke minumanku dan Rani, tidak apa. Aku berterima kasih atas inisiatif Bapak, sehingga aku bisa mendapatkan putri Bapak." Harry pun tersenyum senang membuat Rani yang membawa nampan berisi minuman menjadi heran dengan keakraban ayahnya dan Harry.


"Diminum kopinya!" suruh Rani. "Kalau mau mandi, aku sudah memasak air," lanjutnya.


"Makasih!"


Setelah meminum kopinya, Harry pun berpamitan pada mertuanya. Dia langsung membersihkan dirinya karena tidak lama lagi dia harus kembali ke Cikarang. Dave sudah berpesan berkali-kali sebelum dia berangkat untuk tidak lama berada di kampung karena hari Senin akan ada meeting penting.


Selesai Harry dan Rani sarapan pagi bersama, mereka langsung berpamitan pada mertuanya untuk menuju kota industri. Meskipun berat, Pak Iwan dan Bu Asti akhirnya melepaskan kepergian putri dan cucunya.


"Pergilah, Nak! Semoga di sana kebahagian selalu bersamamu. Ibu dan Bapak hanya bisa mendoakan kamu dari sini," gumam Bu Asti seraya melambaikan tangannya.


...***...


Hanya butuh waktu kurang lebih empat jam, kini Harry dan Rani pun sudah tiba di kota industri. Kedatangan mereka disambut suka cita oleh Sevia. Sebenarnya Sevia tahu kalau Rani sudah menikah siri dengan Harry karena Dave sudah menceritakan semuanya, tetapi dia bepura-pura tidak tahu di depan Harry dan Rani karena Sevia ingin Rani jujur padanya.


"Aku senang banget, kamu balik lagi ke sini. Aku kangen tahu," ucap Sevia.


"Sama, Via. Aku juga kangen banget sama kamu," ucap Rani.


"Wah Diandra nanti main bareng sama Deva ya!" Sevia terus menggendong Diandra yang sukses membuat Devanya cemburu dan menangis.


"Deva sini sama Ibu, memangnya Deva tak kangen sama Ibu?" Rani langsung merentangkan tangannya meminta Devanya yang sedang digendong oleh perawatnya. "Gavin mana? Kho hak kelihatan?"


"Gavin sama Mbak Noni, Bu!" sahut Lusi.


"Tolong suruh ke sini ya!" suruh Sevia.


"Wah anak Ibu sehat sekali, ayo kenalan dulu sama Dede Diandra," ucap Rani


"Deva sini sama Papa, biar Ade Gavin sama Ade Diandra kangen-kangenan." Dave langsung mengambil putrinya dan membiarkan Rani menggendong Gavin.


Namun, sepertinya Noni kurang suka melihat Rani mengambil anak asuhnya. Dengan muka judes, dia pun bicara pada Rani, "Hati-hati Mbak! Gavin baru sembuh dari demamnya."


"Tenang saja, Noni! Kita juga sudah punya anak jadi sudah biasa menggendong anak bayi. Bahkan saat Gavin baru lahir, Ranilah yang merawatnya." Sevia langsung membela Rani. Dia tidak suka dengan cara Noni memberi peringatan pada Rani.


"Kalian lebih baik istirahat sana, tidak usah ikut campur dengan kehidupan tuannya," usir Dave. Pria bermata biru yang peka dengan keadaan langsung menyuruh dua perawat itu untuk pergi. Dia tidak ingin ada orang yang mengacau dalam kehidupan keluarganya.


Setelah kepergian dua perawat itu, Rani pun mulai bercerita tentang pernikahannya pada Sevia. Sementara sahabatnya itu hanya mendengarkan tanpa berani mencela sedikit pun. Sampai Rani selesai bicara, barulah dia membuka suaranya.


"Aku sudah tahu Kho kalau kamu menikah dengan Harry. Aku diam karena aku ingin tahu kamu akan terus terang atau tidak," ucap Sevia.


"Maaf Via, aku gak bermaksud," ucap Rani dengan menundukkan kepalanya.


"Iya, gak apa-apa. Kalian berhak bahagia. Aku yakin, Harry bisa membuat kamu bahagia Rani. Meskipun kamu tidak bersama Mas Diwan lagi. Aku harap, kamu tidak membandingkan antara Mas Diwan dan Harry karena mereka orang yang berbeda dan sudah pasti memiliki sifat dan karakter yang berbeda pula," ucap Sevia sedikit menasehati sahabatnya.


"Iya, Via. Kamu benar, Harry dan Mas Diwan memang pribadi yang berbeda tapi semoga saja mereka memiliki cinta yang sama untuk aku," ucap Rani.


"Aamiin," kompak Sevia, Dave dan Harry yang baru datang setelah membereskan barang Rani di kamarnya.


"Aku sudah menghubungi penyalur baby sitter dan memesan 3 orang yang usianya di atas 40 tahun untuk mengurus anak-anak. Maaf Via, sepertinya perawat pilihan kamu mulai besok tidak aku pekerjakan lagi. Aku tidak suka dengan dandanan mereka yang terlalu menor," ucap Dave yang masih bermain dengan Devanya.


"Sepertinya, aku terlambat satu langkah darimu, Dave!" seru Harry yang duduk di samping Rani.


"Kamu tidak hanya satu langkah, Harry. Tapi banyak langkah, lihat Devanya sudah besar! Anakmu masih kecil." Dave tersenyum remeh pada sahabatnya.


"Jangan sombong kamu, Dave! Sekarang aku pemenangnya. Aku udah dua kali nikah, anak aku juga udah dua. Tapi kamu hanya satu kali punya anak dan istri," ledek Harry.


Bugh bugh


Dua bantal sofa melayang tepat di wajah Harry. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Sevia dan Dave. Pasangan suami istri itu kompak mengerjai Harry karena memanasi Dave untuk nikah dua kali.


"Sialan kamu Harry! Istriku hanya akan ada Sevia selamanya, kalau anak? Aku juga tiap malam membuatkannya tapi istriku belum ingin hamil lagi." seru Dave. "Sayang, ayo kita bikin dede bayi, biar Harry tahu kalau aku tidak bisa diremehkan."


...~Bersambung~...


...Jangan kendor dukungannya ya! Yang masih punya vote boleh deh kasih ke Dave dan Sevia daripada hangus....


...Terima kasih 🙏🏻...