Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 46 Rumah Nenek


Pagi yang cerah, sinar mentari menelusup masuk lewat celah jendela. Sevia terbangun dengan tangan Dave yang masih setia memegang bukit kembarnya. Ternyata posisi mereka tidak berubah sedikit pun sedari malam. Setelah keduanya bermain beberapa ronde tadi malam, sampai akhirnya rasa kantuk dan lelah menyerang Sevia. Akhirnya Dave pun membiarkan istrinya tidur dengan dia memeluk Sevia dan tangannnya memegang kedua bukit kembar itu seolah takut akan ada yang mengambilnya.


Perlahan Sevia menurunkan tangan Dave, lalu dia berbalik menghadap ke arah suaminya. Ditatapnya wajah tampan itu dengan perasaan yang tidak bisa dia artikan. Ada rasa bahagia dan cemas bercampur menjadi satu.


"Via, jangan hanya melihatku! Lebih baik kamu memberikan aku morning kiss di setiap bangun pagi," ucap Dave dengan mata yang terpejam.


"Kamu sudah bangun Dave?" tanya Sevia.


"Tidak, mataku masih terpejam." Dave hanya memonyongkan bibirnya, berharap istrinya menuruti apa yang diinginkannya.


Sevia pun perlahan lebih mendekatkan wajahnya untuk memberikan apa yang suaminya inginkan. Namun ternyata, gerakannya tanpa sengaja menyentuh phyton yang sedang tidur. Dia tidak tahu kalau apa yang dilakukan akan berimbas padanya.


Cup


Sekilas Sevia mengecup bibir Dave yang sudah monyong sedari tadi. Namun, dengan sigap tangan kekar itu langsung menahan tengkuk istrinya. Pertukaran saliva pun sudah tidak bisa dihindari. Seperti terjebak dengan ulahnya sendiri, Sevia harus menerima saat Dave menginginkan lebih dari sekedar ciuman karena phyton sudah terbangun sempurna dan siap masuk ke dalam sarangnya.


"Dave jangan lama-lama, nanti kita berangkatnya kesiangan!" suruh Sevia saat Dave sedang berusaha memompanya.


"Iya, Sayang! Ah ... Ayo kita keluarkan sama-sama!" Dave langsung menyemburkan benihnya di lahan yang subur bersamaan dengan Sevia. Berharap dari persilangan benih itu akan tumbuh subur Dave junior di dalam rahim istrinya.


Sevia langsung terbangun dan berlari menuju ke kamar mandi setelah Dave melepaskan dirinya. Tak lama brondong itu pun menyusul istrinya. Namun sayang, ternyata Sevia sudah mengunci pintu terlebih dahulu.


"Via, buka pintunya! Kita mandi bersama biar gak kesiangan," teriak Dave di depan pintu kamar mandi.


"Nggak, Dave! Aku hanya sebentar," teriak Sevia.


Dave kembali ke duduk di tempat tidur dengan badan tanpa penutup sehelai benang pun. Dia memainkan ponselnya, melihat begitu banyak pesan yang masuk. Salah satunya datang dari Harry dan Bram yang memberitahu tentang kepulangannya.


"Kalian datang, aku yang akan pergi honeymoon ke kampung mertuaku," kekeh Dave yang sengaja tidak memberitahu tentang keberangkatannya ke kampung Sevia.


Hanya butuh waktu lima belas menit, kini Sevia sudah selesai dengan ritual mandi besarnya. Nampak tetesan air dari rambutnya yang basah membuat Dave langsung menegang kembali melihat pemandangan yang terlihat fresh di depannya. Dia pun langsung beranjak untuk mendekati Sevia yang sedang mengeringkan rambutnya.


"Via, kamu sedang menggodaku?" tanya Dave saat sudah berada di belakang istrinya.


Menyadari suaminya yang seperti menginginkan lagi, Sevia pun langsung bangun dari duduknya. Dia langsung melilitkan handuk kecil yang tadi dipakainya untuk menutupi phyton yang siap menerkam. Sevia pun langsung menarik Dave menuju kamar.


"Kamu cepetan mandi kalau tidak mau aku tinggal," suruh Sevia dengan judes.


"Ampun Tante, jangan galak-galak! Iya aku mandi dulu, Awas saja kalau ditinggal!" seru Dave mengancam balik.


...***...


Butuh waktu empat jam perjalanan menuju kampung Sevia yang berada di kaki gunung Ciremai. Sebuah kampung kecil yang asri dengan suasana sejuk. Kekompakan warganya yang menjadi salah satu ciri khas kampung itu. Namun, meskipun berada di kaki gunung yang jauh dari keramaian kota. Kampung Sevia terbilang sebagai kampung yang sudah maju dengan jaringan internet yang sudah masuk ke desanya.


Mobil Dave terparkir rapi di depan rumah sederhana yang hanya memiliki halaman tidak terlalu besar. Namun cukup untuk membuat sebuah taman mini. Dulu, saat Sevia masih tinggal di kampung, halaman itu selalu penuh dengan bunga berwarna-warni yang tersusun rapi. Akan tetapi, semenjak dia merantau taman bunga miliknya menjadi tidak terurus dan tinggal beberapa bunga saja yang masih hidup menghiasi halaman rumah neneknya.


Sevia turun dari mobil dan langsung menuju ke rumah neneknya. Nampak suasana rumah yang sepi begitupun dengan daerah sekitarnya. Karena di kampung Sevia itu akan terlihat ramai jika pagi dan sore hari.


"Wa'alaikumsalam," jawab seseorang di dalam sana dengan suara lirih.


Sevia langsung memeluk tubuh ringkih neneknya yang sudah berusia lebih dari 65 tahun, saat pintu sudah terbuka lebar dan terlihat neneknya berdiri di ambang pintu. Setetes air mata keluar dari pelupuk matanya. Kerinduannya pada orang yang sudah merawatnya kini terobati.


"Via, ini kamu Nak?" tanya Nenek Salamah


"Iya, Nek. Ini Via," ucap Sevia.


"Ya ampun cucu nenek ...." Nenek Salamah langsung menangis saat menyadari cucunya yang sedang memeluknya. "Ke mana saja, Via? Kenapa gak pulang-pulang?"


"Maafin Via, Nek! Sekarang Via kuliah lagi jadi sibuk kerja sambil kuliah," jelas Sevia.


Dia sangat sibuk Nek, karena malamnya aku yang ngerjain cucu nenek, batin Dave.


Merasa puas saling melepas rindu dengan berpelukan, Sevia pun mengurai pelukannya. Dia langsung menengok ke belakang. Nampak Dave yang sabar menunggu cucu dan nenek itu saling melepas rindu.


Dave teringat dengan eyangnya yang sudah tiada saat dia berusia tujuh tahun. Hanya eyangnya yang dia tahu satu-satunya keluarga kandung dia, karena sedikit pun Dave tidak tahu tentang keluarga papanya. Dia pun tidak berniat untuk mencari tahu karena rasanya percuma, sudah pasti keluarga papanya tidak akan mengenalinya. Seorang anak yang lahir di luar nikah dan hubungan mama papanya pun tidak diketahui oleh keluarga papanya.


"Nenek, kenalin ini suami Via." Sevia langsung menarik tangan Dave agar mendekati neneknya.


"Suamimu tampan sekali, Via. Dari mana kamu menemukannya?" tanya Nenek Salamah dengan menelisik penampilan Dave.


"Nenek, aku Dave!" Dave langsung mencium punggung tangan Nenek Salamah yang sudah terlihat keriput.


"Ayo masuk, Nak! Rumah Nenek hanya begini-begini saja," ucap Nenek Salamah.


Dave langsung masuk mengikuti Sevia. Dilihatnya atap rumah yang sudah banyak bolong di sana sini. Dahinya sedikit mengerut melihat tampilan rumah neneknya Sevia.


"Via, bukannya dulu kamu mau memberikan uang buat nenek renovasi rumah?" tanya Dave setelah dia duduk di kursi kayu dengan model kursi tempo dulu.


"Aku sudah mentransfer uangnya, Dave. Kata Wa Neneng sudah diberikan sama Nenek," jelas Sevia.


"Uang itu dipakai bapakmu, Via. Dia menikah lagi dan membeli rumah dengan uang yang kamu berikan," jelas Nenek Salamah.


"Ya ampun Nenek! Kenapa harus diberikan ke bapak? Aku kirim uang kan buat benerin rumah." Rasanya Sevia ingin menangis, uang yang dia tabung ditambah pemberian Dave malah dipakai oleh bapaknya.


"Sudah, Via! Besok kita belanja bahan bangunan. Nanti aku minta rancangan ke Om Al untuk sebuah rumah minimalis." Dave langsung merangkul istrinya yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Maafkan Nenek, Via! Bapakmu mengancam pakai pisauu kalau Nenek tidak memberikan uang yang kamu kirim padanya."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih!...