
Malam ini, langit tampak cerah dengan rembulan yang bersinar terang, Bintang pun tak ingin ketinggalan berkelap-kelip memancarkan sinarnya. Udara malam pegunungan terasa lebih dingin dan sejuk, membuat Dave semakin mengeratkan pelukannya pada Sevia.
"Dave, aku mual," rengek Sevia yang sudah tidak bisa menahan rasa ingin muntahnya.
Dave mengerutkan keningnya, dia merasa heran kenapa istrinya kembali mual saat bersama dengannya. 'Bukankah kemarin-kemarin Sevia sudah tidak mual lagi saat berada di dekatnya?' pikir Dave.
"Kenapa mual lagi di dekat aku?"
"Aku tidak tahu, Dave. Apa kamu tidak membawa aromaterapi itu?"
"Astaga! Aku lupa tidak memakainya," Dave segera melepaskan diri dan beranjak mencari aromaterapi yang sengaja dia bawa. Setelah mendapatkannya, Dave segera menyemprotkan ke sekujur tubuhnya.
Sementara Sevia setengah berlari menuju ke toilet. Dave pun segera menyusul untuk melihat keadaan istrinya. Dia memijat tengkuk Sevia pelan agar istrinya merasa lebih baik. Setelah Sevia puas memuntahkan isi perutnya, dia segera dipapah oleh Dave menuju ke tempat tidur.
"Maaf, Sayang. Tadi aku lupa tidak pakai aromaterapi," sesal Dave.
"Tidak apa, tolong ambilkan air hangat!" pinta Sevia.
"Tunggu sebentar! Aku ambilkan dulu." Dave langsung pergi ke dapur untuk mengambil air hangat seperti apa yang Sevia minta.
Saat dia sedang celingukan mencari di mana tempat air minum berada, perawat yang biasa merawat ibu Sevia pun pergi ke dapur akan mengambil air minum untuk Kinara.
"Mister, sedang mencari apa?" tanya perawat itu.
"Tolong beritahu di mana ada air hangat!" pinta Dave.
"Sebentar saya buatkan!" Perawat itu pun segera mencampur air panas dengan air dingin agar menjadi hangat dalam sebuah gelas.
Dave terus memperhatikan apa yang perawat itu lakukan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Ini Mister airnya," ucap perawat dengan memberikan segelas air hangat pada Dave.
"Terima kasih!" ujar Dave kemudian berlalu pergi.
Beruntung sekali putrinya Bu Nara. Memiliki suami bule tampan yang perhatian sekali pada istrinya. Dari pertama mereka datang, sepertinya bule itu selalu menempel pada istrinya. Andai aku memiliki suami seperti itu, sudah pasti aku akan mempertahankannya. batin perawat.
Sementara itu, Dave langsung bergegas menuju ke kamar untuk menemui istrinya. Dia sangat tidak tega meninggalkan Sevia sendiri yang terbaring lemas di atas tempat tidur.
"Ini, sayang!" Dave memberikan air minum itu pada Sevia.
"Makasih," ucap Sevia seraya mengambil gelas yang Dave berikan.
Setelah Sevia menghabiskan hampir setengah gelas air, dia pun menyimpan gelas itu di atas nakas yang ada di samping tempat tidur.
"Bagaimana, apa masih mual?" tanya Dave cemas.
"Tidak semual tadi, makasih Papa!" Sevia tersenyum manis membuat darah di tubuh Dave menjadi bergejolak.
Ingin rasanya dia menerkam istrinya sekarang juga, namun dia menahannya. Mengingat Sevia masih mual saat berdekatan dengannya
"Via, sudah boleh kan aku memeluk kamu?" tanya Dave dengan harap-harap cemas.
"Boleh, tapi hanya peluk ya! Karena sekarang kita tidur bertiga dengan Deva," ujar Sevia mengingatkan suaminya.
"Aku tidak tahu, Dave. Kita serahkan saja sama waktu, apa yang akan terjadi besok ya terjadi saja. Tapi besok ibu akan ikut dengan Tante Kirana ke negeri Tuan Hamish. Mungkin dia kembali lagi ke tanah air setelah pengobatannya selesai."
"Via, aku berharap, apa yang terjadi pada orang tua kita tidak terjadi pada anak-anak kita. Aku tidak akan mengatur perasaan mereka. Aku hanya akan mengarahkan harus seperti apa mereka bersikap. Seperti Om Aldrich dan Tante Icha yang tidak mempermasalahkan pada siapa anak-anaknya melabuhkan hatinya."
...***...
Keesokan harinya, Sevia terbangun pagi-pagi sekali, karena dia mendengar suara berisik di luar. Dia pun perlahan melepaskan diri dari pelukan Dave dan beringsut turun dari tempat tidur. Dia khawatir membangunkan Devanya yang masih terlelap.
Setelah Sevia membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya pada yang Maha Kuasa, dia pun segera menuju ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan pagi. Namun, saat baru sampai di ruang tengah, dia panggil oleh Kirana.
"Via, boleh Tante bicara sebentar?"
"Iya, Tan. Ada apa?" tanya Sevia pada Kirana.
"Kita bicara di sana yuk! Sambil menunggu matahari terbit." ajak Kirana seraya menunjuk pada gazebo yang menghadap ke taman bunga.
"Boleh Tan!" Sevia pun langsung mengikuti Kirana yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju ke gazebo.
Sebuah gazebo dengan pemandangan hamparan taman bunga mawar dari berbagai jenis. Memang sengaja berbagai jenis mawar dibudidayakan di sana. Selain banyak yang mencarinya, mawar itu memang bunga kesayangan Kinara. Setelah mereka sampai di sana, Kirana pun bicara pada keponakannya.
"Via, Tante minta jangan memberitahu apapun pada Rudi tentang ibu kamu. Begitupun pada Kak Nara, jangan beritahu apapun tentang Rudi. Biarkan mereka hidup dengan kehidupan yang baru dan tidak terikat dengan masa lalu," ucap Kinara.
"Iya, Tan. Aku tidak akan mengatakan apapun pada bapak tentang ibu. Kisah mereka hanya bagian dari masa lalu, karena sekarang ibu dan bapak sudah memiliki kehidupannya masing-masing." Sevia hanya tersenyum samar. Meskipun hatinya sangat ingin melihat orang tuanya bersatu lagi, tetapi keadaan sangat tidak memungkinkan.
"Kamu benar. Via, sebenarnya selain lumpuh, Kak Nara juga kehilangan sebagian memorinya. Dia tidak teringat dengan Rudi. Yang dia ingat, dia punya anak dan dipaksa menikah dengan mantan kekasihnya. Jadi, dia berpikir kalau kamu itu anaknya Tommy. Orang yang akan bapak jodohkan padanya," ungkap Kirana.
"Lalu, apa aku harus mengaku kalau aku anaknya Tommy, orang yang tidak aku kenal?" tanya Sevia.
"Tidak harus. Kamu cukup menghindari keluarga mereka. Tante khawatir, dengan posisi suami kamu sekarang, lambat laun kalian pasti bertemu. Apalagi kamu banyak kemiripan dengan Kak Nara, membuat Tommy akan lebih mudah mengenalinya." Kirana berhenti sejenak, dia menghela napas panjang.
"Tante juga khawatir, dia akan mengejar kamu karena Tommy penasaran pada Kak Nara. Sebelum kecelakaan itu terjadi, Tommy akan melakukan hal yang tidak senonoh pada Kak Nara, tetapi dia berhasil meloloskan diri. Namun tidak berhasil menghindar dari kecelakaan itu. Apa kamu tahu Keluarga Winata? Tommy adiknya Bambang Winata, orang yang berkuasa di negeri ini."
"Apa??? Bukankah itu keluarganya Mona?" tanya Sevia.
"Mona siapa?" tanya Kirana bingung dengan apa yang Sevia katakan.
"Putrinya Pak Bambang, Tan. Kemarin kan viral video putrinya Pak Bambang yang sedang marah-marah di mall," jelas Sevia.
"Oh, mereka memang selalu menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, termasuk menginginkan pasangan hidup."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote rate gift dan masukin....
...Terima kasih!...
Sambil nunggu Brondong update, yuk kepoin karya Author kece satu ini.