
Suasana taman kota yang ramai tidak membuat suasana jadi mencair di antara Devanya dan Orion. Keduanya diam membisu tidak ada yang bersuara satu pun. Meskipun tadi Orion yang mengajak gadis bermata biru itu untuk makan siang bersama. Namun, dia hanya diam dengan kepala yang terus menunduk ke bawah.
"Ion, aku akan menikah bulan depan. Maaf kalau aku tidak bisa bersama kamu lagi," ucap Devanya memecah kesunyian.
"Aku tahu. Aku hanya minta sehari bersama kamu, hanya sehari. Sebelum kita sama-sama tidak bisa bermain bersama lagi. Anggap saja, ini permintaan seorang teman, sahabat, saudara atau mantan kamu." Orion memandang lekat pada gadis yang dicintainya.
"Tapi Ion, aku ...."
"Aku janji kita tidak akan melakukan hal yang di luar batas. Aku hanya ingin mengajak kamu sebuah tempat. Sebelum jam sembilan malam, pasti sudah pulang ke rumah."
"Aku tidak mau jauh-jauh," ucap Devanya.
"Tidak akan. Aku hitung mulai dari sekarang. Anggap saja ini kencan terakhir kita. Setelah hari ini, aku sudah ikhlas melepaskan kamu," uap Orion.
"Ion, bagaimana kalau Luna tahu? Dia pasti salah paham," tanya Orion.
"Tidak akan, Luna sedang ke luar negeri. Ayo kita mulai kencan terakhir kita!" ajak Orion.
Dia langsung menarik tangan Devanya untuk membeli beberapa makanan yang dijajakan di taman itu. Setelah mendapatkan satu kantong besar, Orion membawa Devanya ke sebuah danau buatan di belakang sekolah mereka semasa jaman SMU dulu.
Orion mengeluarkan tikar lipat yang selalu tersimpan di mobilnya. Dengan sigap dia menggelar tikar dan menyiapkan makanan yang mereka bawa. Setelah semua siap, Orion pun berbicara pada Devanya.
"Silakan Tuan Putri! Makanan sudah tersedia, jika ada yang diinginkan lagi, Tuan Putri bicara saja pada hamba. Hamba siap melayani," ucap Orion dengan mengayunkan tangan kanan seperti seorang pelayan.
Devanya hanya tersenyum seraya mendudukkan bokongnya di atas tikar. Matanya terus melihat ke sekeliling tempat. Dia merasa heran, sejak kapan ada danau buatan di belakang sekolahnya.
"Ion, kamu dari mana tahu tempat ini?" tanya Devanya.
"Dari kita masih sekolah. Kamu tahu kenapa danau ini di bangun?" tanya Orion dengan melirik ke arah Devanya.
"Mana aku tahu. Aku tahu di belakang sekolah ada danau aja baru hari ini," jawab Devanya.
"Danau ini dibuatnya untuk mengenang cinta pertama salah satu siswa di sini. Dia mencintai seorang gadis yang hanya menganggapnya sahabat. Bahkan dia membuat sebuah kafe dengan menggabungkan namanya dengan nama gadis itu. Tapi ternyata takdir mempermainkannya."
"Maksud kamu?"
"Setelah gadis itu menikah dengan pacarnya, ternyata baru diketahui kalau gadis itu adalah adiknya beda ibu. Tapi sampai sekarang, siswa itu tidak bisa menghapus nama gadis itu. Aku merasa, kalau nasibku tidak jauh beda dari dia. Meskipun aku mencintai kamu, tapi takdir kita hanya sebatas saudara."
"Apa kamu mengenalnya?"
"Iya, beliau senang sekali menceritakan tentang masa mudanya. Karena beliau juga aku jadi sadar, kalau cinta tidak harus memiliki. Kita bisa terus mencintai seseorang dengan membiarkan orang itu bahagia bersama orang lain."
"Sudahlah jangan melow terus! Makan yuk!" ajak Devanya.
Dia segera mengalihkan pembicaraan. Rasanya pusing jika harus memikirkan tentang kebimbangan hatinya. Devanya memilih untuk menikmati alur kehidupan dibandingkan harus menentang takdir.
Keduanya menikmati berbagai macam jajanan yang tadi dibelinya. Untuk sesaat, mereka lupa dengan masalah hidup yang harus dihadapi. Orion pun tanpa sungkan menyuapi Devanya, begitu pun dengan Devanya yang sesekali menyuruh Orion untuk mencicipi makanannya.
"Wah kenyang sekali perutku. Makanannya enak-enak," puji Devanya dengan mengelus perutnya.
"Apa mau mencoba naik perahu?" tanya Orion.
"Apa di danaunya ada buaya?" tanya Devanya.
"Mana ada buaya di sini. Ada juga buaya darat di pengkolan," seloroh Orion.
"Mana ada buaya yang hanya mencintai satu orang gadis," elak Orion.
"Ion, aku merasa lebih senang jika kita hanya bersahabat daripada harus melibatkan perasaan. Mau kan jadi sahabat aku?" tanya Devanya.
Orion tidak langsung menjawab, dia teringat dengan cerita Opa Zyan, adiknya Opa Zidan. Yang mana gadis yang dicintai oleh opanya itu memilih untuk terus menjadi sahabatnya dibandingkan menerima cintanya.
"Baiklah kakak ipar, mantan kekasih gelap aku," ledek Orion.
"Ayo katanya mau naik perahu!" ajak Devanya.
Orion pun langsung bangun dari duduknya. Dia mengikuti Devanya yang menuju ke sebuah perahu kecil yang terparkir di tepi danau. Keduanya menikmati hari yang mulai berganti. Warna langit pun berubah menjadi jingga.
"Vanya, apa kamu? Bagiku kamu seperti senja. Yang menghiasi hariku hanya sesaat tapi sangat berkesan dan selalu aku rindukan kehadirannya," ucap Orion saat keduanya sudah berada di tengah-tengah danau.
"Ion, cerita kita biarlah tersimpan rapi di hati. Bukankah kita sepakat untuk bersahabat? Kita sama-sama sudah bertunangan dengan pilihan dari keluarga kita," ucap Devanya.
"Kamu benar, ayo kita pulang!"
Orion langsung memutar perahunya menuju ke tepian. Semakin lama dengan Devanya dalam suasana romantis, membuat dia tidak bisa mengendalikan perasaannya.
Sementara Devanya hanya mengikuti apa yang Orion katakan. Hatinya was-was kalau Keano tahu dia bersama dengan Orion seharian. Mungkin Keano tidak akan memarahinya tapi lelaki aku akan menatapnya dengan sorot mata penuh luka. Entah sejak kapan Devanya bisa memahami perasaan Keano hanya dari sorot matanya saja.
Orion melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia hanya melirik Devanya yang sedari tadi diam. Saat tiba di rumah Devanya, barulah dia berbicara.
"Vanya, sudah sampai." Orion mengguncang tubuh Devanya pelan untuk menyadarkan gadis itu yang sedang melamun.
"Sudah sampai ya? Aku turun ya Ion. Makasih untuk jalan-jalannya," ucap Devanya
"Sama-sama Kakak ipar," ucap Orion dengan tersenyum manis.
Pemuda tampan itu langsung melajukan mobilnya kembali. Dia tidak mampir karena hatinya masih tidak karuan. Sementara Devanya, masuk ke dalam rumah dengan berjalan lunglai.
Namun, saat sampai di ruang tamu, Devanya sangat terkejut saat melihat Opa Andrea dan Keluarga Keano yang lain berada di rumahnya. Karena dia terus berjalan menunduk, Devanya sampai tidak sadar kalau di halaman rumahnya banyak mobil mewah yang terparkir.
"Assalamu'alaikum," ucap Devanya kikuk
"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang yang ada di dalam.
"Deva dari mana? Ayo bersihkan badannya, nanti langsung saja ke meja makan," tanya Dave.
"Maaf, Pah. Tadi Deva main sama teman," ucap Devanya dengan tersenyum kikuk. "Maaf Opa, Oma, Om, Tante, Bang Ano, Deva ke kamar dulu."
"Tidak apa sayang, kami juga baru sampai," ucap Allana.
Devanya pun langsung menuju ke kamarnya. Jantungnya masih berdebar kencang saat melihat tatapan Keano padanya. Dia yakin kalau tunangannya itu pasti tahu dia pergi ke mana dan bersama dengan siapa.
Apa yang harus aku lakukan. Bang Ano pasti sedang kesal sama aku. Tapi, kenapa dia selalu tahu ke mana pun aku pergi. Apa selama ini dia menguntit aku? Kadang aku heran, di saat terjepit atau aku dapat masalah, dia tiba-tiba selalu datang tanpa aku beritahu. Mungkinkah dia seperti amoeba yang bisa membelah diri? Sehingga memiliki banyak tubuh yang siap mengawasi aku.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....