Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 37 Ngidam dadakan


Melihat Sevia yang keluar dari toilet, Dave pun segera beranjak ke tempat di mana istrinya yang nampak canggung. "Jangan malu, Harry bersama dengan Bu Guru kami. Mungkin mereka juga ingin mengikuti jejak kita, Via."


"Maksud kamu?" Sevia semakin bingung dengan keadaan.


"Udah, ayo kenalan dulu! Bu Nadine, ini Sevia istriku." Dave langsung memperkenalkan Sevia kepada guru matematika itu.


"Oh, hai Sevia! Aku Nadine," Nadine yang sudah menguasai keterkejutannya akhirnya mengulurkan tangan mengajak Sevia bersalaman.


"Aku Sevia, Mbak! Senang berkenalan dengan Mbak Nadine," ucap Sevia.


Setelah cukup basa-basi, akhirnya Nadine undur diri karena dia harus mengantar Nadine pulang. Tinggallah sepasang suami istri yang kini sedang menikmati makan siangnya yang terlambat.


"Dave, kapan kita jalan-jalan? Pasti sudah tertinggal oleh rombongan," keluh Sevia.


"Kamu mau bareng dengan mereka berarti gak bareng dengan aku, Via." Dave masih saja mengisi perutnya yang lapar.


"Aku 'kan mau jalan-jalan juga, Dave. Aku ingin melihat keindahan kota Jogja," ucap Sevia lirih.


"Selesai makan kita Borobudur, kamu ingin lihat gak senja di puncak Borobudur?" tanya Dave yang sukses mengembalikan wajah ceria istrinya.


"Mau, Dave! Katanya kalau kita masukin tangan ke dalam stupa dan bisa meraih isi di dalamnya, maka keinginan kita akan terwujud," ucap Sevia dengan mata yang berbinar.


"Itu mitos,Via. Yang jelas kita harus terus berusaha, ikhtiar dan jangan lupa berdo'a jika keinginanmu ingin terkabul." Dave yang sudah selesai makan langsung mengacak rambut Sevia pelan.


"Dave, aku bukan anak kecil loh, kalau kamu lupa!" tegur Sevia.


"Kamu memang bukan anak kecil tapi perempuan yang akan membuat anak kecil yang lucu-lucu," ucap Dave dengan senyum mengembang di bibirnya.


Astaga! Kenapa aku lupa, pil penunda kehamilan aku gak ke bawa. Coba aku cari dulu di tas kosmetik. Biasanya aku simpan di sana, batin Sevia.


Sevia segera menghentikan makannya dan bergegas mencari apa yang dibutuhkannya. Namun, setelah dia mengobrak-abrik barang bawaannya, tetap saja tidak menemukan apapun.


"Nyari apaan sih sampai berantakan begitu?" tanya Dave


"Anu Dave, aku ketinggalan anu." Sevia menepuk jidatnya sendiri. Dia bingung ingin menjelaskan bagaimana pada suaminya.


"Ya sudah lanjutkan saja! Paling juga gak jadi jalan-jalannya," ucap Dave seraya berlalu pergi.


"Jangan dong, Dave!" Sevia langsung mengejar suaminya dan melupakan apa yang sedang dicarinya. Saat dia sudah bisa menggapai tangan Dave, kakinya malah tersandung sehingga dia menubruk tubuh tegap brondong tampannya.


"Via, kamu menggodaku? Apa kamu ingin kita bermain lagi?" tanya Dave dengan senyum yang mengembang.


"Nggak, Dave! Aku mau jalan-jalan," ucap Sevia yang masih berada dalam pelukan Dave.


"Baiklah, tapi kamu harus membayarnya dulu karena kamu sudah berani menggoda pria tampan ini," Dave pun langsung membopong Sevia dan membawanya ke tempat tidur.


Kini keduanya sudah kembali rapi setelah tadi mengulang kembali mandi besar. Sevia terlihat cantik dengan rambutnya yang dia kepang acak. Dave seperti terhipnotis melihat istrinya yang tersenyum manis. Pria bermata biru itu hanya menatap lekat Sevia dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun, ada rasa bahagia di hatinya setiap kali melihat senyum dan keceriaan dari Sevia.


"Via, kita naik taksi saja. Mobilnya dibawa oleh Rama," ucap Dave saat keduanya sudah berada di lobby hotel.


"Iya, gak papa! Dave sepulang dari Borobudur kita langsung ke Malioboro ya!" rayu Sevia dengan merangkul tangan Dave.


Lagi-lagi Dave hanya tersenyum menanggapi apa yang Sevia katakan. Dia sangat senang tante mesumnya sudah bisa bersikap manja padanya. Sampai taksi yang mereka tumpangi sudah sampai tempat tujuan, barulah brondong tampan itu tersadar dari lamunannya. Saat sampai di depan pintu tiket ternyata petugas sudah menutup gerbangnya.


"Pak tunggu sebentar!" Teriaki Sevia," kenapa sudah ditutup? Masih siang Pak!" lanjutnya.


"Maaf, Mbak! Jam operasinya hanya sampai jam empat sore. Sekarang sudah lewat dari jam empat. Lebih baik, Mbak besok kembali lagi ke sini," ucap petugas itu.


"Bisa sebentar ikut foto-foto saja didepannya, Pak? Kita tidak akan naik ke atas," ucap Dave. "Istri saya sedang mengidam ingin ke borobudur."


Merasa iba melihat orang yang mengidam, akhirnya Sevia diberi waktu sepuluh menit hanya untuk berfoto di depannya saja. Setelah memenuhi acara ngidam dadakan, Dave dan Sevia langsung menuju ke Malioboro karena nanti malam akan ada acara bersama dengan semua karyawan AP Technology.


"Dave, kita beli kaos pasangan yuk! Kayaknya seru kalau samaan pakai kaosnya," ajak Sevia saat mereka sedang berjalan di jalan Malioboro.


"Via, kalau mau samaan, kita kan pakai seragam kerja yang sama warnanya. Hanya di warna kantongnya saja yang berbeda," ucap Dave dengan terus menggenggam tangan istrinya.


"Dave, ikh kamu gak romantis!" sungut Sevia.


"Via, kita kan bukan abege labil. Untuk apa kita memberitahu mereka kalau kita pasangan dengan memakai baju yang sama." Dave masih kekeh dengan pemikirannya. Dia tidak mengerti dengan keinginan istrinya.


"Udah deh, terserah kamu saja. Aku cape, kita duduk dulu yuk!" Sevia langsung menarik tangan Dave untuk mengikutinya agar duduk di sebah kursi yang ada di trotoar. Senja yang sudah terlihat memerah, kini mereka nikmati berdua di tengah hiruk pikuknya kota gudeg.


Berbeda dengan Harry yang sedang berada di rumah Nadine. Keringat dingin keluar membasahi jidatnya saat dia harus berhadapan dengan ayahnya Nadine yang memiliki kumis lebat dengan raut wajah yang terlihat sangar. Dia tidak pernah menyangka, gadis secantik Nadine akan memiliki seorang ayah yang begitu menakutkan.


"Jadi, Apa maksud kedatangan kamu kemari? Putriku seminggu lagi akan menikah. Aku minta kamu jangan mendekati putriku lagi," ucap Bisma, ayah kandung Nadine.


"Maaf, Om! Kedatangan aku kemari dengan niat baik. Apa Om sudah tahu pasti dengan calon menantu pilihan Om? Apa Om yakin, Nadine akan bahagia bersamanya? Sebelum Om menjawab semua pertanyaanku, sebaiknya Om melihat dulu apa yang ada di ponselku." Harry yang sudah bisa menguasai kegugupannya, akhirnya menyerahkan ponsel miliknya kepada Bisma. Agar orang tua itu bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan calon menantunya.


Meskipun tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh teman putrinya, tetapi Bisma tetap menerima ponsel yang diberikan oleh Harry. Dia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Giginya langsung gemelutuk dengan rahang yang mengeras. Sampai dia selesai menonton video yang tidak senonoh yang berdurasi kurang lebih tiga menit, tangannya langsung menggebrak meja.


"Kurang ajar!!! Aku tidak sudi memberikan putriku pada lelaki cap buaya buntung."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...