
Sepanjang perjalanan pulang, Dave terlihat senyam-senyum sendiri seraya melirik istrinya berkali-kali. Entahlah, dia bertingkah seperti anak baru gede yang sedang kasmaran. Sevia yang menyadari gelagat suaminya aneh, dia hanya mengerutkan keningnya heran.
Dave kenapa? Apa tadi saat renang dia bertemu dengan cewek cantik terus jatuh cinta pada pandangan pertama? Dia seperti orang yang sedang kasmaran saja. Ah tidak-tidak, aku tidak boleh membiarkannya. Bagaimanapun juga, sekarang aku istrinya. Aku tidak boleh membiarkan Dave jatuh cinta pada gadis lain. Tunggu Dave! Aku akan menggoda kamu nanti. Tidak peduli aku akan dikatakan tante mesuum, yang penting suamiku tidak boleh berpaling pada gadis lain.
Sevia terus bergelut dengan prasangka buruknya. Begitupun dengan Dave yang pikirannya sudah travelling membayangkan apa yang akan dia lakukan saat sudah sampai di rumah, agar tidak ada yang mengganggu saat berduaan dengan istrinya.
Untung saja tadi Sevia mau saat aku ajak langsung pulang. Aku tidak sabar ingin menikmati tubuhnya yang membuatku terus berkelana. Baru sekali perawatan saja, sudah terlihat perubahannya. Bagaimana kalau rutin? Pasti akan lebih wow lagi saat di tempat tidur. Sepertinya aku harus menjadwalkan Sevia agar rutin perawatan, batin Dave.
Tidak berapa lama kemudian, mobil yang ditumpangi oleh Dave dan Sevia sudah memasuki halaman rumahnya. Bu Lina segera turun dari mobil. Sedari tadi dia merasa tidak nyaman berada di antara dua anak muda yang sedang dimabuk cinta. Apalagi dia melihat Dave dan Sevia yang terus saling lirik seperti saling memberi kode.
"Bi, nanti kalau ada tamu jangan diterima ya. Aku mau istirahat!" ucap Dave saat dia bertemu dengan Bu Lina di ruang tengah.
"Baik, Den!" sahut Bi Lina.
"Satu lagi, tidak boleh ada yang mengganggu aku saat sedang di kamar." Tak tanggung-tanggung Dave langsung memberi peringatan pada pengasuhnya dulu.
"Iya, Den! Permisi bibi mau ke belakang dulu," pamit Bu Lina.
Dave langsung tersenyum senang, dengan setengah berlari dia pun menuju ke kamarnya. Karena tadi dia melihat Sevia sudah lebih dulu naik ke atas. Pria bermata bule itu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Saat melihat istrinya akan berganti baju, dia langsung menyerangnya.
Dave benar-benar sudah kehilangan kendali. Dia terus meraup candunya dengan tangan yang membuka satu persatu kancing baju tunik istrinya. Merasa puas bertukar saliva dan bergelut lidah. Dave langsung menyusuri leher jenjang Sevia dan memberi beberapa tanda cinta di sana. Tidak merasa cukup hanya sampai di sana, dia pun menyusuri tiap inci badan wanita yang sudah membuatnya mabuk kepayang. Namun, saat dia sudah benar-benar menegang, ada hal yang membuatnya seperti jatuh dari ketinggian.
"Via, kenapa pakai Pampers?" tanya Dave dengan napas yang memburu, saat dia membuka segitiga pengaman istrinya.
"Sayang, aku-aku sedang datang bulan," lirih Sevia.
Gubrak!
Seketika tongkat yang tadinya tegak menantang berubah menjadi terong ungu yang terkulai lemas. Dave langsung merengut, hilang sudah semangat yang tadi begitu membara. Ekspektasinya tidak sesuai kenyataan. Melihat Dave yang sepertinya sangat kecewa, Sevia pun langsung memeluk suaminya dari belakang.
"Dave, aku bisa membantumu dengan cara lain. Apa kamu mau?" tanya Sevia dengan mengelus dada brondongnya.
"Jangan menggodaku, Via. Aku akan sangat tersiksa karena tidak bisa memasuki kamu," lirih Dave.
"Tidurlah, aku akan membantumu!" suruh Sevia dengan menarik Dave agar berbaring.
Biarlah aku seperti wanita murahan di depan suamiku. Bukankah seorang istri harus ke arab-araban saat bertemu dengan orang lain terutama lelaki lain dan harus berpenampilan kebarat-baratan jika bersama dengan suami? batin Sevia.
Tante mesumku pintar sekali membahagiakan suami. Entah dia belajar dari mana selalu bisa memuaskan hatiku. Ah ... Semakin hari, aku semakin mencintainya.
...***...
Perayaan pesta hari jadi perusahaan JS Internasional begitu meriah. Karpet merah sudah digelar dari depan lobby sebuah hotel bintang lima milik JS Internasional. Banyak orang-orang penting dari berbagai negara yang menyempatkan datang untuk menghadiri pesta. Semuanya nampak elegan dan glamor.
Andrea dan keluarganya menyambut kedatangan Keluarga Putra dengan suka cita. Meskipun sekarang mereka sudah tidak menjadi besan lagi, tetapi hubungan baik antara keduanya tetap terjaga. Melihat Dave yang akan beranjak pergi mengikuti keluarganya, Andrea segera menahan tangan orang kepercayaannya itu.
"Dave, jangan jauh-jauh! Om ingin memperkenalkan kamu pada rekan bisnis Om. Kamu harus dikenal oleh mereka semua, agar tiap kerjasama yang akan kamu tawarkan berjalan dengan baik," ucap Andrea.
"Baik, Om. Aku akan ke sana dulu, istriku tadi bersama dengan Tante Icha. Aku takut dia merasa kehilangan," ucap Dave.
"Pergilah! Nanti kembali lagi ke sini," suruh Andrea.
Dave pun segera menyusul Sevia dan yang lainnya. Dia segera menghampiri Sevia yang sudah duduk satu meja bersama dengan tantenya. Sedangkan Harry hanya mengikutinya.
"Via, aku harus menemani Om Andrea. Kamu di sini saja bersama dengan Om dan Tante ya!" saran Dave.
"Iya, Dave gak apa-apa! Apa Harry juga akan ikut dengan kamu?" tanya Sevia.
"Tentu saja, dia harus berada di samping aku. Kalian baik-baik sama tante ya!" pesan Dave sebelum dia berlalu pergi.
"Tante, titip istri aku ya!" ucap Harry.
"Istri? Memang istri kamu yang mana Harry? Kenapa Tante tidak kalau kamu sudah menikah?" tanya Icha heran.
"Dia udah menikah dua kali Tante, anak pun sudah punya dua," terang Dave.
"Masa Dave? Kenapa Tante tidak tahu? Tapi sudahlah. Apa Rani menikah dengan Harry?" tanya Icha lagi yang masih penasaran.
"Iya, Tan!" Rani menjawab dengan menundukkan wajahnya.
"Tidak apa Rani, kalau kalian memang berjodoh. Tante ikut senang mendengarnya," ucap Icha dengan tersenyum manis pada Rani.
"Kalau begitu, aku dan Harry menemui Om Andrea lagi, Tan." Dave dan Harry langsung pergi setelah berpamitan.
Mereka langsung menghampiri Andrea yang sedang berbincang dengan seorang bule paruh baya yang memiliki raut wajah mirip dengan Dave. Ditemani oleh seorang wanita cantik yang memiliki usia yang tidak jauh beda dari pria itu. Namun, ada satu hal yang membuat Dave dan bule itu tertegun. Mereka sama-sama serasa melihat seseorang yang mereka cintai.
"Dave, putraku. Kamu masih hidup, Nak?"
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...