
Mendengar putra angkatnya sudah siuman, Icha setengah berlari menuju lift yang akan membawa dia ke lantai khusus tempat perawatan pemilik rumah sakit. Andrea memang sengaja menempatkan anak buah kesayangannya sekaligus putra angkat besannya itu di ruang perawatan khusus keluarga besar Mahardika sebagai pemilik rumah sakit.
Wanita yang beberapa tahun lagi akan memasuki usia 50 tahun tetapi terlihat awet muda itu sangat tidak sabar ingin cepat-cepat sampai ke ruangan Dave. Jari tangannya terus bertautan selama dia berada di dalam lift. Saat sampai di ruangan perawatan Dave, nampak Harry, Al dan putranya sedang berdiri di samping tempat tidur Dave.
"Dave bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Icha langsung menghambur memeluk Dave.
"Aku baik, Tan!" jawab Dave.
"Syukurlah! Tante senang kamu sudah kembali bersama kita lagi. Maaf kalau Tante telat datang ke mari! Tadi Tante menemani seorang gadis yang akan melahirkan. Kasian dia sendiri, tidak ditemani suami dan keluarganya. Tapi putrinya cantik sekali, rasanya dulu pernah menggendong bayi yang mirip seperti itu tapi lupa siapa," cerocos Icha.
"Sayang, Dave baru sadar! Dia butuh istirahat." Al langsung memegang pundak istrinya untuk mengingatkan.
"Iya maaf, Dave! Tante tadi tegang sekali waktu menemani gadis itu melahirkan ditambah mendengar kabar bahagia darimu. Tante semakin i tidak bisa mengontrol diri," ucap Icha.
"Tidak apa, Tan! Aku senang melihat Tante dan yang lainnya sehat semua," sahut Dave.
"Pah, apa sudah diperiksa dokter? Kondisi Dave baik-baik saja kan?" tanya Icha lagi.
"Alhamdulillah baik, Mah! Hanya saja, Dave perlu terapi untuk melatih syaraf kakinya yang saat ini tdak bisa digerakkan," lirih Al.
"Tidak apa, yang penting Dave sudah sadar. Nanti kita cari dokter terbaik untuk membantu mempercepat kesembuhanmu," ucap Icha yang berusaha menguatkan hatinya dan juga menguatkan hati putra angkatnya.
Meskipun sebenarnya dia merasa kaget dengan apa yang dikatakan suaminya, sebisa mungkin Icha menutupinya. Itulah seorang ibu yang selalu berusaha terlihat tegar walau hatinya hancur berkeping-keping. Memang benar Dave bukan putranya tetapi dia yang ikut merawat dia sedari masih bayi saat pertama kali dibawa ke tanah air oleh Kakek buyutnya Dave.
"Mah, ini KTP gadis itu dan kartu sakti Mama." Elzio mengurai ketegangan dengan memberikan KTP Sevia yang tadi dipakai untuk mengurus administrasi.
"Owh, iya sini!" Icha langsung mengambil KTP dan kartu sakti yang diberikan putranya.
"Namanya lucu tahu, Bang! Masa Sevia, udah kayak kekasih gelap saja. Udah gitu dia ceroboh sekali, aku ditabrak saat menunggu Mama di toilet" Elzio terkekeh mengingat pertemuan pertama dengan Sevia.
Degh!
Dave langsung teringat dengan seseorang yang ingin dia temui sebelum kecelakaan itu terjadi. Hatinya menangis karena telah membiarkan seorang gadis menunggunya dan mengira kalau dia telah mengingkari janjinya. Ingin rasanya dia berlari untuk melihat seseorang yang diceritakan tantenya dan Zio. Namun, keadaan yang tidak memungkinkan membuatnya hanya diam dalam kesedihan.
Via, apakah itu kamu yang diceritakan oleh tante dan Zio? Tapi anak siapa yang kamu lahirkan? Apa kamu menganggap pernikahan kita telah berakhir karena aku tidak datang? Via, maafkan aku!
...***...
Sementara di ruangan yang berbeda, nampak Rani dan Diwan yang datang tergesa-gesa setelah tadi dia mendapat kabar kalau sahabatnya sudah melahirkan. Rani terus menghubungi Sevia saat tiga puluh menit sahabatnya tidak datang juga. Namun, panggilan teleponnya sedikit pun tidak diangkat oleh Sevia. Sampai setelah satu jam dia panik karena Sevia tidak mengangkat teleponnya dan mencari ke toilet lobby pun tidak ketemu, barulah ada panggilan masuk yang mengabarkan Sevia sudah melahirkan.
"Via, bagaimana keadaan kamu?" tanya Rani saat sudah bertemu dengan Sevia.
"Aku baik, Ran! Aku sangat lelah, boleh aku istirahat dulu?" Sevia hendak menutup matanya saat perawat membawa putrinya setelah dibersihkan.
"Silakan, Tuan! Diadzani dulu putrinya." perawat itu memberikan putri kecil Sevia pada Diwan yang berdiri di samping Rani.
"Nona, silakan untuk memberikan IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Setelah itu tolong dipersiapkan untuk pindah ke ruang perawatan," ucap perawat sebelum di pergi.
"Ran, Mas di luar dulu ya!" Tanpa disuruh, Dian pun berpamitan untuk keluar ruangan dan memberikan ruang untuk Sevia menyusui anaknya.
"Iya, Mas! Sekalian bawa tas besar Via yang ada di mobil," suruh Rani.
"Iya, sekalian Mas beli makan untuk kita dulu." Diwan langsung berlalu pergi meninggalkan dua sahabat itu.
Setelah kepergian Diwan, Sevia langsung mencoba untuk menyusui putrinya. Meskipun awalnya bayi kecil itu kesusahan mencari sumber kehidupanya. Namun, akhirnya dia bisa mendapatkannya.
"Via, udah keluar ASI-nya?" tanya Rani sedari terus melongo.
"Sepertinya begitu, tapi masih sedikit," jawab Sevia.
"Via, putrimu cantik sekali! Boleh gak kalau dia jadi anak angkatku? Hitung-hitung buat pemancing, Mas Diwan juga pasti senang kalau dipanggil ayah. Nanti panggil aku Ibu ya bayi cantik." Rani menoel pipi chubby bayi Sevia.
"Iya, Ibu Rani!" Sevia menirukan seperti suara anak kecil.
Tak berapa lama kemudian, Sevia sudah dipindah ke ruang perawatan. Sebuah ruang dengan kelas VIP, membuat Sevia dan Rani dibuat melongo. Sebelum perawat yang membantu Sevia pindah ke ruang perawatan itu pergi, Rani akhirnya angkat suara.
"Mas, memang tidak salah dipindah ke sini? Biaya semalamnya saja pasti mahal banget," tanya Rani.
"Saya hanya mengikuti perintah. Untuk biaya melahirkan dan perawatan Nona Sevia sudah di deposit, jadi Anda tidak perlu khawatir, permisi!" perawat itu langsung pergi untuk melakukan pekerjaan yang lainnya.
"Wah, Via! Sepertinya kamu sudah bertemu dengan malaikat tak bersayap. Lihat, bayimu membawa keberuntungan! Baru lahir saja, dia sudah mendapatkan fasilitas mewah secara gratis." Rani terus berdecak kagum dengan ruang perawatan yang ditempati Sevia. Ruangan ini bahkan lebih bagus dari yang ditempati oleh istri manager suaminya.
Mungkin ini pembawaan dari papanya yang memang bukan orang biasa sepertiku. Dave, kamu di mana? Putri kita sudah lahir dengan selamat. Bukankah kamu memintaku untuk menjaga bayi yang ada dalam kandnganku jika sudah tumbuh? Sekarang bayi itu sudah lahir dengan selamat. Lihat Dave, dia mirip sekali denganmu!
"Via, habis melahirkan jangan melamun! Kamu teringat dengan suamimu? Ayo kita cari bersama-sama! Dia harus tahu, kalau sudah punya anak bersamamu. Meskipun memang dia menikah lagi dengan gadis lain, seenggaknya dia harus mengakui putrinya sendiri. Apalagi, saat besar nanti putrimu pasti membutuhkan dia untuk menjadi wali nikah." Rani mengelus punggung sahabatnya yang terlihat sedang termenung.
"Aku harus mencari ke mana? Sahabatnya hanya bilang kalau Dave sedang sibuk dan tidak bisa pulang," lirih Sevia.
"Nanti aku pikirkan bagaimana caranya, sekarang kamu fokus dulu pada kesehatan kamu dan bayi cantik ini. Aku ingin cepat-cepat menggendongnya," ucap Rani dengan mata berbinar seraya melihat bayi cantik yang sedang tertidur di box bayi.
"Makasih, Ran! Aku akan mengikuti saranmu untuk mencari Dave."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...