Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 20 Rani sakit


Lain Keano lain pula Orion. Dua pemuda tampan yang sama-sama memiliki darah Keluarga Putra itu, memang memiliki perangai yang bertolak belakang. Jika Keano diam, maka Orion berisik. Jika Keano terlihat dewasa, maka Orion seorang anak manja. Hanya satu yang membuat mereka terlihat sama, kedua pemuda tampan itu sama-sama sangat mencintai keluarganya.


Setelah tadi Orion makan siang bersama dengan Devanya, maka sudah menjadi kewajiban bagi Orion untuk mengantar gadis cantik itu ke tempat kerjanya. Barulah dia kembali ke ruangannya. Orion nampak bersiul senang saat dia masuk ke dalam ruangan Keano. Dia berencana untuk mengajak Devanya jalan sepulang kerja magang.


"Ion, kerja yang serius," tegur Keano saat Orion sudah duduk di kursinya.


"Iya, Bang!" sahut Orion. "Bang tahu tidak, ternyata jatuh cinta itu rasanya ... Aku tidak bisa mengatakannya. Pokoknya terasa luar biasa. Abang tahu, sekarang aku sudah punya pacar." Orion terus saja bicara. Dia ingin orang-orang tahu kalau dia sedang bahagia


"Orion, kerja yang serius!" suruh Keano lagi.


Dasar ki jomblo, selalu saja nyuruh serius. Bodoh amat lah, aku lagi bahagia bisa dekat-dekat terus dengan Vanya, batin Orion.


Orion pun akhirnya mengikuti apa yang Keano katakan. Dia pun mulai fokus dengan pekerjaannya. Sampai tak terasa bel pulang pun sudah berbunyi. Orion yang masih nanggung dengan pekerjaannya, akhirnya memilih untuk menyelesaikannya dulu.


Sementara Devanya dan Diandra sudah menunggu di lobi karena memang semenjak magang, Orionlah yang menjadi supir dadakan untuk kedua gadis cantik itu. Saat keduanya sedang asyik memainkan ponsel seraya menunggu Orion, tiba-tiba ada panggilan masuk ke ponsel Diandra. Secepatnya dia mengangkat telepon karena ternyata Ayah sambungnya yang menghubungi dia.


"Hallo, Daddy! Ada apa?" tanya Diandra.


"Dian, segera ke rumah sakit! Mama jatuh dari kamar mandi," suruh Harry terdengar panik di seberang sana.


"Apa??? Mama jatuh???" tanya Diandra. Tanpa terasa air matanya jatuh ke pipi.


Melihat Diandra yang menangis, Devanya pun langsung mengambil ponsel sahabatnya. Dia pun langsung berbicara dengan Harry.


"Hallo, Om! Ini Deva, share located Om, Deva dan Dian secepatnya ke sana," ucap Devanya.


"Di rumah sakit Mahardika. Tolong jaga Dian," ucap Harry.


Klik


Harry langsung menutup panggilan teleponnya tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Sementara Devanya hanya menghela napas kasar. Dia pun langsung memeluk Diandra yang sedang menangis.


"Sabar, Dian! Ayo kita naik taksi saja!" ajak Devanya.


Namun. di saat kedua gadis itu batu saja melangkahkan kakinya, Orion, Hayden dan Keano baru saja keluar dari lift. Membuat Orion segera berlari kecil menghampiri kedua gadis itu.


" Kalian mau ke mana? Kenapa tidak menunggu aku?" tanya Orion.


"Kita mau ke rumah sakit. Ion, cepat ambil mobl kamu!" suruh Devanya.


Jarak yang tidak begitu jauh dari perusahaan, membuat mereka tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sakit. Nampak di sana Harry, Dave dan Sevia sedang menunggu di depan ruang IGD. Terlihat jelas kesedihan dari mata mereka.


"Tante, bagaimana keadaan Mama?" tanya Diandra.


Sevia langsung memeluk Diandra untuk memberikan kekuatan pada gadis itu. Dia sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa sahabatnya. Entah kenapa kemalangan itu harus terus menerus menimpa Rani.


Setelah dua tahun lalu, Rani mengalami kecelakaan saat dia pulang ke Cikarang sehingga mengakibatkan dia menjadi lumpuh. Sekarang malah terjatuh dari kamar mandi. Harry sudah berusaha memberikan pengobatan yang terbaik untuk Rani. Namun, usahanya itu tidak membuahkan hasil yang maksimal.


"Sabar, sayang! Tante yakin, Mama kamu pasti baik-baik saja. Kita berdo'a saja pada Tuhan untuk kesembuhan mama kamu," ucap Sevia dengan mengelus lembut rambut Diandra.


"Tante, tolong cari dokter yang terbaik untuk mama. Dian mau melakukan apa saja demi kesembuhan mama," ucap Diandra di sela isak tangisnya.


"Iya, sayang."


Aku heran, padahal Harry sampai berobat keluar negeri untuk menyembuhkan Rani. Tapi kenapa Rani tidak ada kemajuan. Apa ada yang salah dengan obat yang diberikan oleh dokter? batin Dave.


"Harry, ayo kita bicara di sana!" ajak Dave pada Harry yang sedang menundukkan kepalanya.


Tanpa ada bantahan, Harry pun mengikuti ke mana sahabatnya itu pergi. Kini kedua pria dewasa itu berdiri berhadap-hadapan sedikit menjauh dari ruang tunggu IGD.


"Harry, apa kamu tidak curiga dengan perawat yang kamu pekerjakan?" tanya Dave.


"Memangnya kenapa? Dia bekerja dengan baik dan telaten merawat Rani," tanya Harry heran.


"Aku merasa ada yang tidak beres. Kenapa Rani tidak ada perubahan padahal kamu sudah membawanya berobat jauh. Orang lain yang berobat ke sana sekarang sudah bisa berjalan kembali."


"Aku tidak tahu. Kamu tahu sendiri, aku bolak-balik Cikarang-Jakarta setiap hari. Sampai rumah hari sudah gelap. Tapi Rani tidak pernah mengeluh apapun padaku," jelas Harry.


"Sebaiknya, kamu selidiki perawat yang kamu pekerjakan itu. Coba kamu cek di laboratorium, obat yang biasa Rani konsumsi."


...~Bersambung~...


...Jangan kendor dukungannya ya kakak! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...