Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 77 Menenangkan Pikiran


Malam ini, langit terlihat murung. Tidak ada gemerlap bintang dan rembulan yang bersinar terang menghiasi angkasa. Hanya hujan rintik-rintik dan hembusan angin yang kencang seolah ingin menerbangkan kegelisahan anak cucu Adam yang sedang dilanda kebimbangan.


Dave tidak bisa memejamkan matanya meski jam di dinding sudah menunjukkan angka dua belas. Dia masih terbayang pertemuannya dengan sang nenek. Ditambah lagi ucapan Al tadi selepas mereka makan malam bersama.


Flashback on


Setelah makan malam bersama, Al meminta Dave untuk menemuinya di ruang kerja. Dave pun hanya mengikuti apa yang omnya itu katakan. Dia tidak bertanya apapun sampai akhirnya Al sendiri yang mengatakan maksud dan tujuannya memanggil ke ruang kerja.


"Dave, ada hal yang ingin Om katakan padamu. Ini soal tuduhan nenek kamu pada Om," ucap Al membuka percakapan.


"Tuduhan apa, Om?" tanya Dave bingung.


"Soal uang yang Kakek Satya titipkan pada Om untukmu." Al menghela napas dalam sebelum dia melanjutkan ucapannya. "Dulu sebelum Kakek meninggal, dia menitipkan sejumlah uang dan surat-surat berharga miliknya pada Om. Dia menyuruh Om, untuk memberikannya padamu saat kamu sudah menikah. Mungkin ini sudah saatnya, Om memberikannya padamu karena sekarang kamu sudah menikah meski belum sah di mata hukum."


"Om, maafkan aku! Tadi aku tidak bermaksud menyinggung Om. Aku hanya tidak mau nenek ...."


"Om Mengerti! Tadinya Om mau memberikannya setelah pernikahanmu terdaftar, tapi tidak ada salahnya jika sekarang Om memberikan apa yang menjadi milikmu. Untuk uang yang Kakek titipkan, Om investasikan pada perusahan rekan kerja Om, termasuk AP Technology tempatmu bekerja. Di sana ada saham kamu sepuluh persen. Untuk yang lainnya, sudah Om gabungkan di sini." Al memberikan satu bag file yang berisi surat-surat berharga pada Dave.


"Om, ini aku ...." Lagi-lagi Dave tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Rasanya tiap kata yang ingin dia ucapkan tercekat di tenggorokan.


"Di situ juga ada surat-surat perkebunan teh milik Kakek yang ada di daerah Lembang. Ditambah sebuah villa. Sedangkan rumah Keluarga Pradipta, Kakek mewakafkan. Kamu pernah pergi ke perpustakaan kota yang ada cafe di dalamnya? Itu rumah yang Kakek Satya bangun bersamaan dengan rumah ini yang dibangun oleh Kakek Ardi."


"Mungkin, kamu juga masih ingat seberapa dekat Eyang kamu dan Kakeknya Om. Sedekat itu pula Ayah Om dan kakek kamu Raka tapi semua itu mulai retak saat Elisa nenekmu mulai hadir dalam kehidupan mereka. Om harap, apapun yang nenekmu katakan, kamu jangan mudah percaya. Tujuannya mendekati kamu karena dia menginginkan uang yang Kakek Satya tinggalkan untukmu," Al bicara panjang kali lebar sedangkan Dave hanya mendengarkan dengan seksama.


Dave sudah tahu tentang siapa saja yang harus dia hindari termasuk neneknya karena eyangnya Tuan Satya menuliskan surat padanya yang diberikan oleh Al saat dia ulang tahun yang ke tujuh belas. Hanya saja di dalam suratnya, Tuan Satya tidak membahas sedikit pun tentang uang yang dia tinggalkan untuk Dave.


"Om, aku masih bingung dengan semua ini." Dave menundukkan kepalanya.


"Dave, gunakan uang kamu miliki untuk membahagiakan anak dan istrimu karena saat istrimu bahagia, Tuhan akan menambah rejeki kamu." pesan Al.


"Om, aku ingin mengganti kepemilikan saham atas nama putriku," ucap Dave.


"Bisa Dave tapi untuk sekarang, lebih baik kamu fokuskan dulu pikirannya dengan pernikahan kamu. Agar status putrimu kuat di mata hukum," saran Al.


Flashback off


Sevia yg merasa terganggu karena suaminya sedari tadi bergerak tidak menentu, akhirnya dia terbangun. Ibu muda itu membalikkan badannya melihat ke arah Dave.


"Kenapa belum tidur," tanya Sevia dengan suara serak.


"Aku gak bisa tidur, Via." jawab Dave.


"Kenapa, apa masih memikirkan tentang nenek kamu?" tanya Sevia.


"Iya, salah satunya itu."


"Sini lihat aku! Apa kamu ingin bisa tidur pulas?" tanya Sevia.


"Tentu saja, ayo kita bermain! Fokuskan pikiranmu hanya padaku," Sevia pun langsung memulai permainan malam mereka.


Dia tidak tidak peduli akan dibilang nakal atau mesuum oleh suaminya nanti. Yang ada dipikirannya sekarang, bagaimana caranya agar bisa menenangkan pikiran Dave yang sedang kacau.


"Ah, Via kamu benar-benar membuat aku, ah ...." Dave terus melenguh kenikmatan dengan permainan istrinya.


Dia tidak menyangka Sevia yang biasanya pasrah dalam kendalinya, kini mampu mengendalikan permainan malam mereka. Sampai akhirnya Dave dan Sevia mendapatkan pelepasan bersama-sama.


"Via, kamu luar biasa!" Dave mencium kening Sevia lama setelah mereka menyelesaikan ronde pertamanya. "Sekarang giliran aku yang memimpin."


Dave pun langsung mengungkung istrinya dan mengendalikan permainan malam mereka untuk babak yang kedua. Kini giliran Sevia yang terus meracau kenikmatan dengan apa yang suaminya lakukan. Sampai wanita muda itu pipis enak berkali-kali.


"Dave, ah kamu membuatku ...."


Dave langsung membungkam Sevia dengan bibirnya lalu berkata, "Ayo kita keluarkan bersama-sama."


...***...


Keesokan harinya, pagi nampak cerah dengan harapan baru dan sebuah keyakinan semuanya akan baik-baik saja. Hari ini, rencananya Dave akan membawa Sevia dan putrinya untuk melihat rumah baru mereka yang kemungkinan pengerjaan interiornya sudah mencapai sembilan puluh persen.


Setelah semalam kedua insan itu saling berbagi peluh dan saliva, kini keduanya sudah nampak segar dengan baju santainya. Dave yang hanya memakai celana cargo pendek berwarna coklat muda dengan kaos oblong berwarna putih yang mencetak jelas otot-otot tubuhnya, sedangkan Sevia memakai celana jeans dan tunik putih yang tangannya dia gulung sedikit.


Meskipun usia Sevia empat tahun lebih tua dari Dave, tetapi tidak terlihat di wajah Sevia kalau dia lebih tua dari suaminya. Apalagi wajahnya yang memang babyface didukung dengan tubuhnya yang tidak boros membuat dia terlihat lebih muda dari usianya.


"Udah rapi begini, cucu Enin mau pergi ke mana?" tanya Icha saat berpapasan di ruang keluarga.


"Tante, tadi Dave mengajak untuk melihat rumah. Mumpung libur katanya," jawab Sevia.


"Tadinya Tante mau mengajak Devanya ikut arisan sama ibu-ibu komplek. Pasti mereka iri melihat Tante sudah punya cucu yang cantik." Icha tersenyum senang membayangkan wajah kekaguman dari teman-teman arisannya.


"Mungkin lain kali aja, Tan." Sevia memberikan Devanya saat Icha akan mengambil dari gendongannya.


"Tante pasti kangen kalau kalian sudah pindah. Padahal tinggal di sini saja sama Tante," keluh Icha.


Sevia hanya tersenyum menanggapi ucapan Icha lalu berkata, "Nanti Via sering main ke sini, asal Tante jangan bosan saja."


"Mana mungkin Tante bosan, justru Tante senang kalau kamu tinggal di sini. Tapi ya sudahlah, biar kalian juga bisa belajar mandiri mengurus keluarga sendiri," Icha terus saja menciumi Devanya sampai akhirnya Dave datang setelah tadi dia menemui Al terlebih dahulu.


"Ayo, sudah siap Sayang! Tante kita pergi dulu ya."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Langsung klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih 🙏🏻...