
Diandra begitu penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Devanya saat di meja makan, sehingga dia pun terus memikirkannya sampai tiba di kantor. Sampai akhirnya, Diandra bertanya pada Devanya saat mereka sedang menunggu lift.
"Deva, maksud kamu daddy dapat jatah itu apaan?" bisik Diandra.
"Ya ampun, Dian! Masih saja dibahas. Aku pikir kamu sudah ngerti," seru Devanya.
"Jangan ngomong kenceng-kenceng! Cepat katakan jatah apa!" suruh Diandra yang merasa gemas karena merasa ditarik ulur oleh Devanya.
"Jatah suami dari istrinya. Kamu tahu kan kalau suami istri itu pasti ngapain aja?" bisik Devanya.
"Maksud kamu, daddy dan mama itu habis ...."
Ehm ... Ehm ... Ehm ...
Belum sempat Diandra melanjutkan ucapannya, terdengar suara orang berdehem di belakang mereka. Devanya dan Diandra pun spontan melihat ke arah belakang. Nampak di sana Keano dan Hayden sudah berdiri di belakang dua gadis cantik itu.
"Hai Dian! Selamat pagi," sapa Hayden.
"Pagi, Bang!" sahut Diandra cengengesan.
"Mau ikut dengan lift Abang?" tanya Keano dengan menatap Devanya.
"Hehehe ... Enggak Bang! Nanti karyawan di sini pada bergosip lagi. Aku nunggu lift yang ini saja," tolak Devanya.
"Oke! Nanti makan siang bareng Abang saja," ucap Keano.
"Iya, Bang!" sahut Devanya.
"Abang duluan!" pamit Keano kemudian berlalu pergi.
"Dian juga ikut ya!" timpal Hayden.
"Iya, Bang. Tenang saja!" serobot Devanya.
"Janji, ya! Abang tunggu loh," ujar Hayden dengan menunjuk pada Diandra. Kemudian dia segera mengejar Keano yang sudah pergi lebih dulu.
Devanya hanya menarik napas panjang melihat kepergian Keano. Dia semakin bingung dengan perasaannya. Antara harus memperjuangkan Orion atau menerima dengan ikhlas perjodohannya dengan Keano.
"Sudah pergi, masih saja dilihatin. Tuh liftnya udah sampai!" tunjuk Diandra yang mengagetkan Devanya.
"Ayo masuk!" Devanya langsung menarik Diandra.
"Aku yang kasih tahu, aku yang ditarik," gerutu Diandra.
"Biar gak keburu penuh. Mumpung karyawan lain belum pada datang," kilah Devanya.
"Ngeles aja kaya bajaj," cibir Diandra dengan memajukan bibir bawahnya.
Ting
Tak berapa lama kemudian, lift yang mereka tumpangi sudah sampai di lantai tempat mereka bekerja. Devanya dan Diandra pun segera menuju ke kubik-nya dan mempersiapkan segala sesuatunya. Sampai jam kerja dimulai, keduanya fokus dengan pekerjaannya masing-masing.
...***...
Jam makan siang pun telah tiba. Seperti yang sudah dijanjikan tadi pagi, kini Devanya dan Diandra sedang berada di penthouse milik JS Group yang ada di atas gedung itu. Diandra yang pandai memasak. Kini sedang bergelut dengan wajan dan spatula. Sementara Devanya hanya bantu-bantu karena dia tidak sepintar Diandra dam hal masak memasak.
Kedua gadis itu sengaja dibawa oleh Hayden satu jam sebelum jam makan siang ke penthouse. Sementara dia kembali menemani Keano menyambut kedatangan tamu dari luar negeri. Setelah semua urusan dengan tamunya selesai, barulah mereka kembali ke penthouse untuk makan siang bersama gadis yang mereka sukai.
Saat kedua pemuda tampan itu masuk ke dalam penthouse, tercium wangi yang menggugah selera. Mereka pun langsung menuju ke dapur, karena yakin kedua gadis itu pasti sedang memasak. Benar saja, apa yang mereka pikirkan. Terlihat Diandra yang sedang menyimpan masakannya ke dalam piring oval, sedangkan Devanya sedang mengupas buah mangga.
"Sudah selesai masaknya?" tanya Keano yang sukses mengagetkan kedua gadis itu karena sedang fokus dengan apa yang mereka kerjakan.
"Aw ...," pekik Devanya saat tangannya tidak sengaja terkena pissau sehingga darah segar mengalir dari telunjuknya.
"Tunggu sebentar! Abang ambil obat dulu," panik Keano.
"Bang hanya luka kecil," ucap Devanya seraya meringis menahan perih.
Ingin rasanya Hayden tertawa melihat kepanikan sahabatnya. Namun, dia menahannya karena tidak ingin membuat sahabatnya itu merasa malu. Hayden pun memilih melanjutkan mengupas yang tadi Devanya kerjakan.
Keano yang sudah mendapatkan obat luka luar, dia pun segera meneteskannya pada luka Devanya. Gadis itu meringis menahan perih saat Betadine yang berasal dari negeri bambu itu menyentuh lukanya. Keano pun langsung meniupnya sebelum dia membalut dengan plester.
"Maaf Abang mengagetkan kamu," ucap Keano disela-sela dia meniup luka Devanya.
"Gak apa, Bang! Akunya aja yang gak konsen, jadinya nyasar malah ngupas tangan sendiri." sanggah Devanya.
"Masih perih?" tanya Keano.
"Udah enggak, dibungkus plester aja, Bang!" pinta Devanya.
Keano hanya menurut apa yang Devanya katakan. Dia pun langsung membalut luka Devanya dengan plester yang sudah dia siapkan sebelumnya. Setelah beres, barulah dia bersuara.
"Kamu duduk di sini saja, biar Abang yang bantu mereka untuk menyiapkan makan siang kita," suruh Keano.
"Tapi Bang, aku gak apa-apa. Hanya luka gores saja," sanggah Devanya.
"Udah duduk saja, masaknya udah kelar kho. Kupas buah juga udah dilanjutkan sama Bang Hayden," ucap Diandra yang baru datang dengan membawa piring di tangannya.
"Tunggu di sini saja. Abang bantu mereka dulu,," pamit Keano.
Keano pun langsung berlalu pergi menuju ke dapur. Dia membawa makanan yang akan disajikan di meja makan. Setelah semuanya dihidangkan, kini mereka duduk berhadap-hadapan.
"Makan yang banyak, biar cepat besar," ucap Hayden sebelum mereka menyantap makanan.
"Apaan yang besar, Bang? Kita kan udah besar," seloroh Devanya.
"Ayo makan! Jangan bercanda saat makan," tegur Keano.
"Iya, Bang!" sahut Devanya.
Dia langsung memakan makanan yang ada di piringnya. Mereka pun makan dalam diam. Saat semuanya sudah selesai makan, barulah Keano berbicara.
"Deva, kalau jarinya masih sakit, istirahat saja. Biar nanti Hayden yang minta ijin ke manajer kamu," ucap Keano.
"Cuma luka kecil, Bang. Aku gak apa-apa. Aku mau kerja saja, gak mau dia sini sendiri. Takut," kilah Devanya.
"Abang temani," ucap Keano.
Ehm ....
"Istirahat saja Deva, nanti Abang yang minta ijin ke manager kamu," timpal Hayden.
Ya ampun Bang Ano! Cuma kena gores saja disuruh istirahat. Mana di atas gedung begini. Aku jadi inget sama Ion, terakhir kali ketemu setelah dari penthouse milik keluarganya, batin Devanya.
"Bang, memang gak ada yang marah kalau aku istirahat di sini? Penthouse ini kan ...."
"Siapa yang akan marah? JS Group kan milik Ano," potong Hayden. "Sudah di sini saja dulu, nanti pas jam pulang baru turun," lanjutnya.
Bang Hayden sama Bang Ano sama aja. Dahlah nurut aja. Aku mau tidur saja, enak kali ya tidur di atas ketinggian seperti dia sini, batin Devanya.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih....