Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 93 Kehamilan Simpatik


Setibanya di rumah Diandra, nampak mamanya juga ada di sana dengan keripik aneka buah di tangannya. Sepertinya, selain meminta Devanya membawa rujak, Rani juga meminta Sevia membawa keripik.


Kini mereka duduk melingkar di teras belakang rumah Diandra yang lumayan luas. Rupanya ibu hamil itu ingin makan lesehan di atas karpet. Semua orang hanya menuruti apa yang diinginkan oleh Rani.


"Rani, kenapa jadi manja gini? Aku merasa seperti kehilangan sahabatku? Lagipula, kenapa kamu bisa hamil? Bukankah kamu ingin berpisah dengan Harry?" tanya Sevia.


"Aku gak tahu, Via. Antara sedih dan senang saat usiaku tidak muda lagi malah hamil. Sedangkan Dian yang menjadi pengantin baru, justru belum hamil." Rani menundukkan kepalanya.


Dia juga merasa bingung kenapa bisa hamil. Pantas saja akhir-akhir ini dia tidak bisa tidur jika belum menghirup aroma tubuh Harry. Sehingga pas tadi pagi, Rani diperiksa oleh dokter karena muntah terus menerus, ternyata dia dinyatakan hamil.


Tanpa menunggu waktu lama, Davin dan Diandra langsung membawa Rani ke dokter kandungan. Namun, saat di USG ternyata usia kandungannya sudah memasuki usia dua belas minggu. Tentu saja Rani awalnya syok, tetapi setelah dia mengingat-ingat, mungkin saja hasil pembuahan saat terakhir kali dia berhubungan dengan Harry sebelum laki-laki itu berangkat ke luar negeri, karena marah padanya yang terus-menerus meminta cerai.


"Mungkin ini sebagai tanda kalau kalian tidak boleh berpisah. Aku juga inginnya kamu pisah dengan Harry karena apa yang telah dilakukannya sama kamu sangat melukai hati aku sebagai sahabat kamu sekaligus sebagai seorang perempuan. Tetapi, saat terakhir kali ketemu dia, Harry terlihat seperti tidak mengurus dirinya. Kata Dave, dia terus menyibukkan diri dengan pekerjaannya."


"Tahulah, Via. Aku pusing harus bagaimana? Aku ingin pisah, tapi aku gak tega pada anakku yang masih dalam kandungan. Nanti dia tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya," ucap Rani sendu.


"Sudah, Tan! Jangan sedih-sedih, ayo kita makan rujaknya!" ajak Devanya. "Loh, kho kedondongnya tinggal segini?"


"Sudah Abang makan, Ay. Habisnya kalian malah mengobrol, jadinya Abang makan rujak duluan," ucap Keano dengan tersenyum tipis.


"Abang, habis berapa bungkus? Bukankah kita beli dua puluh bungkus, kenapa tinggal lima bungkus lagi?" Devanya mengerucutkan bibirnya. Dia kesal pada suaminya menghabiskan hampir semua rujak yang mereka bawa.


"Ano, apa kamu lagi ngidam juga?" tanya Sevia menelisik menantunya.


"Memangnya kalau laki-laki bisa ngidam, Mah?" tanya Keano heran.


"Tentu saja bisa. Namanya kehamilan simpatik. Kalau istrinya sedang hamil, suami bisa menggantikan istrinya mengidam," jelas Sevia.


"Kalau aku ngidam, berarti Deva sedang hamil, Mah. Istriku kan hanya dia," ucap Keano dengan kening yang mengerut.


"Apa??? Aku mau jadi nenek?!!" pekik Sevia kaget.


"Mama, biasa aja dong! Belum tentu juga aku hamil. Aku kan terakhir haid ...." Devanya tidak melanjutkan ucapannya. Dia langsung mengingat-ingat kapan terakhir dia datang bulan. Setelah dia mendapatkan jawabannya, Devanya langsung membulatkan matanya.


"Mah, aku ... Aku sepertinya telat dua minggu. Seharusnya awal bulan aku datang bulan," ucap Devanya.


"Ano, kamu buat janji ke dokter kandungan. Sepulang dari rumah Dian kita langsung ke rumah sakit," suruh Sevia.


"Iya, Mah. Syukurlah kalau benar kamu hamil, Ay. Abang ikhlas menggantikan ngidam kamu demi anak kita," ucap Keano lalu mencium kening istrinya turun ke kedua mata Devanya, lalu ke hidung, pindah lagi ke pipi kanan dan kiri. Yang terakhir mencium sekilas bibir tipis istrinya. Saking bahagianya, dia sampai lupa kalau di sana ada mertua dan juga iparnya.


"Ehm ... Ano, nanti kalian lanjut di kamar saja ya!" suruh Sevia.


"Hehe ... Iya, Mah maaf!" sahut Keano dengan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


Diandra yang sedari tadi diam langsung memeluk sahabatnya. Dia senang, kalau memang benar Devanya hamil, tetapi sekaligus sedih karena dia ternyata belum hamil. Padahal, dia menikah lebih dulu dari Devanya.


"Selamat ya Deva. Semoga saja beneran kamu hamil. Aku senang mendengarnya, di waktu bersamaan akan memiliki adik sekaligus keponakan," ucap Diandra.


"Makasih, Dian. Tapi nanti saja bilang selamatnya, aku kan belum pasti," ucap Devanya.


...***...


Sepulang dari rumah Diandra, mereka langsung ke rumah sakit internasional milik keluarga Keano. Di sana Allana sudah menyambut kedatangannya. Terlihat binar kebahagian dari wajah cantik Allana, saat mendengar kabar kalau Keano membuat janji dengan dokter kandungan untuk memeriksakan istrinya.


Keano yang tidak diajak oleh mommy-nya hanya mengikuti ketiga wanita cantik yang berjalan di depannya. Dia hanya tersenyum tipis melihat binar keahagian dari wajah Allana.


Semoga benar, Tuhan memberikan kepercayaan padaku dan Devanya. Opa pasti senang mendengarnya. Apalagi, cicit yang akan lahir dari rahim cucu menantu pilihannya, batin Keano.


Setelah melewati beberapa poli, akhirnya mereka masuk ke ruangan Dokter Tantri. Dokter mudayang berbakat itu sudah siap sedia di tempatnya. Bagaimana tidak, jika yang membuat janji temu itu putra direktur rumah sakitnya sendiri. Sehingga dia pun harus memberikan pelayanan terbaik pada putra bosnya.


"Selamat sore, Dok!" sapa Allana.


"Sore, Bu! Silakan duduk!" suruh Tantri.


"Terima kasih, Dok!" ujar Devanya.


Yang diperiksa hanya satu orang, tapi yang antar sampai tiga orang. Tidak mungkin aku menyuruh salah satunya menunggu di luar. Pasti mereka keberatan. Beruntung sekali istri Pak Keano. Sudah memiliki suami yang tampan dan tajir melintir, punya mertua pun sangat perhatian dan pengertian. Semoga saja masih ada stok lelaki yang seperti Pak Keano untukku, batin Tantri.


"Maaf, Nona. Kapan terakhir datang bulan?" tanya Dokter Tantri.


"Awal bulan kemarin, Dok." jawab Devanya.


"Apa memiliki keluhan seperti pusing, lemas atau mual?" tanya Dokter Tantri.


"Tidak ada, Dok. Hanya saja Bang Ano sekarang suka makan makanan yang asam dan segar-segar."


"Mungkin Tuan Keano terkena kehamilan simpatik. Anda salah satu wanita yang beruntung karena begitu dicintai oleh suami Anda. Sampai beliau harus menggantikan Anda ngidam," ucap Dokter Tantri.


"Alhamdulillah, Dok. Allah berbaik hati padaku dengan mengirimkan pangeran berkuda putih sebagai jodohku." Devanya tersenyum pada dokter itu yang sekali-kali melirik pada suaminya.


"Kalau begitu, mari pindah ke bed sana untuk melakukan USG!" ajak Dokter Tantri.


Semua orang berpindah pada sebuah bed dengan peralatan USG yang lengkap. Setelah Dokter Tantri memberi gel pada perut Devanya dan menempelkan alat USG, dokter itu pun memutar-mutar mencari posisi janin. Terlihat di layar sebuah titik hitam yang menandakan memang sudah ada kantung janin di dalam rahim Devanya.


Allana yang mengerti dengan apa yang tertera di layar monitor, dia langsung tersenyum lebar seraya memeluk putranya yang berdiri di samping dia. "Selamat Ano, Deva hamil! Kalian jaga ya cucu Mommy."


"Mama serius?" tanya Keano.


"Selamat Nona, Tuan Ano, Anda akan jadi seorang ayah. Kondisi janinnya baik, sekarang sudah memasuki Minggu ke lima," ucap Dokter Tantri


"Alhamdulillah," ucap Keano dan yang lainnya kompak


"Selamat Via kita akan jadi nenek!" Allana pun beralih memeluk Sevia.


Sementara Keano langsung beranjak ke samping Devanya yang masih tertidur karena Dokter Tantri masih membersihkan sisa gel yang ada di perut Devanya. Pria tampan dengan sejuta pesona itu, lagi-lagi langsung menciumi wajah istrinya. Membuat Allana dan Sevia menggelengkan kepala. Sedangkan Dokter Tantri dan perawat yang menemaninya hanya berpura-pura tidak melihat.


Ya ampun Ano, di depan banyak orang juga kamu tidak sungkan untuk mencium Deva. Segitu besarnya cinta kamu untuk gadis itu. Semoga kebahagian selalu menyertai perjalanan cinta kalian, batin Allana.


Alhamdulillah, Deva mendapatkan suami yang begitu mencintainya. Memang benar Ion juga mencintai kamu, Nak. Tapi cintanya tidak sebesar cinta Ano. Makanya Mama langsung menyetujui usulan dari papa kamu tentang perjodohan kalian, batin Sevia.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....