
Mentari sudah bersinar cerah di ufuk timur, sepasang anak manusia masih bergelung di bawah selimut. Sevia sengaja tidur kembali setelah tadi subuh dia melaksanakan kewajiban pada Sang Pencipta. Kepalanya terasa sakit, matanya sembab ditambah dengan badannya yang lumayan panas. Entah jam berapa dia tertidur, karena saat Dave datang, dia menjadi tidak bisa tidur.
Perlahan Dave membuka matanya, dilihatnya dia yang kini sudah berganti baju memakai kaos oblong dan celana pendek. Seperti apa yang biasa dia pakai saat akan tidur. Dave teringat, semalam dia pergi ke bar bersama dengan Barra dan Harry. Namun, dia belum bisa mengingat bagaimana bisa berganti baju dan tidur dibawah selimut berdua dengan istrinya.
Pria bermata biru itu melihat ke arah Sevia yang tidur membelakanginya. Dave mendekat ingin memeluk Sevia dan mengucapkan selamat pagi. Namun, dia langsung terkaget saat mendapati tubuh Sevia yang panas. Dengan panik dia mencari bahan untuk mengompres istrinya. Setelah mengompres Sevia, Dave langsung menghubungi Harry untuk membawa dokter ke kamarnya.
Tidak butuh waktu lama, Dokter klinik yang ada di pulau itu langsung datang saat mendapat pesan kalau putra pemilik tempatnya bekerja membutuhkan bantuannya. Namun dokter muda itu sedikit kaget, saat orang yang diperiksanya ternyata seorang gadis yang tidak dikenalnya.
"Bagaimana Dok, keadaannya?" tanya Dave yang sudah terlihat rapi karena tadi saat menunggu dokter datang, dia menyempatkan mandi untuk menghilangkan bau alkohol di tubuhnya.
"Sudah berapa lama panasnya?" tanya dokter itu.
"Mungkin semalam karena kemarin dia masih sehat," jelas Dave.
"Jangan terlalu kasar pada perempuan, Dave! Kamu menyakitinya sampai dia demam begini," ucap Rival, seorang dokter muda yang merupakan temannya Harry saat sama-sama duduk di bangku SMA.
"Jangan sok tahu kamu!" sentak Dave yang tidak terima dengan apa yang Rival katakan.
Rival menghela napas dalam mendengar apa yang Dave katakan. Susah sekali dia memberi tahu adik kelasnya itu. Padahal dia tahu tentang kejadian tadi sore karena dia melihatnya sendiri saat Dave menarik tangan Sevia.
"Dave, sebaiknya gadis ini dibawa ke rumah sakit agar panasnya cepat turun. Persediaan di sini sedang kosong. Aku baru mau ke kota hari ini," ucap Rival.
"Harry, siapkan heli. Aku pulang sekarang juga!"
...***...
Di sinilah sekarang Sevia, dalam sebuah ruangan bernuansa putih dengan infus di tangannya. Kini panasnya sudah turun tidak sepanas tadi saat di bawa ke rumah sakit. Dia mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling ruangan. Hanya ada dia sendiri dalam ruangan yang besar itu.
"Dave ke mana? Kepalaku masih saja pusing." Sevia memegang kepalanya yang masih terasa berdenyut.
Terdengar suara pintu ada yang membukanya dari luar. Nampak Dave masuk dengan membawa kantong plastik di tangannya. Dia senang melihat istrinya yang sudah bangun. Dengan tergesa, Dave pun menghampiri Sevia.
"Via, bagaimana keadaanmu?" tanya Dave dengan menyimpan tentengan yang dibawanya di atas meja.
"Kepalaku pusing, sepertinya vertigo aku kambuh," keluh Sevia.
"Kamu jangan banyak berpikir! Ayo makan dulu, aku sudah membawa bubur untukmu." Dave meraba kening Sevia dan dirasanya sekarang sudah tidak sepanas tadi saat dibawa ke sini.
"Mulutku pahit Dave," keluh Sevia.
Dave tidak memperdulikan apa yang Sevia katakan. Dia terus saja menyiapkan bubur yang tadi dibawanya dan mulai menyuapi istrinya. "Ayo dimakan dulu! Sedikit juga gak apa-apa, asal ada makanan yang masuk."
"Sudah Dave! Aku sudah kenyang," ucap Sevia saat Dave baru saja memberinya satu suapan.
"Kamu bilang sedikit gak papa," elak Sevia.
"Sedikit menurutku itu harus ngabisin setengah porsi bubur." Dave pun menyuapi kembali istrinya sampai buburnya benar-benar habis karena dia pun ikut memakannya bersama dengan Sevia.
Setelah Dave membereskan bekas makannya dan memberi Sevia obat untuk diminumnya, dia kembali duduk di dekat istrinya. Brondong tampan itu memegang tangan Sevia yang ada jarum infus dan mengelusnya perlahan.
"Via, aku minta maaf dengan apa yang aku lakukan kemarin. Aku tahu aku salah, tapi satu hal yang harus kamu kamu tahu, Zee itu saudara angkat aku. Orang tuanya yang selama ini telah merawat aku. Aku harap kamu jangan cemburu padanya lagi," ucap Dave dengan tangan yang terus mengelus tangan Sevia.
"Aku tidak cemburu, aku hanya ...."
"Sudahlah! Aku mengerti dengan apa yang kamu rasakan. Asal kamu tahu, Aku senang bisa menikah denganmu. Menjalani hari-hari bersamamu. Berbagi tempat tidur denganmu. Tapi aku minta, jangan dekat dengan lelaki manapun. Aku sangat tidak suka milikku disentuh tanpa seijin aku." Dave menatap dalam ke manik cokelat Sevia. Terasa keteduhan dalam manik mata itu.
"Aku tidak dekat dengan siapa pun, kemarin dia hanya memberitahu aku untuk tidak berjalan terus ke arah hutan. Dia hanya ingin menghiburku." Sevia menundukkan kepalanya.
"Sudahlah! Aku tidak ingin mendengar lagi tentang laki-laki itu. Hanya membuat kepalaku terasa mendidih," ucap Dave.
"Apa kamu cemburu, Dave?"
"Tidak! Sudah aku bilang, aku tidak suka milikku disentuh oleh lelaki manapun. Kamu hanya milik aku Via, dan aku tidak akan melepaskanmu sampai kapan pun." Dave beranjak pergi ke toilet. Dia ingin membasuh mukanya terasa panas saat teringat Sevia sedang tertawa bersama dengan Adam. Ditambah lagi, tangan Adam yang merangkul pundak Sevia.
Apa benar aku cemburu? Mana mungkin aku bisa secepat itu bisa jatuh cinta sama dia dan melupakan cintaku pada Zee.
Setelah puas membasuh mukanya, Dave pun kembali untuk menemui Sevia yang sudah merebahkan kembali badannya. Melihat Sevia yang sudah memejamkan matanya, Dave pun ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Sampai terdengar suara pintu ada yang membukanya, Dave kembali bangun dan melihat siapa yang datang.
"Dave, mau berapa malam berada di sini? Kata dokter Ani, kalau panasnya sudah turun dia sudah bisa pulang." Harry mendekat ke arah Dave dan duduk di kursi samping bed tempat Sevia tidur.
Bukannya menjawab pertanyaan Harry, Dave malah terlihat kesal dengan kedatangan asistennya itu. "Kamu datang di waktu yang tidak tepat Harry, Aku baru saja mau tidur bersama istriku," ketus Dave.
"Masih siang, Bos! Matahari saja belum condong ke barat, sudah mau bobo bareng saja," sarkas Harry.
"Aku ingin istriku cepat sembuh, makanya mau memberi dia sedikit energi skin to skin," elak Dave.
"Sudah nanti lanjutkan saja, sekarang jawab pertanyaanku dulu. Mau pulang kapan? Tapi menurutku skin to skin-nya mending di apartemen saja biar langsung sehat."
"Atur saja, pulang sore ini. Bukannya besok kita ada meeting dengan Mr. Arata?
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...