
Meskipun sudah mendapatkan transfusi darah, tetapi Sevia masih belum sadarkan diri. Dave terus saja berada di samping istrinya. Sedikit pun dia tidak mau pergi jauh dari sisi Sevia.
Icha yang mendapatkan kabar tentang Sevia yang melahirkan di pesawat, dia pun langsung terbang menyusul Dave bersama dengan Al. Sesampainya di sana, hati Icha terenyuh saat melihat Dave dengan telaten membersihkan tubuh istrinya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia jadi teringat saat dulu melahirkan anaknya dan mengalami pendarahan.
"Dave, bagaimana keadaan Sevia?" tanya Icha yang sukses mengagetkan putra angkatnya.
"Dia masih betah tidur, Tan. Kenapa dia tega menghukum aku seperti ini? Aku tidak mau kehilangan dia. Suruh Via bangun, Tan! Aku janji akan lebih perhatian lagi sama dia," adu Dave dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sabar, Dave! Sudah berapa hari dia koma? Lalu putra kalian di mana?" tanya Icha yang ikut meneteskan air matanya. Dia bisa merasakan kesedihan yang Dave rasakan.
"Sudah dua hari, Tan. Davin dan Devan ada di NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Mereka dalam pengawasan dokter," ucap Dave.
"Kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan Sevia dan anak-anak. Kamu tidak boleh patah harapan, Dave. Keyakinan kita agar Sevia kembali sehat akan memberikan energi positif buatnya. Tante akan di sini menjaga Sevia dan cucu kembar Tante. Kamu jangan bersedih, karena kamu tidak sendiri." Icha mengelus lembut punggung Dave.
"Makasih Tante!" Dave langsung menghambur ke dalam pelukan Icha membuat Al melotot tidak terima.
Satu Minggu sudah Sevia tidak sadarkan diri, hari ini awal musim dingin. Suhu di negeri ini turun drastis. Icha sedang pulang ke rumah Kirana bersama dengan Kinara ibunya Sevia. Semenjak pertemuannya dengan Kinara, Icha menjadi cepat akrab. Begitupun dengan Kinara yang merasa senang karena putrinya diterima baik oleh keluarga Dave.
Dave yang merasa kedinginan, langsung ikut berbaring di samping Sevia. Dia memeluk erat istrinya yang belum sadarkan diri. Dave pun mencium bibir Sevia sekilas sebelum dia terlelap tidur.
"Selamat malam, sayang. Semoga kita bertemu dalam mimpi. Aku sudah sangat merindukan kamu, Via. Cepatlah bangun, Davin dan Devan ingin menikmati buat kesayangan aku," bisik Dave.
Perlahan mata Dave terpejam dengan tangannya memeluk Sevia seraya memegang buah kembar kesayangannya. Tidak berapa lama kemudian, Dave sudah terlelap dalam tidurnya. Sampai-sampai Dave tidak menyadari kalau orang yang dipeluknya kini perlahan menggerakkan jarinya.
Setelah jarinya yang bergerak, kini perlahan mata Sevia terbuka. Dia mengerjap-kan matanya menyesuaikan dengan cahaya. Sevia mengelus lembut tangan Dave yang membelit badannya, perlahan kedua sudut bibirnya terangkat. Meskipun dia belum melihat wajah suaminya, tetapi Sevia sudah mengenali aroma tubuh Dave.
Perlahan Sevia pun memiringkan badannya, melihat ke arah Dave yang sedang tertidur pulas. Terlihat jelas lingkaran hitam di mata suaminya, Sevia pun mengulurkan tangannya menyentuh mata Dave.
"Sayang," lirih Sevia.
Tangannya kini beralih mengelus rahang Dave yang sudah tumbuhi rambut-rambut halus. Nampak jelas, kalau Dave kurang merawat diri. Tangan Sevia pun sudah berpindah, kini bibir merah Dave yang menjadi sasaran. Perlahan ibu jarinya mengelus lembut bibir yang selalu membuatnya terbang melayang.
Merasakan ada sentuhan di bibirnya, Dave pun langsung membuka matanya. Dia sangat kaget saat melihat Sevia sedang menatapnya sendu. Dave pun terus mengucek matanya no untuk memastikan kalau yang dilihatnya itu nyata.
"Via, apa kamu sudah bangun?" tanya Dave dengan dada yang bergemuruh penuh rasa bahagia
Sevia hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, ini aku Dave."
Dave langsung memeluk erat istrinya dengan menciumi seluruh wajah dan rambut Sevia. Hatinya benar-benar bahagia melihat kekasih hatinya kini sudah membuka mata kembali.
"Alhamdulillah, Terima kasih Tuhan!" Dave terus mengucapkan syukur. Hatinya benar bahagia.
"Dave, aku merasa sesak," keluh Sevia.
Dave pun segera melepaskan pelukannya dan bangun dari tidurnya. "Maaf, Via. Aku terlalu bahagia melihat kamu sudah sadar.
"Terima kasih sudah menjaga," ucap Sevia. "Dave bisakah ambilkan minum, aku haus."
Dengan sigap Dave segera beranjak mengambil air mineral yang dia simpan di atas nakas samping tempat tidur. Dave langsung membuka tutup botol dan memberikannya pada Sevia setelah dia menyimpan sedotan pada botol itu. Sevia pun langsung mengambil dan meminumnya.
"Terima kasih, Dave."
"Tidak, jangan berterima kasih. Aku yang harus berterima kasih padamu. Terima kasih, Via. Kamu akhirnya bangun kembali dan bersama aku lagi," ucap Dave dengan menatap lekat istrinya.
"Kamu tahu, aku merasa sebagian dari diriku hilang saat kamu terus menutup mata meski aku selalu memanggil namamu. Via, tetaplah hidup bersamaku. Jangan meninggalkan aku!" Dave mendongakkan kepalanya, dia terus menahan air mata yang ingin keluar.
"Maafkan aku sudah membuat kamu sedih," lirih Sevia.
"Via, aku sudah memberi nama kedua anak kita. Kakaknya punya tanda lahir di tangan kirinya aku beri nama Davindra Ocean Sky sedangkan adiknya punya tanda lahir di pinggang, aku beri nama Devandra Ocean Sky. Bagaimana apa kamu suka?" tanya Dave langsung mengalihkan pembicaraan.
"Iya, aku suka. Apa aku boleh melihat mereka?" tanya Sevia.
"Sekarang sudah malam, pasti sedang tidur. Kedua anak kita masih berada di ruang NICU. Nanti kalau sudah boleh pulang, kita langsung pulang ke tanah air," ucap Dave. "Aku panggil dokter dulu ya!"
Astaga! Sakit bahagianya, aku sampai lupa memberi tahu dokter kalau Sevia sudah sadar, batin Dave.
"Iya, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang perawat dia seberang sana.
"Istriku Sevia sudah sadar, bisa minta tolong dokter untuk memeriksanya?"
"Baik, Tuan. Kami akan segera ke sana."
Tak berselang lama, dokter yang menangani Sevia.datang bersama dengan perawat. Mereka langsung memeriksa dengan lengkap kondisi Sevia. Setelah memastikan keadaan Sevia, dokter pun berbicara dengan Dave.
"Alhamdulillah, Kondisi Nyonya sudah membaik. Sekitar satu dua hari lagi, Nyonya sudah bisa pulang," ucap dokter.
"Terima kasih, Dok!" Kompak Sevia dan Dave.
...***...
Keesokan harinya, Icha dan Kinara datang bersama dengan Kirana. Kini ibunya Sevia sudah bisa berjalan setelah beberapa bulan terapi. Keinginannya untuk cepat sembuh dan kembali berkumpul dengan putrinya membuat proses terapi-nya Kinara sukses dan lebih cepat dari perkiraan.
"Assalamu'alaikum," ucap ketiga wanita cantik.
"Wa'alaikumsalam," jawab Dave yang sedang menyuapi istrinya.
"Alhamdulillah, kamu sudah membaik. Ibu sangat khawatir," ucap Kinara seraya mempercepat langkahnya dan langsung memeluk putrinya.
"Ibu ...," lirih Sevia.
"Bagaimana keadaannya, Dave?" tanya Icha.
"Alhamdulillah, Tan sudah membaik. Mungkin besok atau lusa sudah boleh pulang," ucap Dave.
"Aku masih ingin di sini sampai anak kita sudah boleh di bawa pulang," ucap Sevia setelah dia melepaskan pelukan ibunya.
"Nanti aku tanyakan dulu sama dokter, ya Sayang. Kalau boleh, aku akan menemani kamu di sini," ucap Dave.
Alhamdulillah putriku mendapatkan suami yang sangat mencintainya. Aku sangat bersyukur, Sevia tidak mengalami kegagalan dalam cintanya seperti aku, batin Kinara.
"Via, apa boleh Ibu ikut bersama kalian. Ibu ingin menjaga cucu-cucu Ibu," ucap Kinara.
"Tentu saja boleh, Bu. Via malah senang jika di rumah dengan Ibu," jawab Sevia.
"Iya, Bu. Tinggal saja bersama kami. Devanya pasti senang tinggal dengan Oma-nya," timpal Dave.
"Makasih, Nak. Sudah mau menerima Ibu. Maafkan semua kesalahan Ibu di masa lalu," ucap Kinara sendu.
"Iya, Bu. Jangan dibahas lagi ya, Bu. Lebih baik kita menata masa depan kita dengan baik. Via sangat senang bersama dengan Ibu," ucap Sevia.
"Kakak, apa sudah dipikirkan dengan baik akan tinggal bersama Sevia? Bukankah Kakak betah tinggal bersamaku?" tanya Kirana yang merasa keberatan dengan keputusan kakaknya.
"Kakak ingin menebus kesalahan di masa lalu dengan ikut menjaga cucu-cucu Kakak. Kamu jangan cemas, Kakak pasti sering mengunjungi kamu." Kinara menenangkan adiknya.
Memang sedari Kirana masih kecil, dia pasti selalu menempel pada kakaknya. Apalagi saat ibu mereka tiada, Kinara sudah seperti pengganti ibu untuk adiknya.
"Baiklah, jika itu sudah jadi keputusan Kakak. Di mana pun Kakak berada, aku harap Kakak selalu bahagia. Via, Tante titip ibu kamu ya, kalau ada apa-apa, cepat hubungi Tante!" pinta Kirana.
"Iya, Tan! Tante jangan cemas, ibu pasti baik-baik saja bersamaku. Iya 'kan, Bu?"
"Iya, Ibu yakin kalau putri Ibu tumbuh jadi gadis yang baik, jadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anaknya. Terima kasih, Nak. Kamu sudah hidup dengan baik meskipun tanpa Ibu di sisimu."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...