Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 119 Antara Siap dan Tidak


Diandra terus saja termenung, memikirkan percakapannya dengan Tasya di kamar mandi tadi. Dia terus saja menduga-duga, mungkinkah benar sekarang sedang hamil?


Melihat istrinya seperti yang tidak berselera, Davin pun langsung mengisi sendok dengan makanan dan menyodorkannya pada Diandra. "Ayo makan! Biar aku yang suapi," ucapnya.


Diandra hanya melihat ke arah Davin sekilas sebelum akhirnya dia menerima suapan dari suaminya. Davin terus saja menyuapi Diandra dengan sesekali menyuapi dirinya sendiri.


"Bos Davin, coba sepulang dari sini bawa Diandra ke rumah sakit. Sepertinya dia hamil," celetuk Tasya.


Uhuk uhuk


Davin yang sedang mengunyah makanan langsung tersedak mendengar apa yang Tasya katakan. Secepatnya Diandra memberi minum pada suaminya.


"Tasya, kamu serius?" tanya Devan.


"Sepertinya sih begitu. Tetangga aku juga ada yang merasa mual saat mencium bau nasi. Pas di cek, ternyata sudah hamil dua bulan," tutur Tasya.


"Sayang, aku mau jadi Papa?" tanya Davin dengan wajah yang berbinar.


"Tasya, kamu jangan bikin gosip dulu Lihat suamiku sampai tersedak," tegur Diandra.


"Iya maaf. Aku hanya ingin suami kamu tahu sehingga kalian cepat-cepat periksa agar ketahuan hasilnya," kilah Tasya.


"Udah Sayang gak apa-apa. Van, kamu handle dulu ya, meeting dengan Tuan Samosir. Aku mau langsung ke rumah sakit sepulang dari sini. Kalian ke kantor naik taksi saja. Mobilnya mau aku bawa," lerai Davin.


"Ujung-ujungnya aku yang kena. Tapi sudahlah, kali saja benar Diandra hamil biar dia semakin gak bisa lepas dari Davin," gumam Devan pelan


Setelah selesai makan siang bersama, mereka pun berpisah di pintu keluar restoran. Davin dan Diandra langsung menuju ke mobilnya. Sementara Devan dan Tasya naik taksi yang sudah dipesannya.


Jantung Diandra terus berdebar saat dia berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Dia gugup juga khawatir, kenyataan tidak sesuai harapannya. Davin yang berjalan seraya menggenggam tangan istrinya bisa merasakan kegugupan yang Diandra rasakan.


"Jangan gugup! Apapun hasilnya, aku akan menerima dengan ikhlas. Lagipula kita masih muda, masih banyak waktu dan kesempatan untuk kita terus berusaha mempertemukan cebong dan Zigot."


"Vin, bahasa kamu."


"Hehehe ... Abisnya istriku tegang sekali. Aku gak akan maksa kamu buat cepat-cepat hamil. Aku masih ingin pacaran," ungkap Davin.


"Kata orang, anak itu penguat hubungan suami istri. Kalau ada anak, kita bisa berpikir dua kali jika ingin melakukan hal yang tidak baik," ucap Diandra.


"Sayang, itu tergantung orangnya. Sudah ah ... Jangan terlalu berpikir yang terlalu jauh! Kita jalani saja kebersamaan kita," pungkas Davin.


Tidak berapa lama mereka pun sampai di ruangan Dokter Daniela. Setelah konfirmasi dengan perawat yang membantu dokter kandungan itu, Davin dan Diandra pun langsung tanpa harus mengantri dulu. Nampak di sana dokter cantik itu dengan duduk di kursi kebesarannya. Dia langsung menyambut kedatangan Davin dan Diandra.


"Permisi, Dok!" sapa Diandra.


"Silakan duduk!" suruh Dokter Daniela.


"Terima kasih, Dok!" Kompak Davin dan Diandra.


"Ada keluhan apa, Nona?"


"Saya hanya mau periksa saja, apa saya sedang hamil atau tidak. Tadi saat mencium bau kopi, terasa mual sekali. Kata teman, kemungkinan hamil," tutur Diandra.


"Apa Nona telat datang bulan?"


"Dari bulan kemarin sepertinya saya tidak datang bulan."


"Kita periksa dulu pakai tespek ya! Silakan ke toilet untuk mengambil sampel urine. Nanti perawat akan membantu Anda," ucap Dokter Daniela.


"Selamat, Tuan! Istri Anda hamil. Apa selama ini ada keluhan selain yang tadi disebutkan?" tanya Dokter Daniela.


"Tidak ada, Dok!" jawab Diandra.


"Dian jadi posesif dan sangat sensitif, Dok!" adu Davin.


Mendengar apa yang suaminya katakan, Diandra langsung menginjak kaki Davin yang sukses membuat pemuda itu memekik kesakitan.


"Aw ... Dian sakit!" keluh Davin.


"Itu hal yang biasa, Tuan. Perasaan ibu hamil yang sensitif dapat terjadi akibat perubahan hormon selama kehamilan. Hal ini membuat neurotransmiter yang mengendalikan suasana hati menjadi terganggu. Selain itu, stres, kelelahan, dan perubahan metabolisme tubuh juga bisa menjadi penyebab lain munculnya perasaan sensitif pada ibu hamil," jelas Dokter Daniela.


"Mari kita USG dulu! Untuk memastikan kondisi janin," ajak Dokter Daniela.


Setelah pemeriksaan USG selesai, Davin dan Diandra pun langsung berpamitan pada Dokter Daniela. Hati Diandra begitu berbunga-bunga setelah melihat calon bayi mereka yang masih berupa titik hitam. Berbeda dengan Davin yang menjadi gamang antara senang dan belum siap.


Davin tidak menyangka, di usianya yang masih sangat muda, dia akan menjadi seorang ayah. Meskipun mereka tidak memiliki anak kembar seperti kakaknya, tapi dia membayangkan akan begitu merepotkan saat harus mengurus bayi.


Sepertinya aku harus tinggal di rumah mama saat nanti Dian melahirkan, batin Davin.


...***...


Di tempat yang berbeda, Tasya dan Devan berhasil meyakinkan klien untuk bekerjasama dengan perusahaannya. Namun, saat keduanya akan kembali ke perusahaan, ponsel Tasya terus saja berdering. Dia pun segera mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang telah melakukan panggilan telepon padanya.


"Bu Maryam ... Ada apa menelpon aku?" gumam Tasya.


"Angkat saja, siapa tahu penting." Devan melirik sekilas ke arah Tasya.


Tasya langsung menggeser tombol hijau di layar ponselnya. Dia pun langsung menyapa orang yang menelponnya.


"Hallo Bu! Ada apa?"


"Tasya, lagi di mana? Ayah kamu pingsan. Tadi Ibu ke rumah kamu untuk memberikan sayur SOP tapi saat sampai di dalam, Ibu melihat ayah ku tergeletak di dapur. Sekarang ayah kamu di IGD sedang diperiksa dokter."


Tasya menutup mulutnya seraya mendengarkan apa yang tetangga rumahnya katakan. Hatinya benar-benar kacau. Padahal rencananya, dia akan membawa ayahnya ke rumah sakit besok setelah mendapatkan uang dari Devan.


"Aku ... Aku segera ke sana, Bu. Tasya tutup teleponnya ya, Bu." Tasya langsung menutup sambungan teleponnya setelah berpamitan pada Bu Maryam.


"Kenapa? Apa ada yang penting?" tanya Devan melirik sekilas ke arah Tasya.


"Ayah pingsan. Sekarang sudah dibawa ke rumah sakit sama tetanggaku. Bisa minta tolong, antar aku ke rumah sakit umum?"


"Oke!"


Kasian sekali dia, di usianya yang masih muda harus bekerja keras untuk hidupnya dan biaya berobat ayahnya. Semoga saja ayahnya baik-baik saja. Sudahlah, uang yang dua ratus juta akan aku kasih cuma-cuma saja. Lagipula, tabunganku masih cukup untuk hal yang lain, batin Devan.


Devan melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Hingga tidak butuh waktu lama, mobilnya sudah terparkir rapi di rumah sakit. Dia sengaja mengikuti Tasya untuk melihat keadaan ayahnya dan memastikan kalau apa yang gadis itu katakan bukan kebohongan.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....