
"Den, tadi Den Harry menelpon. Katanya ada yang penting. Aden disuruh segera menghubunginya."
"Ada hal penting apa, Bi?" tanya Dave.
"Bibi tidak tahu, Den. Hanya saja, Bibi disuruh berkemas agar bisa segera pulang," ucap Bi Lina.
Tanpa menyahut lagi apa yang dikatakan oleh Bi Lina, Dave langsung menuju ke kamarnya. Dia mencari ponsel yang memang tidak sengaja ketinggalan saat pergi tadi pagi. Saat sudah menemukannya, dia pun segera menghubungi Harry.
"Hallo, Harry! Ada apa tadi menelpon aku?" tanya Dave saat panggilan teleponnya tersambung.
"Dave, gawat! Nyonya Elisa kabur, sekarang dia bersembunyi di rumah. Tadi ada polisi yang mencarinya ke sini. Cepat kamu pulang! Lagipula, mau liburan kenapa tidak mengajak aku?" Harry sudah seperti ibu-ibu komplek yang bicara tanpa jeda.
"Baiklah, aku akan bersiap." Dave langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dia meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk menetralkan gemuruh di hatinya.
Kenapa dia harus sembunyi di rumahku? Apa dia tidak tahu, kalau aku akan menyerahkannya ke kantor polisi. Sudah tua, bukannya bertobat malah menyusahkan.
Dave langsung menuju kamar mandi, dia mengguyur kepalanya dengan air shower yang dingin. Dave ingin mendinginkan kepalanya yang merasa kesal dengan kelakuan neneknya sendiri. Saat dia sedang asyik menikmati sentuhan air shower yang mengguyur kepalanya, terdengar suara pintu kamar mandi seperti ada yang membuka. Dave membiarkan saja, karena dia pikir Sevia yang ingin bergabung bersamanya. Namun, saat ujung matanya melihat bayangan seorang gadis yang berambut panjang sedang menutup pintu kamar mandi, Dave pun segera mengambil handuk dan melilitkan ke pinggangnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Bentak Dave saat dengan jelas melihat Wina masuk ke kamar mandinya.
"Maaf, Tuan! Aku hanya ingin membantu tuan untuk menggosok punggung," jawab Wina dengan tenang.
"Keluar!!! Aku tidak sudi kamu menyentuhku, cepat keluar!!!" Bentak Dave dengan suara keras.
"Tuan, Anda jangan marah dulu! Saya tidak keberatan jika menjadi simpanan Anda. Saya masih gadis, Tuan pasti tidak akan kecewa pada saya." Wina sudah seperti kehilangan akal untuk mendapatkan Dave. Apalagi tadi dia tahu dari Bi Lina kalau mereka akan kembali hari ini.
"Dengar!!! Kalau kamu tidak mau keluar sekarang, pekerjaan ayahmu yang menjadi taruhannya. Aku tidak segan memecatnya jika kamu kurang ajar seperti ini," sentak Dave.
Dave akan keluar dari kamar mandi, tetapi Wina langsung menghalangi jalannya, Dia sengaja menyender ke pintu agar Dave tidak bisa keluar. Namun, ada seseorang yang medorong pintu dari luar sehingga Wina mau tidak mau jatuh tersungkur ke lantai. Secapatnya Dave segera keluar dari kamar mandi dan membiarkan Wina yang masih mencium lantai kamar mandi.
"Pak Ujang, untung Bapak tepat waktu. Kalau tidak, putri anda bisa saja tinggal nama."
"Maafkan putri Bapak, Den! Dia selalu mudah terobsesi dengan apa yang diinginkanya. Bapak sudah berusaha mengobatinya ke orang pintar, tapi tetap saja seperti itu," ucap Pak Ujang dengan membantu Wina untuk berdiri.
"Sudahlah, cepat bawa putri Bapak keluar dari villa ini. Lain kali, aku tidak ingin melihatnya berada di villa." Dave langsung memakai handuk kimono karena Bi Lina dan istri Pak Ujang ikut masuk ke dalam kamar. Rupanya mereka mendengar kegaduhan saat Dave memarahi Wina sehingga Pak Ujang berinisiatif untuk mendobrak pintu kamar mandi.
Setelah kepergian orang-orang dari kamarnya, Sevia langsung mendekati Dave yang sedang duduk di tepi ranjang. Ibu muda itu ikut duduk di samping suaminya.
"Dave, kamu tidak apa-apa? Apa Wina memperrkosamu?" tanya Sevia.
"Via, apa kamu suka jika ada wanita lain yang menyentuhku?" Bukannya menjawab, Dave malah balik.
"Tentu saja tidak. Aku hanya khawatir dia nekat dan melakukan hal yang tidak senonoh itu."
Pipi Sevi langsung bersemu merah. Brondong satu ini selalu bisa membuatnya merasa tersanjung. Sevia pun langsung tersenyum manis seraya memeluk Dave dari samping.
"Makasih, Dave! Aku pun akan menjaga milikku hanya untuk kamu."
"Harus itu! Ayo kita bersiap, setelah sarapan kita langsung pulang ke rumah. Harry sudah uring-uringan karena nenek kabur dari tahanan."
Dave dan Sevia pun segera menyelesaikan sarapannya, kemudian kembali ke kota industri. Namun, sebelum pulang Dave memberi Pak Ujang sejumlah uang untuk membawa putrinya ke psikiater bukan orang pintar seperti yang Pak Ujang katakan.
...***...
Matahari sudah condong ke sebelah barat, saat Dave baru saja memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Nampak Harry yang bergegas keluar rumah saat mendengar suara mobil memasuki rumahnya. Gara-gara, Nyonya Elisa sembunyi di rumahnya, Harry sengaja tidak berangkat kerja. Dia khawatir nenek sahabatnya itu akan melakukan hal diluar perkiraannya.
"Dave, kenapa lama sekali? Aku sampai tidak kerja karena nenekmu," semprot Harry saat Dave baru turun dari mobil.
"Sorry Harry! Perjalanan dari Lembang ke sini lumayan jauh. Padahal, tadinya aku mau berendam dulu di pemandian air panas tapi kamu mengganggu acara liburanku," keluh Dave. "Lagian, kenapa kamu tidak bilang ke Om Arjuna, kalau nenek ada di sini?"
"Lihat dulu keadaan nenek kamu!" suruh Harry seraya menarik tangan Dave menuju ke sebuah kamar yang berada di lantai bawah.
Saat pintu kamar dibuka, nampak Elisa dengan keadaan kacau. Rambutnya acak-acakan, matanya sembab dengan sisa-sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya. Sepertinya Elisa habis menangis dengan menghancurkan barang-barang yang ada di kamar.
Dave pun mendekat ke arah Elisa dengan perlahan. Dia duduk di tepi ranjang yang sedang Elisa tiduri. Dave pun mulai mengajak bicara pada neneknya.
"Nek, apa yang nenek lakukan? Nenek tahu kan kalau ini bukan rumah nenek?" tanya Dave.
"Cucuku ternyata sama saja seperti dia. Kenapa tidak ada orang yang menyayangi aku dengan tulus. Kakek kamu hanya mencintai uang. Dia tidak perduli padaku yang selalu kesepian sehingga aku menghambur-hamburkan uangnya untuk mencari perhatian dia, tapi tetap saja dia tidak peka dengan apa yang aku inginkan. Begitupun dengan Dion, aku memeliharanya sedari dia masih remaja. Tetapi sekarang, dia malah bermain di belakangku dengan artis pendatang baru itu dan kamu, kamu tega memasukkan aku ke dalam penjara, padahal aku nenekmu, aku yang telah melahirkan ibumu."
"Nek, bukan aku yang telah membuat Nenek masuk ke dalam penjara, tapi kesalahan nenek sendiri. Kenapa nenek dengan tega membuat papaku kecelakaan. Bukankah nenek yang telah menyuruh orang agar kecelakaan itu terjadi?"
"Itu karena papa kamu yang akan membuat perjodohan mama kamu dan Aldrich batal."
"Maaf, Nek! Apa nenek tahu kalau Pak Dion bermain api dengan artis baru yang bernama Nadine?" tanya Harry menyela pembicaraan cucu dan nenek.
"Iya, aku telah menusuknya sebelum aku kabur ke sini."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...