
selamat membaca
mendengar detak jantung Key kembali, Sam langsung bertindak untuk mengecek keadaan Key, di saat Sam sedang mengecek keadaan Key, tiba-tiba mata Key terbuka dengan perlahan.
"kenapa kalian membuat keributan di sini." ucap Key dengan suara lemahnya.
"sayang..., akhirnya kau bangun juga, kau membuat ku sangat khawatir, kau tau....?, kau baru saja hampir membunuh ku." ucap Brayen dan langsung menciumi seluruh wajah Key.
"aku tidak akan kemana-mana, jadi tenanglah sayang." ucap Key lagi sambil mengelus lembut rambut Brayen yang sudah merebahkan kepalanya di samping Key.
"kakak....., kau membuat ku takut." ucap Gio sambil bangkit dari atas lantai, dan itupun masih dengan derai air mata, Gio terlihat persis seperti anak yang menyedihkan.
"maafkan aku adikku, aku sudah membuat mu khawatir, kemarilah...." ucap Key dengan tersenyum lembut kearah Gio.
"apa kau sangat ketakutan...?" tanya Key saat Gio sudah berada di sampingnya, dan Gio hanya menjawab dengan anggukan saja.
"itu takkan terjadi lagi, mulai saat ini, kita hanya akan hidup dengan damai bersama Deddy dan ibu, kita akan menjalani hidup seperti yang kita impikan sejak dulu." ucap Key dengan perlahan.
"sayang ....., apa kau melupakan ku...?" tanya Brayen dengan muka cemberut, itu karena namanya tak ikut di sebut oleh Key.
"maafkan aku suamiku, aku tak bermaksud melupakan mu." ucap Key kembali.
sudah seminggu sudah sejak Key bangunan dari masa kritisnya, urusan dengan pemegang saham di perusahaan ibunya juga sudah di selesaikan oleh Gio, mereka semua bersedia menyerahkan saham mereka kepada Key, itu karena Gio memberikan bukti kejahatan mereka untuk di lihat oleh mata mereka sendiri.
konferensi pers itu juga di lakukan secara terpisah, dan berada di mansion Delano, tetapi di siarkan di seluruh stasiun TV internasional dan juga media online.
setelah semuanya beres, saatnya Key dan yang lainnya kembali ke negara AM, perusahaan Key akan di jalankan oleh orang kepercayaannya dan ia hanya akan mengentrol dari belakang saja.
"sayang...., apa kau sudah siap...?" tanya Brayen di depan pintu kamar.
"ya.... sebentar lagi." jawab Key yang baru saja selesai bersiap-siap, ia masih di bantu dengan beberapa perawat, itu karena luka-luka Key masih belum sembuh sepenuhnya.
setelah beberapa menit, akhirnya pintu kamar Key terbuka, terlihat Key keluar dengan menggunakan kursi roda dengan di bantu oleh perawat.
melihat Key yang keluar, Brayen dengan cepat mengambil alih kursi roda Key dan mendorongnya sendiri.
"kita akan kebandara sekarang, Gio dan yang lainnya sudah menunggu di luar." ucap Brayen sambil mendorong kursi roda Key
"um...., aku sudah sangat merindukan Deddy dan ibu." jawab Key dengan antusias.
"tapi sayang, aku sudah bisa berjalan, aku sebenarnya tak membutuhkan kursi roda ini." ucap Key tiba-tiba, ia seperti merasa dirinya terlalu lemah, padahal ia sudah biasa mendapatkan luka.
"jangan membantah, kau masih belum sembuh total, mulai saat ini kau tak di izinkan untuk terluka seujung jari pun." ucap Brayen dengan tegas.