
selamat membaca
setelah Key dan Brayen menemukan loka ibunya, mereka berdua langsung menghabisi para pengawal yang sedang menjaga di area tersebut, tak satu orangpun mereka lepas dari peluruh panas dan juga belati kesayangan Key dan Brayen, mereka semua tewas dalam sekejap.
Key dan Brayen langsung memasuki ruangan tersebut, dan terlihatlah sosok wanita paruh baya yang masih saja cantik dan elegan sedang duduk dan menatap sebuah foto yang ada di dalam liontin yang sedang ia pegang, terlihat dengan sangat jelas jika wanita paruh baya itu sedang menahan rindu yang sangat berat, raut wajah sendunya membuat Key tak bisa menahan air matanya.
"ibu...." panggil Key kepada wanita paruh baya tersebut.
mendengar suara seorang gadis, wanita tersebut berbalik dan melihat wajah gadis yang hampir mirip dengan dirinya sewaktu masih muda dulu, ia sedikit memiringkan kepalanya, mencoba mencari tahu siapakah gerangan gadis muda yang cantik itu.
"ibu..., ini aku anak mu..., Keyna El Barto, ayo kita pulang, Deddy sudah menunggu ibu di rumah." sambung Key lagi dengan mata berkaca-kaca.
"El Barto...?, Delano....?, kau.... putri ku ....?" ucap ibu Key dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"sebaiknya kita keluar dulu ibu, aku akan menjelaskan semuanya setelah kami membebaskan ibu dari penjara ini." jawab Key sambil membawa ibunya keluar, setelah sampai di depan pintu, Brayen kembali membatu Key dengan menggendong ibu Key, sedangkan Key bertugas untuk melindungi mereka berdua, dalam waktu tiga puluh menit, mereka semua sudah menyelesaikan tugas mereka, semuanya sudah berkumpul di dalam kapal dan membawa mereka menjauh dari pulau tersebut.
"bang...., ayo nonton kembang apinya." ucap Key sambil menatap ke arah pulau tersebut.
"baiklah...., aku kau pasti akan menyelesaikan." jawab bang black dan langsung menekan tombol.
suara ledakan terdengar dan semburan api besar menyala ke atas membuat senyum terukir indah di wajah mereka semua.
"itu baru permulaan, kalian semua akan merasakan hal yang lebih dari sebuah kata kematian, akan ku musnahkan semua orang yang telah menyakiti keluarga ku, tak akan ku sisakan daging kalian dari tulang-tulang menjijikkan kalian itu, dan akan ku pastikan kalian memakan daging anak kalian sendiri, itu sumpah ku." gumam Key dengan wajah datarnya, sedangkan ke sepuluh anggota Brayen yang mendengar kata-kata nyonya muda mereka hanya mampu menelan salvina mereka saja.
" ya Tuhan..., ternyata nyonya lebih menyeramkan dari tuan."
" sepertinya aku harus berhati-hati dalam berucap, sebelum nyawa ku melayang di tangan nyonya.
"meledakkan sebuah pulau ia bilang hanya permulaan, kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya..?"
itulah yang muncul di otak kecil mereka tentang nyonya muda mereka, itu semakin membuat mereka kagum sekaligus takut juga.
mereka semua sampai di tempat yang sudah di siapkan oleh Brayen sebelumnya, mereka tak akan memasuki hotel, itu akan sangat beresiko besar mereka akan segera di Ketahui, jadi mereka harus membeli rumah yang lumayan sederhana untuk mereka membawa ibu Key untuk beristirahat dan mendapatkan perawatan sebelum kembali ke negara AM.
salah satu anggota Brayen langsung memeriksa kesehatan ibu Key dengan seksama, karena ia memang berprofesi sebagai seorang dokter di markas pusat Brayen, dan dari hasil pemeriksaannya, ibu Key terlihat baik-baik saja, dan itu cukup membuat Key dan yang lainnya bisa bernafas lega.