
selamat membaca
setelah sehari penangkapan Zevanya, Key memulai langkah keduanya, ia meminta kepada timnya untuk mempublikasikan bukti keterlibatan tuan Malfoy dan Zevanya.
"ok.... anak-anak, mari lanjutkan dengan langkah selanjutnya, seperti biasa, sebar semua bukti keterlibatan tuan Malfoy yang menjadi pendukung sekaligus rekan kerja Zevanya." perintah Key dari belakang mereka.
"siap laksanakan nyonya." jawab mereka dan langsung mengerjakan tugas mereka masing-masing, meretas seluruh pusat media hanya untuk menayangkan semua bukti kebusukan tuan Malfoy.
"nyonya...,ada yang mencoba melakukan perlawanan." ucap salah satu hacker.
"sudah sampai di mana...?" tanya Key, wajahnya masih terlihat sangat tenang.
"sudah mencapai tiga puluh persen nyonya." jawab hacker tersebut.
"tampilkan di layar, aku ingin lihat sampai dimana kemampuannya." perintah Key dan langsung di lakukan dengan cepat.
perlahan angka tersebut terus naik sampai mencapai di angka sembilan puluh persen, membuat para anggota yang ada merasa tegang dan was-was, tapi mereka merasa heran dengan nyonya mereka, karena Key masih terlihat sangat santai di mata mereka.
"nyonya..., apa kita tak akan melakukan perlawanan...?" tanya salah satu dari mereka, karena ia sudah terlihat sangat takut sekarang.
"tidak perlu, sebentar lagi virus akan masuk kedalam komputernya, dengan begitu kita bisa melihat siapa dan dimana orang yang berada di balik komputer tersebut." jawab Key, dengan begitu semua tim akhirnya bisa tenang, walaupun masih ada rasa gelisah karena dek-dekan.
dan benar saja, saat angka mencapai angka sembilan puluh sembilan, tiba-tiba saja angka itu kembali menurun sampai ke titik terendah dan menampilkan wajah dan lokasi sang hacker yang menyerang keamanan markas Brayen.
"rupanya pencuri kecil yang mencoba mengganggu ku." Key kembali bergumam dan melanjutkan aksinya, dia mengirim semua data-data orang tersebut ke pihak kepolisian beserta bukti kejahatannya, tak lupa juga lokasi sang hacker berada saat ini.
"sayang..., kau cukup kejam." ucap Brayen yang baru saja masuk keruang kontrol tempat Key dan timnya berada.
"apa kau membenciku karena kejam sayang..?" tanya Key yang berbalik menatap Brayen.
"apa yang kau katakan...?, justru itulah daya tarik mu." Jawab Brayen dan mengangkat Key ya g sedang duduk dan membawanya kedalam pangkuannya.
"sepertinya si tua Bangka itu menyewa seorang hacker, aku yakin ini dia persiapan karena merasa khawatir jika nasibnya sama seperti Zevanya yang bukti kejahatannya tersebar di seluruh media." ucap Key yang kembali mengalungkan tangannya ke leher Brayen.
"tapi dia tidak tau kalau istri ku adalah wanita yang tangguh." balas Brayen yang juga melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Key.
"siapa yang bilang kalau aku istri mu..?" tanya Key dengan wajah yang merah merona karena merasa malu.
"bukankah kita akan segera menikah...?, apa kau tak berniat menikah dengan ku sayang..?" tanya Brayen dengan muka cemberut nya.
"kita akan menyelesaikan ini terlebih dahulu, aku juga masih kuliah sayang, jadi kau harus bersabar dalam waktu yang cukup singkat, hanya sekitar tiga tahun lagi." jawab Key sambil mengedipkan matanya.
"jangan menyiksa ku terlalu lama sayang, aku hanya mampu menunggu sampai ibu mu kembali kepada kita untuk berkumpul, setelah itu aku akan melamar mu secara resmi." jawab Brayen dengan penuh penekanan, membuat Key hanya bisa pasrah saja mengikuti keinginan sang kekasih.