
selamat membaca
Key yang sedang melihat memori masa kecilnya sebelum ingatannya di hapus oleh anggota black dragon, dia merasakan sesak di dadanya, akibatnya membuat tubuh Key yang sedang berada dalam masa kritis semakin bertambah membahayakan.
tubuh Key tiba-tiba gemetar dan mengalami kejang-kejang, Brayen yang sedang tertidur di samping ranjang Key di buat kaget dengan suara alat pendeteksi jantung yang tiba-tiba berbunyi tak menentu, di tambah dengan tubuh Key gemetar tak karuan.
"Sam......" teriak Brayen memanggil salah satu anggotanya yang merupakan seorang dokter yang juga membantu pada saat Key operasi.
"tuan....., maafkan saya tuan, tapi tolong mundur sebentar." jawab Sam sambil berlari dan langsung menangani Key, ia di bantu dengan beberapa suster dan perawat.
Gio dan yang lainnya juga bergegas datang untuk melihat Key yang sedang kritis, raut wajah semuanya sangat tegang saat ini, terlebih lagi Brayen yang terlihat sangat hancur, ia seakan tak punya jiwa saat ini, ia hanya bisa melihat kekasihnya sedang melawan maut dan tak bisa melakukan apapun.
terlihat Sam dan beberapa anggotanya sedang berusaha menyelamatkan Key, alat pemompa jantung juga sudah beberapa kali di gunakan, dan untuk yang ke empat kalinya, suara detak jantung Key menghilang.
Brayen dan Gio yang melihat Sam berdiri diam dan tak melakukan apapun lagi langsung berlari masuk kedalam ruangan, keduanya sangat panik dan juga tak bisa menerima atas tindakan Sam yang berhenti mengambil tindakan penyelamatan Key.
"Sam ...., apa yang kau lakukan...?, kenapa kau berhenti hah....?, cepat selamatkan istri ku...?" teriak Brayen sambil memegang kera baju Sam.
"omong kosong apa yang kau bicarakan...?" teriak Brayen sambil memukul wajah Sam sampai terjatuh ke belakang.
"berhenti bicara omong kosong istri ku adalah wanita yang kuat, dia tak akan mungkin meninggalkan ku seperti ini." ucap Brayen lagi sambil beralih memeluk tubuh Key yang sangat pucat.
sedangkan Gio sendiri hanya terduduk lemas di samping ranjang kakaknya, ia seakan tak mampu untuk memegang tangan Key, Gio tak bisa menerima kepergian yang begitu mendadak ini, apalagi keluarga mereka baru terkumpul.
"apa yang harus aku katakan kepada ibu dan Deddy kak...?, kakak harus bangun..., jangan tinggalkan kami...., ibu dan Deddy masih menunggu mu...." ucap Gio dengan putus asa.
"sayang...., buka mata mu...., kau tertidur cukup lama, lihat lah wajah mu, kau sudah sangat pucat karena tak terkena matahari." ucap Brayen sambil membelai wajah pucat Key.
"bangunlah...., kita akan berlibur ke pantai bersama keluarga besar, tapi sebelum itu, kita harus menggelar pesta pernikahan kita dulu." ucap Brayen lagi dan masih di posisi yang sama.
"aku sudah menyiapkan semuanya, kejutan lamaran pun sudah aku siapkan sejak seminggu yang lalu, Deddy dan ibu juga membantu ku, mereka berdua sudah tak sabar menunggu kepulangan kita sayang, katanya ibu sudah menyiapkan baju pernikahan kita, Deddy bilang ibu terlihat sangat antusias dan bahagia." sambung Brayen lagi, air matanya tak pernah berhenti mengalir, ia dengan diam-diam berhubungan dengan Deddy Delano dan ibu Key untuk membantunya menyebabkan pesta lamaran, tapi karena keantusiasan ibu Key, Mereka langsung menyiapkan dengan pesta pernikahan.
setelah mendengar kata-kata Brayen, tiba-tiba setitik air mata Key keluar dari ujung matanya, detak jantungnya pun kembali berbunyi, membuat semua orang kembali menangis haru dan bahagia.