
selamat membaca
Brayen dan Key sudah menyediakan makan malamnya yang tertunda, kini mereka sudah berada di kamar Key, Brayen ingin memberikan foto ibu Key, ia sangat tahu jika Key sangat ingin mengetahui tentang orang tua kandungnya.
"jadi....!!!, apa yang ingin kau bicarakan pada ku...???, aku tahu kau datang kesini tak hanya sekedar kata rindu bukan...???" tanya Key, sekarang ia sudah duduk di sofa dengan wajah masih menghadap ke layar laptop nya.
"gadis ku memang paling tahu tentang ku...!!!" jawab Brayen sambil membaringkan dirinya dan menjadikan paha Key sebagai bantalannya.
"sayang....., kenapa kau hanya melihat laptop mu saja, aku jauh-jauh kemari hanya untuk melihat mu." protes Brayen karena Key tak memperdulikan dirinya.
"aku lagi melihat beberapa perusahaan yang memakai aplikasi pertahanan dari ku, mereka bilang beberapa hari yang lalu, ada yang mencoba meretas, dan itu berhasil sampai tahap 50%, sebelum virus itu kembali menyerang si peretas." jawab Key yang masih setia mengotak-atik jarinya di keyboard.
"berhentilah sejenak, aku mau memberikan sesuatu kepada mu...." sambung Brayen yang kembali bangun dari tidurnya, mau tak mau Key memberhentikan kerjanya dan melihat kearah Brayen.
"apa dia benar ibuku....???, ibu kandung ku....???, lalu dimana dia sekarang....???" Key langsung mengambil foto tersebut dan memperhatikannya secara detail.
"aku sudah menanyakan tentang itu kepada ketua black dragon, tapi dia tak tahu persis, ia hanya mendapatkan perintah untuk menangkap ibu mu, sedangkan untuk kamu, ia mendapatkan perintah untuk membunuh mu, tapi karena ia ingin memanfaatkan dirimu, ia membawa mu ke markas dan menghapus semua ingatan mu." jawab Brayen, ia sedikit menyesal karena tak bisa mendapatkan banyak informasi untuk wanita yang di cintai nya.
"aku hanya tahu jika orang itu pasti orang yang berpengaruh besar, ia berhasil mengontrol ketua black dragon sampai mau menutup mulutnya, walaupun harus kehilangan nyawanya sendiri, ia hanya berpesan agar aku menjaga mu, orang-orang itu terlalu berbahaya untuk kita." sambung Brayen lagi, wajah Key masih terlihat sama saat ini, ia masih tak memiliki ekspresi, hanya saja Brayen sangat peka terhadap Key, ia bisa tahu jika Key saat ini sedang merasa campur aduk, antara sedih,marah, dan juga rindu.
"sayang...., kau tak perlu menanggung semuanya seorang diri, ada aku yang selalu siap membantu mu, aku akan berusaha lebih ekstra lagi untuk menemukan ibu mu dan para bajingan itu." kata Brayen sambil memeluk Key dengan erat, Tampa terasa air mata Key jatuh, ia menangis sejadi-jadinya.
Key menangis karena sedih tak bisa bertemu dengan ibunya, tapi ia juga merasa senang karena tahu ia memiliki keluarga, tapi hatinya sedang marah karena orang-orang yang memisahkan dirinya dan ibunya, apa lagi saat ini ia tak bisa berbuat apa-apa, dan ia malah mengikuti si pembuat ke onaran dalam keluarganya.
Key terus menangis sampai ia kelelahan sendiri dan tertidur di dalam pelukan Brayen, Brayen yang melihat gadisnya tertidur langsung mengangkatnya dan membawanya ke ranjang Key, ia menyelimuti Key dan mengecup singkat sebelum ia beranjak meninggalkan kamar Key, tapi di saat ia ingin pergi, tangan Key menggenggam erat tangan Brayen dan tak mau melepaskannya, jadi mau tak mau, Brayen hanya bisa tidur di samping gadisnya, walaupun itu sesungguhnya keinginan nya sejak lama.