
selamat membaca
Key dan Morfen saling menyerang satu sama lain, kecepatan mereka sampai susah untuk di lihat dengan mata telanjang.
"mereka sangat cepat..." gumam Brayen Yang sedang mengamati dari sudut pertarungan.
"Key menguasai teknik ninja, dia di juluki sang queen shadow bukan Tampa alasan." ucap bang black menjawab gumaman Brayen.
"sudah lama aku tak melihat kak Key menggunakan teknik ini, dia hanya menggunakan teknik itu untuk melawan seseorang yang memang di anggap cukup berbahaya." sambung Gio yang juga sudah mengamati melalui dron yang ia terbangkan, berkat itu, aksi mereka dapat mereka tonton di markas.
"apa aku hanya harus menonton saja...?" tanya Brayen, tangan dan kakinya juga sudah gatal karena ingin ikut bertarung bersama Key.
"kakak ipar tak bisa masuk di tengah pertarungan mereka, pertarungan itu adalah pertarungan penentu yang menandakan siapa pemimpin sesungguhnya." jawab Gio, walaupun ia merasa gelisah, tapi itu tak bisa di bantah karena itu adalah peraturan yang mereka buat di antara para pembunuh bayaran.
"aku bisa gila jika seperti ini, kekasih ku sedang bertarung antara hidup dan mati, tapi aku hanya bisa melihat dari sisi lapangan saja tampa bisa melakukan apapun." ucap Brayen penuh frustasi.
"jika kau maju dan membantu Key saat ini, itu sama saja dengan kau membunuh Key, harga dirinya akan terluka, bagi kami pembunuh bayaran, harga diri adalah sesuatu yang paling berharga bagi kami, jika itu terluka, maka itu sama saja dengan mati." jawab bang black.
"kau memang gadis yang luar biasa, julukan mu sebagai queen shadow tidak hanya isapan jempol semata, kemampuan mu memang menakjubkan." ucap Morfen di tengah pertarungan mereka.
"ya...., kau juga sangat hebat, kau bisa mengimbangi kecepatan ku, tapi aku tak bisa berlama-lama saat ini, keluarga ku sedang menunggu ku, jadi aku akan mengakhiri ini dengan cepat." balas Key juga masih dengan belati di tangannya yang terus mengarah ke Morfen.
setelah beberapa saat, akhirnya Key dapat menancap belati kesayangannya ke jantung Morfen, walaupun dirinya sendi juga sudah di ambang kematian, tubuhnya di penuhi luka dan darah mengalir membalur kulitnya yang putih mulus.
"berakhir sudah...." ucap Key sebelum jatuh pingsan dan langsung di angkat oleh Brayen, dengan penuh derai air mata Brayen membawa tubuh kekasihnya kedalam mobil, sedangkan Gio dan yang lainnya sudah menghubungi dokter dan menyiapkan semua peralatan medis di tempat mereka, sisa menunggu Brayen membawa Key kembali.
"sayang...., kumohon bertahanlah...., aku akan membawamu kembali secepat mungkin." ucap Brayen masih dengan wajah penuh rasa takut.
"Gio...., bersihkan jalan untuk ku." teriak Brayen karena jalan penuh dengan mobil yang berlalu lalang.
"tenang saja, serahkan pada ku." ucap Gio dan dengan cepat ia mengambil alih komputer dan meretas semua mobil dan membuatnya membuka jalan, tak lupa juga lampu lalulintas yang di buat terus hijau, dan berkat itu, Brayen bisa dengan cepat sampai di markas dan membawa Key untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan.
semua wajah yang berada di markas sangat tegang, ini sudah lebih dari 10 jam Key menjalani operasi, tapi dokter tak kunjung keluar, membuat Brayen dan yang lainnya menjadi was-was.