Return Of Shura Demon

Return Of Shura Demon
Ingin Menjadikan Mo Kun Sebagai Murid


Di dunia luar, hampir sepuluh jam telah berlalu semenjak Zhukai memasuki dimensi pedang.


Di dalam dunia kecil di mana Mo Kun dan kedua rekannya bertarung, mereka saat ini sedang berhadapan dengan perwakilan tanah suci.


"Sial, bagaimana bisa kita bertemu mereka secepat ini." Mo Kun menggertakkan giginya saat menatap tiga perwakilan dari tanah suci.


"Kurasa aku tidak memiliki cara lain." Mo Kun melirik dua rekannya dan memberi mereka sinyal.


Dia kemudian mengeluarkan pedang yang ada dalam genggaman tangan kirinya dan menghunuskan pedangnya pada tiga orang yang ada di depannya.


"Hahaha... Lucu sekali. Pria tampan, dengan basis Kultivasi mu, tidak mungkin kau bisa mengalahkan kami. Sebaiknya kau patuh menyerahkan tokenmu padaku." wanita itu menatap Mo Kun sambil menunjukkan ekspresi nya yang dipenuhi gairah.


Dia tidak tahu mengapa tetapi aroma yang keluar dari tubuh Mo Kun membuatnya bergairah.


Perwakilan dari tanah suci terdiri dari tiga orang wanita yang berasal dari salah satu kekuatan besar di tanah suci.


Mereka bertiga berasal dari Istana rubah es.


Melihat tatapan wanita itu, tubuh Mo Kun tidak bisa berhenti untuk bergidik.


Dia dengan cepat menyuruh kedua rekan wanitanya untuk melatikan diri terlebih dulu.


Bahkan jika dia membangkitkan jiwa pedangnya, mereka bertiga masih bukan tandingan dari perwakilan tanah suci.


"Cepat lari, aku akan menahan mereka selama mungkin." bisik Mo Kun pelan.


"Tidak mungkin! bagaimana bisa kami meninggalkan mu sendirian melawan mereka bertiga." Ouyang Jin dengan tegas menolaknya.


Sudah cukup baginya melihat Mo Kun sekarat beberapa hari yang lalu. Jika bukan karena bantuan Zhukai, Mo Kun mungkin masih terbaring di atas kasur penginapan.


"Tch, jika terus seperti ini bisa-bisa kami bertiga tersingkir di babak pertama."


Mo Kun memutar otaknya sambil menatap sekelilingnya dengan tajam.


"Haahh, kurasa aku tidak memiliki pilihan lain. Kuharap cara ini akan bekerja."


Mo Kun menggenggam erat pedang di tangannya, mulutnya mengumumkan beberapa kalimat sebelum dia mengalirkan Qi ke dalam pedangnya.


Begitu !i di tubuhnya mengalir masuk kedalam pedang, Mo Kun segera mengayunkan pedangnya.


Gelombang angin yang begitu tajam menyerang ketiga wanita di depannya dan menciptakan ledakan.


Memanfaatkan kesempatan itu, Mo Kun segera meraih lengan Makan Ruyue dan Ouyang Jin dan segera melarikan diri.


Ketika kelompok perwakilan tamah suci berhasil terbebas dari teknik yang Mo Kun lepaskan. Pemimpin kelompok itu menggertakkan giginya dan berteriak marah.


"Sialan!!! Berani-beraninya dia mempermainkan ku seperti ini.."


Dalam kemarahannya, pedang yang dia genggam perlahan membeku karena energi dingin dari tubuhnya.


"Kalian berdua, mereka pasti belum pergi jauh. Cepat cari mereka, kalian bebas membunuh kedua wanita yang bersamanya. Sedangkan untuk pria itu..."


Wanita itu, Cao Li menjilati bibirnya dengan tatapan penuh gairah.


"Serahkan dia padaku..."


Dengan begitu, kelompok dari istana rubah es mulai mengejar kelompok Mo Kun.


Di dalam dimensi pedang saat ini, seorang wanita duduk dengan kepalnya menunduk.


Dia tersenyum manis saat menatap sosok pria yang sedang tertidur di pahanya.


"Hubby, kapan kamu akan bangun..."


Wanita itu dengan lembut menggunakan jaringan untuk memainkan wajah pria yang sedang tertidur kemudian mencium kening pria itu.


Di saat Qi Yue masih memainkan wajah Zhukai dengan jarinya, sebuah tangan yang begitu besar dan hangat tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya.


Deg–


"Apakah aku membuatmu khawatir, Yue'er istriku?" pria itu tersenyum sambil menggunakan telapak tangan Qi Yue untuk menyentuh pipinya.


Seketika, Qi Yue memerah dan segera menarik tangannya. Dia memenangkan degupan jantung nya yang berdetak cepat kemudian menatap Zhukai sambil berkata.


"Terimakasih ... Sayang."


Mendengarnya, Kai tersenyum senang. Dia kemudian duduk dan melepas pakaiannya yang sudah rusak.


Tetapi begitu dia melepas seluruh pakaiannya, dia menyeringai lebar kemudian menyerang Qi Yue.


"Kyaa ... Hubby, k–kita bisa melakukannya nanti..." Qi Yue bernafas tersendat-sendat saat merasakan sekujur tubuhnya sangat panas.


Sayangnya, Kai tidak mendengar apa yang dia katakan dan terus melanjutkan untuk menyerang Qi Yue bagaikan binatang buas.


Setelah dua jam berlalu, Kai terlentang di lantai dimensi pedang bersama dengan Qi Yue yang tertidur lelap di sisinya.


"Hmm, aku tidak menyangka akan selamat setelah menerima semua itu." Kai berkata sambil mengelus kepala Qi Yue yang sedang tertidur.


"Setelah menerima itu semua, aku tidak hanya selamat. Tetapi aku merasakan tubuhku menjadi semakin kuat."


Saat Kai menatap pada kegelapan kosong yang ada di atas, layar hologram muncul di depan matanya dan memberitahunya tentang segel ke 100 fisik Asura yang telah terbuka.


"Kemarahan Asura? aneh sekali! Aku seharusnya baru bisa menggunakan teknik itu saat berhasil membuka segel ke 400, mengapa aku bisa menggunakannya saat segel ke 100 terbuka?"


Dalam kebingungannya, Qi Yue tiba-tiba terbangun dan mencium pipi kirinya.


"Hubby, haruskah kita pergi keluar?" tanya Qi Yue dengan nada genit.


Zhukai menatapnya sekilas kemudian kembali tersenyum, "Hehehe, mengapa kita tidak melakukannya sekali lagi..."


Begitu Kai menyelesaikan ucapannya, dia kembali menyerang Qi Yue bagaikan binatang buas yang kelaparan.


Di dunia luar, Zi Lin Yue dan Zi Lan Mei saling bertukar pandang saat pandangan semua orang terfokus pada layar kecil yang di dalamnya menggambarkan bagaimana babak pertama berlangsung.


"Kakak, apakah kamu menemukan sesuatu yang mencurigakan dari pak tua itu?" Zi Lin Yue bertanya melalui transmisi suara.


"Kurasa tidak ada, pak tua itu dari tadi hanya fokus melihat bagaimana babak pertama berlangsung." jawab Zi Lan Mei sambil bernafas lega.


Sementara itu di kursi tempat Li Cangtian duduk, dia terus menatap pada Mo Kun yang tadi sempat menarik perhatiannya.


"Aku tidak mungkin salah, pria itu ... dia memiliki jiwa pedang." gumam Li Cangtian pelan sambil menunjukkan sedikit minatnya.


Dapat di ketahui, membangkitkan jiwa pedang bukanlah hal yang mudah. Bahkan di seluruh Three Realms, hanya ada sedikit orang yang berhasil membangkitkan nya.


"Darimana pria itu berasal!" Li Cangtian bertanya pada pelayan wanita yang berdiri di belakangnya.


"Jawab tuan, pria itu bernama Mo Kun. Dia berasal dari sekte tujuh pedang yang berada di benua naga biru."


Mendengar nama sekte pedang, mata Li Cangtian sedikit melebar.


"Sekte tujuh pedang? Kekeke... Tak kusangka sekte itu masih bertahan sampai saat ini."


"Kudengar pria itu juga bertarung dengan Lu Xiao beberapa hari yang lalu."


"Lu Xiao? jenius dari Klan Lu?"


Pelayan itu mengangguk, "Ya tuan, tapi aku tidak menyangka pria ini masih hidup setelah bertarung dengannya."


"Menarik! sungguh menarik!!... Setelah turnamen ini berakhir, bawa dia padaku. Aku ingin menjadikannya sebagai muridkku."


Seolah terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar, pelayan wanita itu segera menganggukkan kepalanya.


"Baik Tuan!!!..."


****


Bersambung...