Return Of Shura Demon

Return Of Shura Demon
Kompetisi Sekte VI


Kamu juga bisa makan dengan gratis di cabang rumah makan kami."


Mendengar itu, Kai diam tanpa. menjawab.


Suasana menjadi semakin canggung dalam waktu yang lama. Manager rumah makan itu tanpa henti terus mengeluarkan keringat dingin sambil berpikir dalam benaknya.


Selang beberapa menit berlalu, manager itu kembali berkata.


"Bagaimana anak muda, apakah kompensasi ini cukup?"


Zhukai tersenyum puas sambil melangkah maju untuk mengambil kartu hitam di tangan manager rumah makan.


"Baiklah, ini sudah cukup! Tapi ... kau harus memecat wanita itu!."


"Seperti yang kau inginkan anak muda." manager itu melirik penjaga yang berdiri di dekatnya.dan memberinya perintah.


Setelah penjaga itu membawa keluar tubuh resepsionis wanita yang tidak sadarkan diri, Kai berbalik untuk mengajak teman-temannya dan dua tetua untuk makan di tempat VIP.


Setelah Kai dan kelompoknya naik keatas, tekanan yang di rasakan oleh manager rumah makan juga ikut menghilang.


"Haa ... aku cukup beruntung bisa keluar hidup-hidup di situasi tadi. Tapi ... siapa sebenarnya pria itu, mengapa sekete menangah memiliki orang kuat sepertinya."


"Hmm, kurasa aku harus memberitahukan kabar ini pada tuan."


Manager itu berbalik dan berjalan naik kembali ke ruangannya.


Sementara itu di ruangan VIP rumah makan, Kai duduk di sebuah kursi yang begitu nyman di sana.


Dia tanpa malu memesan banyak makanan dan juga dua kendi arak yang paling enak di rumah makan.


"Umm, saudara ... bukankah memprovokasi mereka itu sedikit–..."


Saat Mo Kun hendak mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya, tatapan tajam dari Zhukai membuatnya berhenti berbicara.


"Siapa peduli dengan mereka. Ingat ini! di masa depan, jangan biarkan seorangpun berani menghina sekte tujuh pedang. Bahkan jika itu kaisar sekalipun."


Pernyataan Zhukai seketika membuat suasana di dalam ruangan itu menjadi tegang.


"Apa! apa ada yang salah dengan ucapan ku?"


Mereka semua menggeleng sambil tersenyum dengan canggung, "T–Tidak, aku pasti akan mengingat apa yang saudara Kai katakan!."


Setelah menghabiskan satu malam di rumah makan, Kai dan kelompoknya kembali ke Akademi Fangxuan tepat saat fajar tiba.


"Hoaamm... Aku benar-benar puas setelah menghabiskan banyak makanan tadi malam." Yang Fan berkata sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku.


Sementara itu, Chen Xia yang minum terlalu banyak tadi malam terus menerus muntah sepanjang jalan menuju Akademi Fangxuan.


"K–Kalian pergi ke halaman akademi terlebih dulu, aku akan pergi beristirahat sebent– Hoeekk..."


Merasakan bahwa dia tidak tahan lagi untuk memuntahkan isi perutnya, dia segera berlari ke sebuah kamar yang ia pesan begitu tiba di Kota Fangxuan.


Sementara itu, tetua wanita yang datang bersama nya segera berjalan menuju ke halaman akademi bersama dengan Kai dan yang lain.


Ketika mereka sampai di sana, tetua wanita bersama dengan kelima perwakilan yang telah tereliminasi menatap Kai sambil berkata.


"Kami berharap banyak kepadamu ... saudara.."


Melihat tatapan penuh harapan dari mereka semua, Kai bisa merasakan kehangatan mengalir kedalam tubuhnya.


Dia tersenyum lembut sambil berkata, "Baiklah, aku pasti akan memenangkan kompetisi kali ini."


Begitu dia menyelesaikan kalimatnya, Kai berbalik dan berjalan menuju ke sebuah arena yang melayang di atas halaman.


Tidak seperti kemarin, sekarang hanya terdapat satu area saja di mana di sana ada puluhan jenius di ranah God of Destiny.


"Tiga teratas dari berbagai grup, silakan datang kesini."


Atas panggilan seorang tetua agung Akademi Fangxuan, Zhukai beserta keempat belas jenius dari berbagai sekte segera terbang menuju ke atas arena.


Saat mereka semua berdiri di sekitar arena, tetua itu menatap kearah mereka semua dengan senyum di wajahnya.


Tapi kemudian tetua agung itu menatap kearah Zhukai dengan tatapan penuh kecurigaan.


"Ini aneh sekali, dia hanya berada di tahap Holy God Venerable. Tapi bagaimana dia bisa bertahan sampai babak ketiga?"


"Hmm, mari kita lihat apakah dia masih bisa bertahan atau tidak kali ini."


Tetua agung melemparkan lima belas token kayu yang masing-masing dari token itu terbang ke setiap peserta yang ada.


"Aku yang akan menjadi pengawas dalam babak ketiga ini. Jadi jangan pernah berpikir untuk berbuat curang atau kau akan mendapatkan konsekuensi yang buruk."


Dalam ucapan terakhirnya, tetua agung sedikit mengeluarkan tekanannya sebagai seorang ahli di ranah Divine Lord.


Meskipun Kai memiliki tubuh kaisar abadi dan fisik Asura, dia masih sedikit kesulitan untuk menahan tekanan itu secara langsung.


Berbeda dengannya, keempat belas peserta yang lain berlutut karena tidak kuat menahan tekanan kuat dari tetua agung.


"Tidak mungkin!! seorang Holy God Venerable bisa menahan tekananku? a–apakah dia seorang monster!."


Sambil berpikir untuk waktu yang cukup lama, tetua agung berdeham kemudian memulai jalannya pertandingan pertama di babak ketiga.


Itu adalah pertarungan dari dua sekte besar. Yang satu memiliki kelebihan dalam kekuatan sedangkan yang lain memiliki kelebihan dalam kecepatan.


Hasilnya bisa di perkirakan dengan jelas, seorang perwakilan sekte yang mengandalkan kecepatannya kalah kurang dari satu dupa.


Setelah pertandingan yang terbilang cukup singkat itu, pertandingan berikutnya adalah waktu bagi Han Shen untuk tampil di depan semua orang.


"Han Shen dari sekte ilahi melawan Lan Chen dari sekte pedang guntur."


Begitu kedua orang itu naik keatas arena, Han Shen tersenyum sambil berkata dengan suara keras.


"Kudengar sekte pedang guntur menghasilkan seorang jenius di ranah God of Destiny. Aku harap kau tidak mengecewakanku..."


Han Shen menarik pedangnya kemudian mengambil kuda-kuda dengan aliran Qi di sekitarnya.


Sementara itu, Lan Chen yang minat Han Shen sudah siap untuk menyerangnya mengerutkan keningnya dengan kesal.


"Sialan!! Kenapa aku harus bertemu dengannya saat ini!. Meskipun aku telah mencapai terobosan dua hari yang lalu, tapi kekuatan itu belum cukup untuk mengalahkannya."


Lan Chen terus memutar otaknya untuk


mencari cara agar bisa lolos dari pertandingan itu tanpa terluka.


"Ha, ini memang sedikit memalukan tapi..."


Tepat saat tetua agung memulai jalannya pertandingan, Lan Chen tiba-tiba menghancurkan token nya sambil berkata.


"Aku menyerah..."


Para peserta yang melihat itu cukup terkejut sambil mengejek Lan Chen yang terlalu pengecut.


"Tch, bagaimana dia bisa lolos hingga babak ini. Sungguh memalukan!."


"Sekte pedang guntur? apakah kalian pernah mendengarnya?"


"Tidak, kurasa itu sekte menengah yang baru-baru ini di promosikan menjadi sekte besar."


Mendengar semua penghinaan itu, Lan Chen menggertakkan giginya sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Sialan!! tunggu saja, begitu aku berhasil menguasai teknik yang guru ajarkan padaku, aku pasti akan membalas semua ini."


Dengan wajah penuh dengan kemarahan, Lan Chen turun dari arena dan kembali ke ruangan dimana sektenya berada.


****


Bersambung...


.