Return Of Shura Demon

Return Of Shura Demon
Lin Lin


Saat Mei Yan mengeluarkan auranya yang berwarna biru cerah, Nalan Ruyue merasakan gelombang angin besar yang membuatnya terdorong mundur beberapa langkah.


"Sungguh tekanan yang sangat kuat, jika bukan karena senior Zhukai yang membuat ku menerobos. Aku pasti tidak akan kuat menahan ini."


Saat Nalan Ruyue menatap lurus, sosok Mei Yan telah menghilang dari pandangannya.


"Dimana dia!!..."


Saat Nalan Ruyue mencoba mencarinya menggunakan persepsi nya, sebuah pukulan tepat mengenai punggungnya dan membuatnya terbang.


"Ruyue!!!..."


Mo Kun berteriak khawatir melihat Nalan Ruyue di kirim terbang dalam satu pukulan itu.


"Ha! Ha! Ha!!..."


Nalan Ruyue kembali berdiri dan menyeka darah di bibirnya. Dia menatap Mei Yan kemudian tersenyum.


"Itu sakit, sialan!!..."


Swosshh!!!


Nalan Ruyue melesat, dia memusatkan energi spiritual nya kedalam telapak tangannya.


Melihat itu, Mei Yan ikut tersenyum kemudian melesat dengan mengepalkan salah satu tangannya.


"Rasakan ini!!..."


Boommm!!


Ledakan mengirim Nalan Ruyue menjauh puluhan meter sedangkan Mei Yan hanya terhempas sejauh tiga meter.


Melihat itu, semua orang bisa mengetahui bahwa Mei Yan jauh lebih unggul di bandingkan dengan Nalan Ruyue.


Entah itu dalam hal kecepatan ataupun kekuatan, Mei Yan masih lebih kuat.


"Ha! Ha! Ha!!."


Nalan Ruyue menghela nafas panjang sambil kembali menyeka darah di bibirnya.


"Hehe, itu tidak terlalu sakit!! Ayo lanjutkan ini!!.."


Mei Yan menatap Nalan Ruyue kemudian menyeringai lebar. "Wanita gila! Baiklah, akan ku turuti apa yang kau inginkan.."


Setelahnya, Nalan Ruyue dan Mei Yan terus menerus melakukan hal yang sama.


Hingga setelah mereka berdua melalui banyak sekali adu pukul, Zi Suyuan tersenyum kagum pada Nalan Ruyue.


"Siapa gadis ini? dia sangat luar biasa."


"Ah, apa ibu tertarik padanya? lalu bagaimana dengan Mei Yan?" Zi Lin Yue yang mendengar ibunya memuji seseorang cukup terkejut.


Setelah kematian ayah mereka, Zi Suyuan menjadi sangat tertutup dan hanya menunjukkan senyumannya pada kedua putrinya.


"Mei Yan? hmm, dia memang jenius. Tetapi jika di bandingkan dengan gadis itu, Mei Yan masih sedikit berada di bawahnya." jawab Zi Suyuan.


"Lalu, siapa yang menurut ibu akan memenangkan pertandingan ini?"


"Kau akan tahu sebentar lagi.."


Di atas arena, Mei Yan kembali berdiri dengan lengan kanannya yang dipenuhi dengan darah.


Dia menarik nafas dengan cukup dalam kemudian menatap Nalan Ruyue dengan senyum di wajahnya.


"Kamu membuatku terkejut, Nalan Ruyue! setelah turnamen ini berakhir mari berteman." ujar Mei Yan.


"Ya, aku juga ingin berteman denganmu."


Setelah kedua wanita itu selesai dengan ucapan mereka, kedua wanita itu melesat satu sama lain dan menaruh seluruh energi spiritual yang tersisa dalam satu serangan ini.


"Mari akhiri ini!! Hyaa!."


Swosshh!!


Boommm!!


Saat kedua pukulan itu saling berbenturan, ledakan besar membuat arena bergetar.


Kabut asap menyelimuti seluruh arena sehingga menutupi apa yang terjadi di sana.


Ketika kabut asap itu menghilang, terlihat dua orang gadis tergeletak di atas lantai arena yang retak.


Melihat itu, tetua Klan Zi segera menyuruh seseorang untuk membawa kedua gadis ini pergi untuk melakukan perawatan.


"Pertandingan pertama di babak terakhir berakhir seri!."


Setelah mengucapkan itu, tetua Klan Zi memanggil dua nama keatas panggung.


Mereka berdua adalah Lu Xiao dan seorang perwakilan dari tanah naga, Ye Jia.


Begitu pertandingan di mulai, Ye Jia menghunuskan pedangnya dan mengeluarkan energi spiritual nya yang tajam.


"Apa kau meremehkan ku!? dimana senjatamu." ucap Ye Jia dengan wajah marah.


Dia menatap Lu Xiao dengan tajam, dia benar-benar membencinya karena sikap sombong yang di tunjukkan.


"Senjata? untuk melawanmu? hahahaha... apa kau bercanda!!.."


Pada kalimat terakhirnya, Lu Xiao memasukkan tekanannya dan membuat tubuh Ye Jia bergetar.


"Tch, bagaimana aku bisa di tekan hanya dengan kata-kata!!" Ye Jia berkata pada dirinya sendiri.


Dia kemudian melesat sambil mengalirkan banyak Qi kedalam pedang di tangannya.


"Membusuklah bajingan!!.."


Saat Te Jia menyerang kearahnya, Lu Xiao menyeringai sambil mengangkat satu jarinya.


"Jari surgawi!!.."


Jari itu mengeluarkan cahaya emas yang sangat terang. Ketika jari Lu Xiao dan serangan Ye Jia saling berbenturan. Ledakan besar terjadi di atas arena.


Tubuh Ye Jia tergeletak di atas tanah dengan seluruh tulang nya remuk dan organ dalamnya menderita luka yang cukup parah.


Saat semua orang melihatnya, ekspresi terkejut dan kegembiraan memenuhi wajah mereka.


"Whooaa... Tidak sia-sia aku mempertaruhkan seluruh hartaku untuk Lu Xiao. Dengan kekuatannya, dia pasti akan memenangkan turnamen ini."


Saat tetua Klan Zi mengumumkan nama Lu Xiao. Dia segera kembali ke ruang tunggu sambil menatap Mo Kun dengan senyuman penghinaan.


"Sebaiknya kau segera menyerah jika tidak ingin mengalami hal yang sama sepertinya." ejek Lu Xiao.


Tanpa di duga, Mo Kun sama sekali mengabaikannya dan memfokuskan pikirannya untuk lebih memahami tentang jiwa pedangnya.


Sementara itu, di tribun penonton Zhukai menyentuh dagunya sambil tersenyum.


"Itu keterampilan yang sangat kuat, sayangnya ... dia terlalu arogan hanya bermodalkan keterampilan seperti itu."


Saat Zhukai hendak memejamkan matanya, tiba-tiba seseorang menarik kerah pakaiannya dan membuatnya terkejut.


"Eh, siapa–..."


Saat Zhukai menatap kebelakang, itu adalah seorang gadis kecil dengan pakaian sederhana.


Dia menatap Zhukai dengan mata berbinar-binar seolah telah menemukan sesuatu yang telah dia cari selama ini.


"Gadis ini!! sejak kapan dia berada di belakangku." ucap Kai dalam hatinya.


Meskipun dia sedikit menurunkan kewaspadaannya tetapi tidak mungkin seseorang bisa lolos dan berhasil mendekatinya sedekat itu.


Menghela nafas, Kai tersenyum kemudian berkata. "Gadis kecil, apakah kamu tersesat? di mana kedua orang tuamu?"


Gadis kecil itu memiringkan kepalanya seolah tidak tahu apa yang Kai tanyakan. Tetapi beberapa saat kemudian, dia membuka mulutnya dan berkata.


"Kakak, baumu sangat enak. Biarkan Lin Lin mencium tubuhmu." ucap gadis itu sambil tersenyum.


"Eh, tapi aku bahkan tidak mengenalmu bagaimana kamu bisa membuat permintaan seperti itu pada seseorang yang tidak kamu kenal gadis kecil."


Mendengar itu, gadis kecil itu menundukkan kepalanya dengan wajah sedih.


"Jadi tidak bisa ya ... maaf kakak, Lin Lin akan segera pergi." gadis kecil itu berkata pelan kemudian berbalik dan berjalan pergi.


Sebelum gadis itu pergi terlalu jauh, Kai berdiri kemudian memanggilnya.


"Gadis kecil, tunggu!!"


"Ada apa kakak?" gadis kecil itu berbalik dan bertanya.


"Siapa namamu?"


"Nama? ... aku tidak tahu, tetapi orang itu memanggilku Lin Lin." jawab gadis kecil itu.


"Orang itu? siapa dia, apakah itu orang tuamu?"


"Dia, aahhhh...."


Saat gadis kecil itu mencoba untuk mengingat nya, dia merasakan kepalanya sangat sakit seperti tertusuk ribuan jarum tajam.


Dia akhirnya berteriak karena tidak kuat menahan rasa sakit itu.


Kai yang melihatnya sangat terkejut dan segera memeluknya dan memberikan true energi nya untuk membuat rasa sakit itu menghilang.


Setelah rasa sakit yang di rasakan gadis kecil itu menghilang, dia kehilangan kesadaran dirinya di pelukan Zhukai.


****


Bersambung...